MANGO LO SEBAGAI HARI BEKERJA DIKAMPUNG PEDEMUN ONE-ONE (STUDI RITUAL INTERAKSI DALAM PRAKTIK MANGAN LO) | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

MANGO LO SEBAGAI HARI BEKERJA DIKAMPUNG PEDEMUN ONE-ONE (STUDI RITUAL INTERAKSI DALAM PRAKTIK MANGAN LO)


Pengarang

AINAL MARDIYAH - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Zulfan - 196107081989101001 - Dosen Pembimbing I
Firdaus Mirza Nusuary - 198610162019031009 - Dosen Pembimbing II
Yuva Ayuning Anjar - 199301082019032020 - Penguji
Fadlan Barakah - 199008092022031003 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

1710101010045

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Sosiologi (S1) / PDDIKTI : 69201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Imu Sosial dan Politik., 2023

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Istilah Mango lo secara sederhana dapat diterjemahkan “mango” (munentun) yang artinya makan dan “lo” yang artinya hari. Maka mango lo merupakan hari untuk bekerja. Istilah mango lo dikenal masyarakat gayo sudah sejak lama, karena mango lo telah menjadi kebiasaan dari nenek moyang suku gayo, dilakukan secara turun-temurun dan melekat pada masyarakat gayo hingga saat ini. Jadi secara umum defenisi mango lo merupakan sistem pekerjaan yang dilakukan secara gotong royong, didasari oleh kesepakatan bersama untuk melakukan pekerjaan yang hampir sejenis dan hanya terjadi setahun sekali pada musim sawah. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui bagaimana proses yang dilalui seseorang atau kelompok masyarakat dalam membangun interaksi mereka di dalam masyarakat pedemun. Penelitian ini menggunakan teori ritual interaksi Randall Collins. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan lapangan (field research). Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa dalam proses Mango lo, mango lo mempunyai tiga turunan, yaitu; mangan lo, mangan ongkosen dan belat. Ketiga turunan ini yaitu mangan lo yang dikerjakan oleh kaum wanita dan berbentuk pekerjaan balas jasa atau saling menguntungkan dalam mengelola lahan pertanian, mangan ongkosen yang dikerjakan oleh kaum wanita yang tidak memiliki lahan pertanian pribadi atau bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan menghasilkan uang dari pekerjaan mangan ongkosen ini, dan belat yaitu pekerjaan yang dilakukan oleh kaum pria yang menggunakan sistem mangan lo dan mangan ongkosen, atau bisa dibayar menggunakan tenaga atau balas jasa dan dibayar menggunakan uang. Makna tersebut penting bagi mereka para pekerja mango lo yang mendasari tindakan mengenai apa yang akan dilakukan demi memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarganya. Kemudian dalam proses implus emosional yang terdapat dalam ritual interaksi memberikan dampak yang baik dalam sebuah proses mango lo. Pemahaman emosional yang baik tampak bagaimana mereka mampu mengenal diri dan orang lain mengenal mereka sesuai interaksi yang mereka ciptakan. Kesadaran akan kontrol diri terlihat dalam proses emosional masyarakat. Masyarakat menyadari bahwa mereka objek dalam emosional itu sendiri. Dalam proses bermasyarakat, mereka mampu menjaga batasan-batasan terhadap apa yang ditampilkan dalam ritual interaksi bermasyarakat di desa pedemun. Masyarakat menyesuaikan tindakan dengan ekspektasi yang mereka inginkan pada lahan persawahannya. Namun meskipun ada penyesuaian dengan kelompok kerja lainnya tetapi tidak ada pengaruh masyarakat dalam menentukan emosional pada pekerjaan seperti apa yang mereka inginkan.
Kata Kunci: Mango lo, mangan lo, mangan ongkosen, belat, ritual interaksi, emosional

The term "mango lo" can simply be translated as "mango" (munentun) which means "to eat" and "lo" which means "day". Then please have a day for work. The term mango lo has been known by the Gayo people for a long time because mango lo is a habit of the Gaio tribe's ancestors which has been passed down from generation to generation and is still attached to the Gayo people. So, in general the notion of mango lo is a work system that is carried out in mutual cooperation, on the basis of a mutual agreement to do almost the same work, and it is done only once a year during the rice field season. This study aims to explain the process that a person or group of people goes through in building their interactions in rural communities. This study uses the interaction ritual theory of Randall Collins. This study used a qualitative method with a field research approach. Data collection methods used include interviews, observation and documentation. Based on the results and discussion found in this study, it appears that in the process of making mango lo, mango lo has three derivatives namely; mangan lo, mangan ongkosen and belat. The three derivatives are mangan lo which is carried out by women in the form of remuneration or mutually beneficial work in managing agricultural land, mangan ongkosen which is carried out by women who do not have private agricultural land or who work to make ends meet. family for money. from mangan ongkosen, mangan ongkosen, work, and belat, namely work done by people who use the lo and mangan ongkosen fee system, or can be paid for the use of labor or wages and paid for the use of money. This value is important for the Mango lo workers who base their actions on what will be done to meet their needs and the needs of their families. Then in the process of emotional encouragement contained in the interaction ritual, the mango lo process has a good influence. Good emotional understanding shows how they can know themselves and others know them according to the interactions they create. Awareness of self-control is manifested in the emotional processes of people. People are aware that they themselves are emotional objects. In the process of socialization they are able to maintain the boundaries of what is displayed in the social interaction rituals in the pedemun village. People adjust their actions according to the expectations they want in their rice fields. However, despite adjustments to other work groups, society has no influence in determining the kind of emotional work they desire. Keywords: Mango lo, mangan lo, mangan ongkosen, belat, interaction ritual, emotion

Citation



    SERVICES DESK