<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="108022">
 <titleInfo>
  <title>EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KIRINYUH (CHROMOLAENA ODORATA) DENGAN METODE ETHANOL PRECIPITATION PROCESS:</title>
  <subTitle>ANALISIS IN VITRO</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>ELSIS TRIA PUTRI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran Gigi</publisher>
   <dateIssued>2023</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Latar Belakang: Kirinyuh atau Choromolaena odorata merupakan salah satu tumbuhan yang sering digunakan sebagai tanaman herbal yang berfungsi sebagai antibakteri, seperti pada bakteri Staphylococcus aureus dan Porphyromonas gingivalis. Daun C. odorata biasanya diolah dengan metode maserasi sehingga terdapat pelarut pada ekstrak yang mempengaruhi kandungan antibakteri pada ekstrak daun C. odorata. Oleh karena itu, untuk mengurangi pelarut pada ekstrak daun C. odorata, maka dilakukan metode Ethanol Precipitation Process (EPP). Tujuan: Melihat efektivitas antibakteri ekstrak daun C. odorata dengan metode EPP terhadap bakteri S. aureus dan P. gingivalis. Metode: Ekstrak daun C. odorata diencerkan menjadi konsentrasi 2%, 5% dan 8%. Aktivitas antibakteri diuji menjadi 5 kelompok (n = 3) dengan metode difusi cakram dan uji biofilm (24 dan 48 jam). Hasil: Aktivitas antibakteri pada metode difusi cakram hanya terdapat penghambatan pada konsentrasi 2% (2,67 mm = lemah) pada S. aureus saja, sedangkan pada konsentrasi lainnya tidak terbentuk penghambatan baik pada&#13;
S. aureus maupun P. gingivalis. Sedangkan pada uji biofilm, penghambatan pada 24 jam menunjukkan hasil tertinggi pada 23,18% (konsentrasi 5%) pada S. aureus dan 38,82% (konsentrasi 8%) pada P. gingivalis, dan pada 48 jam menunjukkan hasil tertinggi pada 8,19% (konsentrasi 8%) pada S. aureus dan 34,88% (konsentrasi 5%) pada P. gingivalis. Kesimpulan: Efektivitas ekstrak daun C. odorata hanya terlihat pada uji biofilm, sedangkan pada metode difusi cakram tidak. Secara keseluruhan efektivitas antibakteri paling baik pada 24 jam dengan konsentrasi 5% dan 8% pada bakteri gram negatif (P. gingivalis).&#13;
&#13;
Kata kunci: Chromolaena odorata, Staphylococcus aureus, Porphyromonas gingivalis, Biofilm, Antibakteri, Ethanol Precipitation Process.&#13;
 &#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>108022</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-01-05 18:03:29</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-01-06 08:26:35</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>