<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="105975">
 <titleInfo>
  <title>MODEL PENGEMBANGAN KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN DALAM KESEIMBANGAN EKONOMI, SOSIAL, LINGKUNGAN DAN KEAMANAN DI KABUPATEN NAGAN  RAYA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Aswin Nasution</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Program Studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2022</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>&#13;
&#13;
RINGKASAN&#13;
&#13;
Aswin Nasution. Model Pengembangan Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Keseimbangan Ekonomi, Sosial, Lingkungan dan Keamanan di Kabupaten Nagan Raya di bawah bimbingan Dr. Ir. Fajri, M.Sc. sebagai Promotor,  Prof. Dr. Ir. Abubakar, M.S. sebagai Ko-Promotor I, dan Dr. Ir. Romano, M.P. sebagai Ko-Promotor II.&#13;
&#13;
Pembangunan berlanjutan merupakan konsep yang telah lama dan tidak pernah selesai dibicarakan, hal ini karena menyangkut dengan pemenuhan kebutuhan manusia saat ini tanpa mengorbankan kebutuhan generasi masa yang akan datang. Pada masyarakat ilmiah, konsep keberlanjutan juga telah ditulis pada berbagai artikel ilmiah. Di bidang pertanian konsep pembangunan berkelanjutan mampu meningkatkan pendapatan keluarga tani, mendorong pengembangan pedesaan, perekonomian wilayah, kemandirian pangan dan energi. &#13;
Sebagai tanaman pertanian kelapa sawit dipandang mampu menjamin ketahanan pangan nabati, sember minyak nabati dan energi terbarukan yang murah. Kelapa sawit dan produk turunannya juga merupakan bagian dari sistem pertanian yang memiliki kreteria keberlanjutan seperti berorientasi pasar, berdayasaing tinggi, memiliki pertumbuhan yang nyata, berwawasan lingkungan dan terintegrasi dengan sektor lain. Akan tetapi pengembangan tanaman kelapa sawit dipandang berdampak pada keseimbangan alam sehingga membutuhkan pengelolaan keberlanjutan secara tepat dalam keseimbangan pilar berkelanjutan yaitu dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan. &#13;
Beberapa peneliti mengembangkan dimensi berkelanjutan lebih situasional sesuai dengan tujuan keberlanjutan yang diinginkan. Namun dimensi keamanan belum dimasukkan, meskipun dimensi ini tidak dapat dipisahkan dari proses pembangunan.  Memasukkan keamanan pada dimensi keberlanjutan merupakan hal yang spesifik bagi Aceh  sehubungan dengan konflik panjang yang pernah terjadi.  Oleh karena itu masuknya variabel keamanan sebagai dimensi baru pada kesimbangan dimensi keberlanjutan akan menjadi kebaharuan dalam penelitian ini.&#13;
Kabupaten Nagan Raya merupakan daerah perkebunan kelapa sawit terluas di propinsi Aceh.  Penelitian pengembangan kelapa sawit berkelanjutan di Kabupaten Nagan Raya yang merupakan sentral produksi kelapa sawit di pantai barat Aceh ini dilakukan dengan 7 penelitian untuk membahas dan menganalisa kondisi kelapa sawit yang ada, menyusun skenario pengembangan kelapa sawit berkelanjutan dalam prioritas program dan strategi pencapaian program berdasarkan urutan kepentingan program. &#13;
Penelitian 1 menjelaskan bahwa Kabupaten Nagan Raya merupakan daerah yang sangat potensial sebagai penghasil dan pengembangan kelapa sawit, dimana secara agroklimat kondisi tanah dan iklim Kabupaten Nagan Raya sangat sesuai untuk tanaman kelapa sawit. Luas perkebunan kelapa sawit 104.426 Ha yang terdiri dari 51.385 Ha perkebunan rakyat dan 53.041 Ha perkebunan perusahaan menempati 29,46 % luas wilayah Kabupaten Nagan Raya. Dengan dukungan 11 unit Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan total kapasitas olah 390 ton TBS/jam, perkebunan kelapa sawit memberikan kontribusi PDRB 37,25 % atas dasar harga konstan dan 42,19 % atas dasar harga berlaku,  dan menyediakan 54,51 % lapangan pekerjaan bagi penduduk yang bekerja di Kabupaten Nagan Raya. &#13;
Penelitian 2 yang menganalisa pengaruh variabel ekonomi, sosial, lingkungan dan keamanan menunjukkan bahwa keempat variabel memberikan pengaruh positif terhadap kelapa sawit berkelanjutan di Kabupaten Nagan Raya dimana variabel lingkungan memiliki koefisien tertinggi atau berpengaruh paling besar. Secara serempak dan parsial keempat variabel mempengaruhi kelapa sawit berkelanjutan dengan kekuatan kuat, dimana 60,90 % kondisi kelapa sawit berkelanjutan dipengaruhi oleh empat variabel tersebut. &#13;
Penelitian 3 yang menganalisa model keberlanjutan kelapa sawit berdasarkan 20 indikator variabel keberlanjutan dari variabel ekonomi, sosial, lingkungan dan keamanan menunjukkan bahwa secara keseluruhan indikator memberikan pengaruh positif dengan kekuatan sedang sampai kuat, indikator hanya mampu menjelaskan 29,30% - 45,20% kondisi kelapa sawit berkelanjutan yang ada. Selanjutnya indikator kepedulian perusahaan perkebunan dalam membina pekebun dan masyarakat sekitar kebun merupakan indikator paling kuat dalam mempengaruhi pengembangan kelapa sawit berkelanjutan.&#13;
Penelitian 4 yang menguji status keberlanjutan menunjukkan bahwa secara multi dimensi kondisi kelapa sawit di Kabupaten Nagan Raya berada pada status cukup berkelanjutan. Secara dimensi ekonomi cukup berkelanjutan dengan faktor pengungkit terkuat pendapatan pekebun kelapa sawit, secara dimensi sosial kurang berkelanjutan dengan faktor pengungkit terkuat pembinaan masyarakat di sekitar perusahaan perkebunan, secara dimensi lingkungan cukup berkelanjutan dengan faktor pengungkit  terkuat kebakaran hutan, dan secara dimensi keamanan kurang berkelanjutan dengan faktor pengungkit terkuat keinginan mantan kombatan tidak kembali angkat senjata.&#13;
Penelitian 5 yang menganalisa kebutuhan stakeholder terhadap kelapa sawit berkelanjutan menunjukkan bahwa secara umum kebutuhan utama stakeholder kelapa sawit di Kabupaten Nagan Raya adalah pendapatan yang baik, peningkatan pendapatan dan kondisi yang mendukung peningkatan pendapatan dari perkebunan kelapa sawit. Pendapatan yang baik akan mempengaruhi kebutuhan lain dan pendapatan yang baik akan diperoleh dengan terpenuhinya kebutuhan selain pendapatan. Beberapa kebutuhan suatu kelompok stakeholder bukan merupakan  kebutuhan stakeholder lainnya.&#13;
Penelitian 6 yang melakukan penyusunan skenario pengembangan kelapa sawit berkelanjutan dengan  analisa propektif menunjukkan bahwa  skenario optimis merupakan skenario yang paling memungkinkan terjadinya kelapa sawit berkelanjutan di Kabupaten Nagan Raya. Skenario optimis terdiri dari 11 program variabel terpilih dan 24 strategi pencapaian program.  Pada skenario ini 11 program variabel terpilih saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya sesuai dengan permodelan kesimbangan dimensi ekonomi, sosial, lingkungan dan keamanan yang juga saling mempengaruhi dalam keseimbang kelapa sawit berkelanjutan. Pada skenario optimis ini diasumsikan terjadi peningkatan semua atau 11 variabel kunci kelapa sawit berkelanjutan. Namun pada kenyatannya tidak mungkin semua variabel kunci berada pada kondisi mendukung terjadinya skenario optimis, sehingga skenario optimis sangat sulit untuk diaplikasikan tanpa adanya perlakuan  perbaikan dari kondisi yang ada atau kondisi base line. Masuknya dimensi keamanan dalam 11 variabel kunci menjadikan model pengembangan kelapa sawit berkelanjutan di Aceh sebagai daerah bekas konflik lebih ideal, karena atribut keamanan yaitu reintegrasi mantan kombatan memiliki pengaruh yang kuat dalam mempengaruhi keseimbangan keberlanjutan.&#13;
Penelitian 7 adalah analisa Hierrarchy Proces (AHP) yang merupakan lanjutan analisa prospektif. Analisa AHP dilakukan untuk mendapatkan urutan prioritas program dan strategi pencapaian program yang harus dilakukan. Hasil analisa AHP menunjukkan bahwa dari 11 variabel program terpilih, peningkatan pendapatan merupakan program dengan bobot paling tinggi. Selanjutnya dari 24 strategi pencapaian program terpilih, strategi pengawasan pembangunan plasma perusahaan sesuai dengan  Permentan Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan merupakan strategi program dengan bobot tertinggi. 11 skenario program dan 24 strategi pencapaian program pengembangan kelapa sawit berkelanjutan yang disusun berdasarkan skala prioritas ini dapat diadopsi sebagai program kegiatan pada Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD KSB) Kabupaten Nagan Raya 2019-2024, yang harus dilaksanakan sesuai Inpres No. 6 Tahun 2019.&#13;
&#13;
Kata Kunci :  Kelapa sawit berkelanjutan, dimensi keberlanjutan, faktor keamanan, RSPO, ISPO, Aceh&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>AGRICULTURAL ECONOMICS</topic>
 </subject>
 <classification>338.1</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>105975</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-10-18 11:02:33</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-10-19 15:24:01</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>