<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="105999">
 <titleInfo>
  <title>KARAKTER FENOTIPE DAN GENOTIPE PADI HASIL PERSILANGAN VARIETAS LOKAL DAN VARIETAS INTRODUKSI</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Muhammad Jalil</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Program Studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2022</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Padi lokal merupakan plasma nutfah potensial sebagai sumber gen yang dapat mengendalikan sifat-sifat penting pada tanaman padi. Keragaman genetik padi lokal dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan tanaman. Propinsi Aceh memiliki banyak plasma nutfah padi lokal yang tersebar hampir diseluruh kabupaten. Beberapa plasma nutfah padi lokal Aceh memiliki ciri populer seperti aroma harum, tekstur nasi dan pulen. Selain itu, plasma nutfah padi lokal memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap cekaman lingkungan. Sumberdaya genetik padi lokal dapat dimanfaatkan untuk perakitan varietas baru sebagai upaya untuk menghadapi perubahan iklim, permintaan pasar dan sebagai cadangan sumberdaya genetik untuk pengembangan ilmu pemuliaan tanaman.&#13;
Padi lokal Aceh Sigupai dan Tinggong memiliki umur dalam (5-6 bulan) dengan arsitektur tanaman tinggi sehingga tidak tahan rebah sehingga mengakibatkan kehilangan produksi dalam penanganan pascapanen. Kedua padi lokal ini juga memiliki daya tahan yang rendah terhadap genangan air terutama kalau ditanam pada daerah yang sering tergenang bila musim hujan. Selain itu, padi lokal ini juga tidak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri.  &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi genotipe turunan padi lokal Aceh hasil persilangan yang membawa sifat-sifat unggul yaitu keturunan yang mewariskan gen sd-1, Sub-1, fgr dan Xa-27. Selain itu, diharapkan melalui penelitian ini akan diperoleh galur harapan padi unggul berumur genjah, arsitektur tanaman pendek, tahan terhadap genangan, tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri, kualitas nasi pulen, wangi, enak serta adaptif terhadap cekaman lingkungan.&#13;
Penelitian I menunjukkan hasil analisis molekuler dari 104 genotipe F2 turunan Sg/Yz terdapat 64.42% mewarisi gen Fragrant dan hasil pengamatan karakter agronomi terhadap 61 genotipe F2 turunan Sg/Yz terdapat 95.08% memiliki umur genjah, 59.01% memiliki arsitektur tanaman pendek dan 9.83% memiliki potensi hasil 4.04-5.33 ton ha-1 (#T3, T8, T21, T31, T47 dan T46). &#13;
Penelitian II menunjukkan hasil uji ketahanan penyakit HDB (Xoo strain IV) dari 48 genotipe F3 turunan Tg/IRBB27 terdapat 29.17% bereaksi tahan, 39.58% bereaksi agak tahan, 8.33% bereaksi agak rentan dan 22.91% bereaksi rentan. Analisis molekuler terhadap 48 genotipe F3 turunan Tg/IRBB27 didapat 62.50% mewarisi gen Xa-27, 66.67% mewarisi gen sd-1 dan 58.33% mewarisi gen Xa-27 dan sd-1. Terdapat 4 genotipe F3 ¬¬turunan Tg/IRBB27 (#T5, T6, T29 dan T30) yang prospektif untuk dikembangkan lebih lanjut berdasarkan kriteria umur genjah (116-120 HSS), arsitektur tanaman pendek (109-128 cm) dan estimasi produksi 6.56-8.53 ton ha-1, mewarisi gen Xa-27 dan sd-1 serta tahan terhadap penyakit HDB strain IV.&#13;
Penelitian III menunjukkan hasil analisis molekuler dari 60 genotipe F2 turunan Sg/Sw terdapat 68.33% mewarisi gen Sub-1, 61.66% mewarisi gen sd-1 dan 46,66% mewarisi gen Sub-1 dan sd-1. Terdapat 7 genotipe F2 ¬¬turunan Sg/Sw (#T44, T53, T18, T47, T59, T30, dan T60) yang prospektif untuk dikembangkan lebih lanjut berdasarkan kriteria ketahanan terhadap genangan, umur genjah (102-115 HSS), arsitektur tanaman pendek (94-120 cm), estimasi produksi 5.03-8.78 ton ha-1 serta mewarisi gen sub-1 dan sd-1.&#13;
Hasil analisis molekuler dari 53 genotipe BC1F2 turunan Sg/Sw terdapat 47.17% mewarisi gen Sub-1, 79.25% mewarisi gen sd-1 dan 35.85% mewarisi gen Sub-1 dan sd-1. Terdapat 3 genotipe BC1F2 ¬¬turunan Sg/Sw (#T20.7, T24.11 dan T24.12) yang prospektif untuk dikembangkan lebih lanjut berdasarkan kriteria ketahanan terhadap genangan dan umur genjah berkisar (122-124 HSS), arsitektur tanaman pendek (132-158 cm) dan estimasi produksi 5.09-9.02 ton ha-1 serta mewarisi gen Sub-1 dan sd-1.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>RICE - FOOD CROP</topic>
 </subject>
 <classification>633.18</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>105999</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-10-18 19:12:51</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-11-21 14:52:41</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>