PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) UNTUK MENENTUKAN WILAYAH RENTAN STUNTING DI KOTA BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) UNTUK MENENTUKAN WILAYAH RENTAN STUNTING DI KOTA BANDA ACEH


Pengarang

Zahara rumaisya - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Latifah Rahayu Siregar - 198409282015042002 - Dosen Pembimbing I
Edy Fradinata - 196911182017091101 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

1808108010046

Fakultas & Prodi

Fakultas MIPA / Statistika (S1) / PDDIKTI : 49201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas MIPA (S1)., 2022

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Stunting adalah suatu gangguan pertumbuhan akibat malnutrisi yang terjadi pada
anak berusia di bawah lima tahun yang disebabkan oleh kurangnya asupan nutrisi
balita bagi pertumbuhan dan perkembangan serta adanya penyakit infeksi berulang
yang dialami balita. Kota Banda Aceh sebagai ibukota Provinsi Aceh tidak luput dari
permasalahan stunting. Prevalensi stunting di Kota Banda Aceh sebesar 23,4% yang
tergolong medium menurut hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI).
Menentukan wilayah yang rentan terhadap stunting dan faktor-faktor penyebabnya
akan membantu pemerintah untuk mengetahui wilayah/kecamatan yang rentan
terhadap kejadian stunting sehingga dapat dilakukan penanganan dengan cepat dan
tepat. Penentuan dilakukan dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy
Process (AHP) untuk merangkingkan wilayah/kecamatan dengan tingkat kerentanan
stunting tertinggi hingga yang paling rendah. Variabel kriteria yang digunakan
adalah faktor-faktor penyebab stunting dan variabel alternatif yang digunakan adalah
8 kecamatan yang ada di Kota Banda Aceh. Data yang digunakan adalah data hasil
survei Identifikasi Wilayah dan Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Balita
Stunting di Kota Banda Aceh. Hasil yang diperoleh yaitu wilayah/kecamatan dengan
tingkat kerentanan stunting yang tinggi di Kota Banda Aceh adalah Kecamatan
Baiturrahman, Jaya Baru dan Ulee Kareng, wilayah/kecamatan dengan tingkat
kerentan stunting sedang merupakan Kecamatan Syiah Kuala dan Kuta Raja serta
wilayah/kecamatan dengan tingkat kerentanan stunting rendah merupakan
Kecamatan Lueng Bata, Meuraxa dan Kuta Alam. Nilai consistency ratio (CR) matriks
yang diperoleh sebesar 0,013 sehingga matriks yang terbentuk telah konsisten.
Faktor-faktor yang memiliki risiko menyebabkan stunting pada masing-masing
wilayah/kecamatan di Kota Banda Aceh adalah faktor riwayat BBLR dan ASI ekslusif
pada Kecamatan Kuta Raja, faktor riwayat penyakit infeksi pada Kecamatan
Baiturrahman dan Lueng Bata, faktor pola pemberian makan pada Kecamatan Jaya
Baru dan Kuta Alam, faktor sanitasi rumah tangga pada Kecamatan Ulee Kareng dan
Meuraxa dan faktor imunisasi wajib pada Kecamatan Syiah Kuala.
Kata kunci: Stunting, tingkat kerentanan, AHP, kriteria, alternatif, consistency ratio

Stunting is a growth disorder due to malnutrition that occurs in children under five years old caused by a lack of nutritional intake for toddlers for growth and development as well as the presence of recurrent infectious diseases experienced by toddlers. The city of Banda Aceh as the capital of Aceh Province is not free from the problem of stunting. The prevalence of stunting in Banda Aceh is 23.4% which is classified as medium according to the results of the Indonesian Toddler Nutrition Status Survey (SSGBI). Determining areas that are prone to stunting and the factors that cause it will help the government to identify areas/districts with the highest stunting cases so that they can be handled quickly and appropriately. The determination was made using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method to rank the regions/districts with the highest to lowest levels of stunting vulnerability. The criterion variables used are the factors causing stunting and the alternative variables used are 8 subdistricts in Banda Aceh. The data used is the data from the survey of Regional Identification and Factors Related to Stunting in Banda Aceh. The results obtained are that the areas/subdistricts with a high level of stunting vulnerability in Banda Aceh are Baiturrahman, Jaya Baru and Ulee Kareng sub-districts, areas/sub-districts with moderate stunting vulnerability are Syiah Kuala and Kuta Raja sub-districts. The lowest are Lueng Bata, Meuraxa and Kuta Alam sub-districts. The matrix consistency ratio (CR) obtained is 0,013 so that the matrix formed is consistent. Factors that have a risk of causing stunting in each region/district in Banda Aceh are the history of low birth weight and exclusive breastfeeding in the Kuta Raja sub-district, the history of infectious disease in the Baiturrahman and Lueng Bata sub-districts, the feeding pattern factor in the Jaya Baru sub-district. and Kuta Alam, household sanitation factor in Ulee Kareng and Meuraxa sub-districts and mandatory immunization factor in Syiah Kuala sub-district. Keywords: Stunting, vulnerability level, AHP, criteria, alternative, consistency ratio

Citation



    SERVICES DESK