<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="109507">
 <titleInfo>
  <title>IMPLEMENTASI QANUN ACEH NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG PEMBINAAN KEHIDUPAN ADAT DAN ADAT ISTIADAT TERHADAP TINDAK PIDANA KHALWAT (SUATU PENELITIAN DI WILAYAH HUKUM MAHKAMAH SYARIYAH BIREUEN)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Difa Rahadatul Aisyi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Hukum</publisher>
   <dateIssued>2023</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Tindak pidana khalwat merupakan perselisihan yang diutamakan agar diselesaikan secara adat sebagaimana tertuang pada pasal 13 Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat. Namun penyelesaian khalwat secara adat di Kabupaten Bireuen  masih belum terlaksana. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan alasan penyelesaian tindak pidana khalwat melalui Mahkamah Syar’iyah Bireuen, faktor yang menghambat penyelesaian tindak pidana khalwat secara adat dan upaya dalam meminimalisir terjadinya tindak pidana khalwat. Data primer dalam penulisan artikel ini diperoleh melalui wawancara responden dan informan. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui analisis dari bahan bacaan terkait objek penelitian. Berdasarkan penelitian ini diperoleh alasan khalwat di kabupaten bireuen diselesaikan melalui Mahkmah Syar’iyah Bireuen karena pelaku khalwat merupakan pendatang dan tidak adanya kesepakatan antara pelaku khalwat dengan aparatur gampong, hambatan dalam menyelesaikan khalwat secara adat ialah tidak adanya efek jera dari sanksi adat dan kurangnya pengetahuan adat dari aparatur gampong, serta upaya dalam meminimalisir terjadinya khalwat yakni dengan memperkuat pengawasan oleh pihak gampong dan Wilayatul Hisbah. Disarankan kepada pihak WH agar lebih giat mensosialisasikan peran gampong dalam menyelesaikan tindak pidana khalwat dan bagi aparatur gampong diharapkan agar lebih memahami hukum adat dan tidak emosional dalam menyelesaikan tindak pidana khalwat.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>109507</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-03-17 17:55:55</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-03-20 09:47:17</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>