<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="111468">
 <titleInfo>
  <title>MANGO LO SEBAGAI HARI BEKERJA DIKAMPUNG PEDEMUN ONE-ONE  (STUDI RITUAL INTERAKSI DALAM PRAKTIK MANGAN LO)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>AINAL MARDIYAH</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Imu Sosial dan Politik</publisher>
   <dateIssued>2023</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Istilah  Mango  lo  secara  sederhana  dapat  diterjemahkan  “mango”  (munentun)  yang artinya  makan  dan  “lo”  yang  artinya  hari.  Maka  mango  lo  merupakan    hari  untuk bekerja.  Istilah  mango  lo  dikenal  masyarakat  gayo  sudah  sejak  lama,  karena  mango  lo telah menjadi kebiasaan dari nenek moyang suku gayo, dilakukan secara turun-temurun dan melekat pada masyarakat gayo hingga saat ini. Jadi secara umum defenisi mango lo merupakan  sistem  pekerjaan  yang  dilakukan  secara  gotong  royong,  didasari  oleh kesepakatan bersama untuk melakukan pekerjaan yang hampir sejenis dan hanya terjadi setahun  sekali  pada  musim  sawah.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  untuk  mengetahui bagaimana proses yang dilalui seseorang atau kelompok masyarakat dalam membangun interaksi mereka di dalam masyarakat pedemun. Penelitian ini menggunakan teori ritual interaksi  Randall  Collins.  Penelitian  ini  menggunakan  metode  kualitatif  dengan pendekatan lapangan  (field research). Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan  wawancara,  observasi  dan  dokumentasi.  Berdasarkan  hasil  dan  pembahasan yang  ditemukan  dalam  penelitian  ini  menunjukkan  bahwa  dalam  proses  Mango  lo, mango  lo  mempunyai  tiga  turunan,  yaitu;  mangan  lo,  mangan  ongkosen  dan  belat. Ketiga  turunan  ini  yaitu  mangan  lo  yang  dikerjakan  oleh  kaum  wanita  dan  berbentuk pekerjaan  balas  jasa  atau  saling  menguntungkan  dalam  mengelola  lahan  pertanian, mangan  ongkosen  yang  dikerjakan  oleh  kaum  wanita  yang  tidak  memiliki  lahan pertanian  pribadi  atau  bekerja  untuk  memenuhi  kebutuhan  keluarga  dengan menghasilkan uang dari pekerjaan mangan ongkosen ini, dan belat yaitu pekerjaan yang dilakukan oleh kaum pria yang menggunakan sistem mangan lo dan mangan ongkosen, atau bisa dibayar menggunakan tenaga atau balas jasa dan dibayar menggunakan uang. Makna  tersebut  penting  bagi  mereka  para  pekerja  mango  lo  yang  mendasari  tindakan mengenai  apa  yang  akan  dilakukan  demi  memenuhi  kebutuhan  hidup  mereka  dan keluarganya.  Kemudian  dalam  proses  implus  emosional  yang  terdapat  dalam  ritual interaksi  memberikan  dampak  yang  baik  dalam  sebuah  proses  mango  lo.  Pemahaman emosional  yang  baik  tampak  bagaimana  mereka  mampu  mengenal  diri  dan  orang  lain mengenal  mereka  sesuai  interaksi  yang  mereka  ciptakan.  Kesadaran  akan  kontrol  diri terlihat  dalam  proses  emosional  masyarakat.  Masyarakat  menyadari  bahwa  mereka objek  dalam  emosional  itu  sendiri.  Dalam  proses  bermasyarakat,  mereka  mampu menjaga  batasan-batasan  terhadap  apa  yang  ditampilkan  dalam  ritual  interaksi bermasyarakat di desa pedemun. Masyarakat menyesuaikan tindakan dengan ekspektasi yang  mereka  inginkan  pada  lahan  persawahannya.  Namun  meskipun  ada  penyesuaian dengan  kelompok  kerja  lainnya  tetapi  tidak  ada  pengaruh  masyarakat  dalam menentukan emosional pada pekerjaan seperti apa yang mereka inginkan. &#13;
Kata Kunci: Mango lo, mangan lo, mangan ongkosen, belat, ritual interaksi, emosional</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>111468</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-06-19 16:42:58</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-06-20 10:07:32</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>