KAJIAN TINGKAT KERENTANAN SOSIAL DI KECAMATAN TRIENGGADENG PASCA GEMPA BUMI PIDIE JAYA 2016 | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES

KAJIAN TINGKAT KERENTANAN SOSIAL DI KECAMATAN TRIENGGADENG PASCA GEMPA BUMI PIDIE JAYA 2016


Pengarang

Rinaldy Maulidin - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Indra - 196309071990021001 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

1809200140009

Fakultas & Prodi

Fakultas Pasca Sarjana / Ilmu Kebencanaan (S2) / PDDIKTI : 61104

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pasca Sarjana (S2)., 2022

Bahasa

Indonesia

No Classification

303.485

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Sebuah bencana kerap menyebabkan penyintasnya berada pada posisi yang lebih rentan dibanding sebelumnya. Pada peristiwa gempa bumi Pidie Jaya 2016, terdapat lima desa yang mengalami dampak terparah akibat bencana tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerentanan sosial dan menganalisis dinamika perubahan kerentanan sosial pada tingkat Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya dalam kurun waktu 2015-2021. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain yaitu: data sekunder diperoleh melalui Badan Pusat Statistik Pidie Jaya, Disdukcapil, Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah: data primer diperoleh melalui observasi dan pembagian kuesioner. Responden dalam penelitian ini berjumlah 98 orang yang berasal dari masyarakat di lima desa dalam Kecamatan Trienggadeng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kerentanan sosial dalam kurun waktu 2015-2021 yang terdiri dari aspek kepadatan penduduk, rasio jenis kelamin, usia rentan, penduduk miskin, dan disabilitas berada pada kisaran (54,38-267,71) di mana Desa Tampui masuk ke dalam kategori kelas tinggi dengan nilai 267,71, sementara empat desa lainnya seperti: Desa Kuta Pangwa, Meucat Pangwa, Mee Pangwa dan Deah Teumanah, masuk ke dalam kategori kelas rendah dengan nilai masing-masing yaitu: 54,38, 71,09, 84,03, dan 99,95. Dinamika perubahan kerentanan sosial menunjukkan bahwa terjadi peningkatan secara kualitas dan kuantitas pada aspek sanitasi dan akses kesehatan dalam kurun waktu 2015-2021. Adapun aspek-aspek yang teridentifikasi menjadi pemicu kerentanan sosial dalam penelitian ini antara lain: tingkat kemiskinan pada Desa Mee Pangwa dan Deah Teumanah, pengelolaan persampahan pada seluruh desa kajian, dan kepadatan penduduk pada Desa Tampui. Diharapkan kepada Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, baik instansi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial dan Bappeda melakukan kajian pemetaan terkait aspek kerentanan sosial yaitu di lima desa penelitian, terutama masalah kemiskinan, kepadatan penduduk, untuk penanganan persampahan perlu adanya perhatian khusus dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan memperkuat mitigasi bencana sehingga dapat menurunkan risiko bencana pada wilayah (desa) dengan kepadatan penduduk yang tinggi.

A disaster often causes survivors to be in a more vulnerable position than before. During the 2016 Pidie Jaya earthquake, five villages were the worst affected by the disaster. This study aims to determine the level of social vulnerability and to analyze the dynamics of changes in social vulnerability at the Trienggadeng District level, Pidie Jaya Regency in the period 2015-2021. This research uses descriptive quantitative method. The data used in this study include: secondary data obtained through the Pidie Jaya Central Bureau of Statistics, Disdukcapil, the Social Service and the Regional Disaster Management Agency: primary data obtained through observation and distribution of questionnaires. There were 98 respondents in this study who came from communities in five villages within the Trienggadeng District. The results of the study show that the value of social vulnerability in the period 2015-2021 which consists of aspects of population density, sex ratio, vulnerable age, poor population, and disability is in the range (54.38-267.71) where Tampui Village is included in the in the high class category with a score of 267.71, while four other villages such as: Desa Kuta Pangwa, Meucat Pangwa, Mee Pangwa and Deah Teumanah, fall into the low class category with their respective values of: 54.38, 71.09, 84.03, and 99.95. The dynamics of changes in social vulnerability show that there has been an increase in quality and quantity in aspects of sanitation and access to health in the 2015-2021 period. The aspects identified as triggers for social vulnerability in this study include: poverty rates in Mee Pangwa and Deah Teumanah Villages, waste management in all study villages, and population density in Tampui Village. It is hoped that the Pidie Jaya Regency Government, both the Regional Disaster Management Agency (BPBD), the Social Service and Bappeda will carry out a mapping study related to aspects of social vulnerability, namely in the five research villages, especially the problem of poverty, population density, for waste management it needs special attention from the Office Environment (OE) and strengthen disaster mitigation so as to reduce disaster risk in areas (villages) with high population density.

Citation



    SERVICES DESK