ANALISIS KERAPUHAN BANGUNAN PUBLIK AKIBAT POTENSI BENCANA TSUNAMI DI PULAU KALIMANTAN | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS KERAPUHAN BANGUNAN PUBLIK AKIBAT POTENSI BENCANA TSUNAMI DI PULAU KALIMANTAN


Pengarang

CHAIRUL IRSYAD - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Eldina Fatimah - 196408281989032002 - Dosen Pembimbing I
Syamsidik - 197502251999031001 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

1704101010061

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Teknik Sipil (S1) / PDDIKTI : 22201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik Sipil., 2022

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Pulau Kalimantan merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan tingkat seismisitas rendah. Pulau Kalimantan memiliki jumlah sesar aktif yang jauh lebih sedikit dibandingkan daerah lain di Indonesia. Hal ini menyebabkan jarangnya terjadi tsunami dan gempa. Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur menjadi lokasi yang dipilih dikarenakan adanya Megathrust yang berdekatan. Pemodelan tsunami dilakukan menggunakan peranti lunak COMCOT. Pemodelan COMCOT memerlukan data berupa input fault model dan source pembangkit tsunami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerapuhan bangunan publik yang terpapar bencana tsunami di Pulau Kalimantan. Hasil simulasi berupa kedalaman inundasi (flow depth) yang di overlay dengan peta sebaran bangunan publik, kemudian diklasifikasikan menjadi 5 kondisi kerusakan pada bangunan, diantaranya DS0 (tidak rusak), DS1 (rusak ringan), DS2 (rusak sedang), DS3 dan DS4 (rusak total). Bangunan publik yang menjadi batasan dalam penelitian ini adalah fasilitas kesehatan, Kantor Pemerintahan, dan fasilitas pendidikan yang ada di Pulau Kalimantan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat total 19 bangunan publik berpotensi mengalami kerusakan berdasarkan skenario Tsunami Megathrust Sulawesi Horizontal dengan magnitude maksimum 8,5 Mw. Dari total 19 bangunan yang berpotensi terpapar diantaranya 6 bangunan mengalami rusak total (DS4), 1 bangunan rusak sedang (DS2), 3 bangunan rusak ringan (DS1), dan 9 bangunan hanya mengalami genangan dan tidak rusak (DS0). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman dalam penelitian serupa dan sebagai referensi tingkat kerapuhan bangunan publik akibat bencana tsunami di Pulau Kalimantan.

Kalimantan Island is one of the areas in Indonesia with low seismicity levels. The island of Borneo has a much smaller number of active faults than the rest of Indonesia. This results in rare tsunamis and earthquakes. North Kalimantan and East Kalimantan were chosen because of the proximity of Megathrust. The tsunami modeling was carried out using the COMCOT software. COMCOT modeling requires data in the form of input disturbance models and tsunami generator sources. This study aims to determine the level of vulnerability of public buildings exposed to the tsunami disaster on the island of Borneo. The simulation results are in the form of inundation depth (flow depth) which is overlaid with the distribution map of public buildings, then classified into 5 damage conditions to buildings, including DS0 (not damaged), DS1 (slightly damaged), DS2 (moderate), DS3 and DS4 (total). Public buildings which are the limitations in this study are health facilities, government offices, and educational facilities on the island of Borneo. The results showed that there were a total of 19 public buildings that might be damaged based on the scenario of the Horizontal Sulawesi Megathrust Tsunami with a maximum magnitude of 8.5 Mw. From a total of 19 buildings that may occur, 6 buildings are totally damaged (DS4), 1 is moderately damaged (DS2), 3 buildings are slightly damaged (DS1), and 9 buildings are only damaged and not damaged (DS0). The results of this study are expected to be a guide for similar studies and as a reference for the level of comparison of public buildings due to the tsunami disaster on the island of Kalimantan

Citation



    SERVICES DESK