KAJIAN DISTRIBUSI KARBON TANAH DAN BIOMASSA SERTA ANALISIS INDEKS KUALITAS TANAH PADA BERBAGAI TIPE PENGGUNAAN LAHAN KERING DI KABUPATEN ACEH BESAR | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    DISSERTATION

KAJIAN DISTRIBUSI KARBON TANAH DAN BIOMASSA SERTA ANALISIS INDEKS KUALITAS TANAH PADA BERBAGAI TIPE PENGGUNAAN LAHAN KERING DI KABUPATEN ACEH BESAR


Pengarang

Umar H.A - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Sufardi - 196211171987021001 - Dosen Pembimbing I
Syafruddin - 196801061997031002 - Dosen Pembimbing I
Teti Arabia - 196109141986022001 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

1809300030002

Fakultas & Prodi

Fakultas Pasca Sarjana / Program Doktor Ilmu Pertanian (S3) / PDDIKTI : 54001

Subject
Penerbit

Banda Aceh : Prog. Studi Doktor Ilmu Pertanian., 2022

Bahasa

Indonesia

No Classification

631.422

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Informasi yang akurat mengenai karbon pada suatu tipe vegetasi yang tersimpan dalam biomassa sangat diperlukan untuk menggambarkan kondisi ekosistem suatu vegetasi dalam rangka pengelolaan sumberdaya lahan yang lestari sehingga menguntungkan secara ekonomi dan ekologi. Informasi ini juga sangat penting sebagai komponen dasar dalam perhitungan dan pemantauan karbon nasional yang merupakan input utama untuk mengembangkan strategi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK), terutama CO2 dari sektor lahan. Penelitian ini mengkaji tentang potensi dan distribusi karbon tanah dan estimasi biomassa dan kandungan karbon tanaman serta indeks kualitas tanah pada berbagai tipe penggunaan lahan kering di Kabupaten Aceh Besar yaitu hutan primer, hutan sekunder, hutan pinus, hutan eukaliptus, hutan jati, semak hutan, semak belukar, padang alang-alang, kebun campuran, tegalan, sawah tadah hujan dan lahan terbuka.
Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh, Indonesia dengan luas lahan kering 239.439,63 ha. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif yang didasarkan pada hasil survai dan pengamatan lapangan serta analisis laboratorium. Pengamatan lapangan bertujuan untuk pengambilan sampel tanah pada berbagai kedalaman untuk analisis karbon dan bobot isi (bulk density), pengukuran dan pengambilan sampel biomassa vegetasi dan pengambilan sampel tanah untuk analisis indikator kualitas tanah untuk penentuan kualitas tanah. Analisis laboratorium bertujuan untuk menentukan karbon tanah, biomassa karbon dan kualitas tanah. Pengambilan sampel tanah di gabung pada 12 tipe penggunaan lahan (TPL) kering di Kabupaten Aceh Besar.
Analisis karbon tanah (soil carbon) dilakukan dengan menggunakan metode Walkley and Black yang telah dimodifikasi oleh Wang et al. (2012), yaitu sampel tanah (0,4 g) didestruksi dengan 5 ml H2SO4 pekat selama 4 jam, kemudian dicampur dengan 5 ml larutan 0,5 M K2Cr2O7. Campuran ini selanjutnya dipanaskan di atas penangas pasir selama 5 menit pada temperatur 150 - 1600C, dan kemudian didinginkan pada suhu kamar. Larutannya ditransfer ke dalam labu ukur dan ditambah dengan 100 ml air deionisasi. Konsentrasi K2Cr2O7 yang tidak bereaksi ditentukan melalui titrasi dengan larutan 0,25 M FeSO4. Kandungan karbon organik dihitung dari selisih terhadap jumlah volume larutan FeSO4 yang terpakai sampel dengan yang digunakan untuk blangko (tanpa tanah). Besarnya kandungan karbon yang terdapat di dalam tanah yaitu dengan mengalikan beberapa parameter yang diamati. Perhitungan densitas karbon tanah dilakukan dengan menggunakan rumus berikut (SNI, 2011). Teknik pengukuran dan pengambilan sampel biomassa menggunakan metode yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Indonesia (BSN) Tahun 2011 dengan nomor: SNI 7724:2011. Analisis Indeks kualitas tanah menggunakan metode Mausbach dan Seybold (1998) yang dimodifikasi oleh Partoyo (2005).
Hasil penelitian menunjukkan terdapat variasi kandungan dan distribusi karbon tanah pada berbagai TPL lahan kering di Kabupaten Aceh Besar. Potensi karbon tanah yang tertinggi terdapat pada TPL hutan primer (336,28 ton ha-1) sedangkan yang terendah pada TPL lahan terbuka (73,78 ton ha-1). Distribusi karbon tanah tertinggi pada TPL hutan primer 8,2% pada lapisan 5-10 cm.




Terdapat variasi nilai biomassa, potensi biomassa, jumlah karbon biomassa dan penyerapan CO2 pada berbagai TPL kering di Kabupaten Aceh Besar. Potensi biomassa dan karbon biomassa tertinggi terdapat pada TPL hutan adalah TPL hutan primer, sedangkan potensi biomassa dan karbon biomassa tertinggi terdapat pada TPL non hutan terdapat pada TPL kebun campuran. Potensi penyerapan CO2 tertinggi pada TPL hutan terdapat pada TPL hutan primer, sedangkan potensi penyerapan CO2 tertinggi pada TPL non hutan terdapat pada TPL kebun campuran. Terdapat variasi IKT pada TPL kering di Kabupaten Aceh Besar. Kualitas tanah di pada lahan kering di Aceh Besar berdasarkan indeks kualitas (IKT) relatif masih cukup baik yaitu tergolong sedang hingga baik dengan nilai IKT berkisar dari 0,4252 sampai 0,7313.

Accurate information about carbon in a vegetation type stored in biomass is needed to describe the condition of a vegetation ecosystem in the context of sustainable land resource management so that it is economically and ecologically profitable. This information is also very important as a basic component in the calculation and monitoring of national carbon which is the main input for developing a strategy for reducing greenhouse gas (GHG) emissions, especially CO2 from the land sector. This study examines the potential and distribution of soil carbon and estimates of plant biomass and carbon content as well as soil quality index on various types of dry land use in Aceh Besar District namely primary forest, secondary forest, pine forest, eucalyptus forest, teak forest, forest bush, shrubs, grassland, mixed gardens, moor, rainfed rice fields, and bare land. This research was conducted in Aceh Besar District, Aceh Province (Indonesia) with a dry land area of 239,439.63 ha. This research was conducted using a descriptive method based on the results of surveys and field observations and laboratory analysis. Field observations aimed at taking soil samples at various depths for analysis of carbon and bulk density, measuring and sampling vegetation biomass, and taking soil samples for analysis of soil quality indicators to determine soil quality. Laboratory analysis aims to determine soil carbon, carbon biomass, and soil quality. Soil sampling was combined with 12 types of dry land use in Aceh Besar District. Soil carbon analysis was carried out using the Walkley and Black method which was modified by Wang et al. (2012), the soil sample (0.4 g) was digested with 5 ml of concentrated H2SO4 for 4 hours, then mixed with 5 ml of a solution of 0.5 M K2Cr2O7. This mixture was then heated on a sand bath for 5 minutes at a temperature of 150 – 160 0C, and then cooled to room temperature. The solution was transferred to a volumetric flask and added with 100 ml of deionized water. The concentration of unreacted K2Cr2O7 was determined by titration with a 0.25 M FeSO4 solution. Organic carbon content is calculated from the difference between the volume of FeSO4 solution used by the sample and that used for the blank (without soil). The amount of carbon contained in the soil is by multiplying several observed parameters. Calculation of soil carbon density is carried out using the following formula (SNI, 2011). The technique of measuring and taking biomass samples uses the method developed by the Indonesian National Standards Agency (BSN) in 2011 with the number: SNI 7724:2011. Analysis of soil quality index has used the method of Mausbach and Seybold (1998) modified by Partoyo (2005). The results showed that there were variations in soil carbon content and distribution in various land use types (LUT) of dryland in Aceh Besar District. The highest soil carbon potential was found in primary forest LUT (336.28 ton ha-1) while the lowest was in bare lands LUT (73.78 ton ha-1). The highest soil carbon distribution was in primary forest LUT 8.2% at 5-10 cm layer. iii There are variations in the value of biomass, biomass potential, amount of biomass carbon, and CO2 absorption in various dryland use types (LUTs) in Aceh Besar District. The highest potential of biomass and biomass carbon was found in the forest LUT is the primary forest, while the highest potential for biomass and biomass carbon was found in the non-forest LUT was found in the mixed garden. The highest potential for CO2 absorption in forest LUT was found in primary forest, while the highest potential for CO2 absorption in non-forest LUT was found in mixed garden LUT. There was a variation of soil quality index (SQI) in dryland in Aceh Besar District. Soil quality on dryland in Aceh Besar based on SQI was still relatively good, which was classified as moderate to good with SQI values ranging from 0.4252 to 0.7313.

Citation



    SERVICES DESK