<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="109940">
 <titleInfo>
  <title>ETNOBOTANI, VARIASI GENETIK INTRASPESIES DAN PROSPEK PENGEMBANGAN FITOFARMAKA ETLINGERA ELATIOR (JACK) R.M.SM DI ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Saudah</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pasca Sarjana</publisher>
   <dateIssued>2023</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Etlingera elatior (bak kala) dikenal sebagai tumbuhan rempah yang digunakan oleh masyarakat suku Aceh sebagai bahan makanan dan obat tradisional. Tumbuhan ini memiliki manfaat yang banyak dari fitokimianya serta berpotensi dikembangkan sebagai agen farmakologi. Meskipun demikian, informasi rinci tentang penggunaan E. elatior di kalangan masyarakat suku Aceh masih kurang tersedia. Informasi terkait kandungan metabolit sekunder dan aktivitas antioksidan serta aktivitas antikanker dari E. elatior yang tumbuh di lokasi geografis berbeda belum pernah dilaporkan, demikian juga dengan data keragaman genetik E. elatior. Penelitian bertujuan mengeksplorasi pengetahuan etnobotani masyarakat suku Aceh tentang pemanfaatan E. elatior untuk makanan dan obat tradisional, menganalisis kandungan senyawa bioaktif dan pengaruhnya terhadap aktivitas antioksidan, menganalisis toksisitas terhadap sel kanker MCF-7 serta menganalisis variasi genetik E. elatior pada level infraspesies berdasarkan marker Inter-Simple Sequence Repeats (ISSR). Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah survey lapangan pra penelitian, wawancara semistruktural terhadap masyarakat, pengumpulan sampel tumbuhan E. elatior, dan analisa laboratorium. Pemilihan responden kunci dengan menggunakan purposive sampling, dan snowball untuk menentukan responden non kunci. Eksplorasi dilakukan pada masyarakat yang mendiami wilayah suku di Provinsi Aceh. Pengambilan sampel dilakukan pada lokasi dengan ketinggian yang berbeda, dataran rendah (&gt;400 m dpl), dataran sedang (400-700 m dpl) dan dataran tinggi (&gt;700 m dpl). Sampel yang diperoleh dari lapangan kemudian diekstraksi dengan menggunakan pelarut etanol untuk selanjutnya dilakukan skirining fitokimia. Kandungan fitokimia yang diperoleh diuji aktivitas antioksidan sebagai antikanker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada masyarakat suku Aceh, suku Gayo, suku Alas, suku Aneuk Jamee, suku Kluet, suku Singkil dan suku Simeulue memanfaatkan tumbuhan E. elatior sebagai makanan dan obat tradisional. Organ bunga, buah, dan batang muda merupakan bagian yang paling banyak digunakan dalam bahan makanan, sedangkan untuk pengobatan tradisional hampir semua bagian dimanfaatkan sebagai obat. Responden laki-laki (135 responden) lebih banyak mengetahui pemanfaatan tumbuhan E. elatior dibandingkan responden perempuan. Tingkatan umur lansia dan dewasa lanjut mempunyai tingkat pengetahuan lebih baik dibandingkan dengan usia dewasa. Skrining fitokimia menunjukkan adanya kandungan fenolik, flavonoid, terpenoid, steroid, tanin dan alkaloid pada setiap bagian tumbuhan E. elatior. Kandungan total fenolik tertinggi terdapat pada ekstrak batang dataran tinggi, bunga dataran tinggi, dan buah dataran rendah dan tinggi, berturut-turut dengan nilai 158,38 GAE/g, 127,30 GAE/g, 250,0 GAE/g dan 126,49 GAE/g. Total kandungan flavonoid tertinggi terdapat pada buah dataran rendah dengan nilai 118,08 QAE/g sedangkan total kandungan tanin tertinggi terdapat pada ekstrak rimpang dataran tinggi dengan nilai 48,71 TAE/gr. Kandungan unsur hara makro tanah bervariasi pada setiap dataran dengan pH tanah netral dan masam. Setiap unsur hara tanah memiliki korelasi terhadap metabolit sekunder yang dihasilkan pada setiap bagian tumbuhan E. elatior untuk ketiga dataran. Ekstrak etanol bagian tumbuhan E. elatior dataran tinggi memiliki aktivitas antioksidan dengan IC50 terkuat pada buah (2,381 µg/mL), daun (19,365 µg/mL) dan batang (6,966 µg/mL). Uji MTT essay ekstrak buah E. elatior dataran tinggi terhadap sel kanker payudara (MCF-7) menunjukkan persen inhibisi tertinggi pada konsentrasi 1000 µg/mL dengan nilai IC50 sebesar 689,006 µg/mL. Karakter molekuler membagi aksesi E. elatior menjadi empat kelompok besar. Hasil analisis variasi molekuler menunjukkan bahwa variasi genetik dalam populasi lebih tinggi (60%) dibandingkan variasi genetik antar populasi (40%). Data keragaman variasi genetik yang tinggi dapat menghasilkan aksesi unggul untuk standarisasi tumbuhan obat. Data ini juga dapat digunakan untuk merencanakan strategi konservasi, pemanfaatan spesies secara optimal, dan program perbaikan tumbuhan di masa depan.&#13;
&#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>ETHNOBOTANY</topic>
 </subject>
 <classification>581.63</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>109940</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-03-29 13:02:31</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-03-30 11:15:56</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>