Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
DISSERTATION
MODEL PENGEMBANGAN KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN DALAM KESEIMBANGAN EKONOMI, SOSIAL, LINGKUNGAN DAN KEAMANAN DI KABUPATEN NAGAN RAYA
Pengarang
Aswin Nasution - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Nomor Pokok Mahasiswa
1709300030002
Fakultas & Prodi
Fakultas Pasca Sarjana / Program Doktor Ilmu Pertanian (S3) / PDDIKTI : 54001
Subject
Penerbit
Banda Aceh : Program Studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Syiah Kuala., 2022
Bahasa
Indonesia
No Classification
338.1
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
RINGKASAN
Aswin Nasution. Model Pengembangan Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Keseimbangan Ekonomi, Sosial, Lingkungan dan Keamanan di Kabupaten Nagan Raya di bawah bimbingan Dr. Ir. Fajri, M.Sc. sebagai Promotor, Prof. Dr. Ir. Abubakar, M.S. sebagai Ko-Promotor I, dan Dr. Ir. Romano, M.P. sebagai Ko-Promotor II.
Pembangunan berlanjutan merupakan konsep yang telah lama dan tidak pernah selesai dibicarakan, hal ini karena menyangkut dengan pemenuhan kebutuhan manusia saat ini tanpa mengorbankan kebutuhan generasi masa yang akan datang. Pada masyarakat ilmiah, konsep keberlanjutan juga telah ditulis pada berbagai artikel ilmiah. Di bidang pertanian konsep pembangunan berkelanjutan mampu meningkatkan pendapatan keluarga tani, mendorong pengembangan pedesaan, perekonomian wilayah, kemandirian pangan dan energi.
Sebagai tanaman pertanian kelapa sawit dipandang mampu menjamin ketahanan pangan nabati, sember minyak nabati dan energi terbarukan yang murah. Kelapa sawit dan produk turunannya juga merupakan bagian dari sistem pertanian yang memiliki kreteria keberlanjutan seperti berorientasi pasar, berdayasaing tinggi, memiliki pertumbuhan yang nyata, berwawasan lingkungan dan terintegrasi dengan sektor lain. Akan tetapi pengembangan tanaman kelapa sawit dipandang berdampak pada keseimbangan alam sehingga membutuhkan pengelolaan keberlanjutan secara tepat dalam keseimbangan pilar berkelanjutan yaitu dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan.
Beberapa peneliti mengembangkan dimensi berkelanjutan lebih situasional sesuai dengan tujuan keberlanjutan yang diinginkan. Namun dimensi keamanan belum dimasukkan, meskipun dimensi ini tidak dapat dipisahkan dari proses pembangunan. Memasukkan keamanan pada dimensi keberlanjutan merupakan hal yang spesifik bagi Aceh sehubungan dengan konflik panjang yang pernah terjadi. Oleh karena itu masuknya variabel keamanan sebagai dimensi baru pada kesimbangan dimensi keberlanjutan akan menjadi kebaharuan dalam penelitian ini.
Kabupaten Nagan Raya merupakan daerah perkebunan kelapa sawit terluas di propinsi Aceh. Penelitian pengembangan kelapa sawit berkelanjutan di Kabupaten Nagan Raya yang merupakan sentral produksi kelapa sawit di pantai barat Aceh ini dilakukan dengan 7 penelitian untuk membahas dan menganalisa kondisi kelapa sawit yang ada, menyusun skenario pengembangan kelapa sawit berkelanjutan dalam prioritas program dan strategi pencapaian program berdasarkan urutan kepentingan program.
Penelitian 1 menjelaskan bahwa Kabupaten Nagan Raya merupakan daerah yang sangat potensial sebagai penghasil dan pengembangan kelapa sawit, dimana secara agroklimat kondisi tanah dan iklim Kabupaten Nagan Raya sangat sesuai untuk tanaman kelapa sawit. Luas perkebunan kelapa sawit 104.426 Ha yang terdiri dari 51.385 Ha perkebunan rakyat dan 53.041 Ha perkebunan perusahaan menempati 29,46 % luas wilayah Kabupaten Nagan Raya. Dengan dukungan 11 unit Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan total kapasitas olah 390 ton TBS/jam, perkebunan kelapa sawit memberikan kontribusi PDRB 37,25 % atas dasar harga konstan dan 42,19 % atas dasar harga berlaku, dan menyediakan 54,51 % lapangan pekerjaan bagi penduduk yang bekerja di Kabupaten Nagan Raya.
Penelitian 2 yang menganalisa pengaruh variabel ekonomi, sosial, lingkungan dan keamanan menunjukkan bahwa keempat variabel memberikan pengaruh positif terhadap kelapa sawit berkelanjutan di Kabupaten Nagan Raya dimana variabel lingkungan memiliki koefisien tertinggi atau berpengaruh paling besar. Secara serempak dan parsial keempat variabel mempengaruhi kelapa sawit berkelanjutan dengan kekuatan kuat, dimana 60,90 % kondisi kelapa sawit berkelanjutan dipengaruhi oleh empat variabel tersebut.
Penelitian 3 yang menganalisa model keberlanjutan kelapa sawit berdasarkan 20 indikator variabel keberlanjutan dari variabel ekonomi, sosial, lingkungan dan keamanan menunjukkan bahwa secara keseluruhan indikator memberikan pengaruh positif dengan kekuatan sedang sampai kuat, indikator hanya mampu menjelaskan 29,30% - 45,20% kondisi kelapa sawit berkelanjutan yang ada. Selanjutnya indikator kepedulian perusahaan perkebunan dalam membina pekebun dan masyarakat sekitar kebun merupakan indikator paling kuat dalam mempengaruhi pengembangan kelapa sawit berkelanjutan.
Penelitian 4 yang menguji status keberlanjutan menunjukkan bahwa secara multi dimensi kondisi kelapa sawit di Kabupaten Nagan Raya berada pada status cukup berkelanjutan. Secara dimensi ekonomi cukup berkelanjutan dengan faktor pengungkit terkuat pendapatan pekebun kelapa sawit, secara dimensi sosial kurang berkelanjutan dengan faktor pengungkit terkuat pembinaan masyarakat di sekitar perusahaan perkebunan, secara dimensi lingkungan cukup berkelanjutan dengan faktor pengungkit terkuat kebakaran hutan, dan secara dimensi keamanan kurang berkelanjutan dengan faktor pengungkit terkuat keinginan mantan kombatan tidak kembali angkat senjata.
Penelitian 5 yang menganalisa kebutuhan stakeholder terhadap kelapa sawit berkelanjutan menunjukkan bahwa secara umum kebutuhan utama stakeholder kelapa sawit di Kabupaten Nagan Raya adalah pendapatan yang baik, peningkatan pendapatan dan kondisi yang mendukung peningkatan pendapatan dari perkebunan kelapa sawit. Pendapatan yang baik akan mempengaruhi kebutuhan lain dan pendapatan yang baik akan diperoleh dengan terpenuhinya kebutuhan selain pendapatan. Beberapa kebutuhan suatu kelompok stakeholder bukan merupakan kebutuhan stakeholder lainnya.
Penelitian 6 yang melakukan penyusunan skenario pengembangan kelapa sawit berkelanjutan dengan analisa propektif menunjukkan bahwa skenario optimis merupakan skenario yang paling memungkinkan terjadinya kelapa sawit berkelanjutan di Kabupaten Nagan Raya. Skenario optimis terdiri dari 11 program variabel terpilih dan 24 strategi pencapaian program. Pada skenario ini 11 program variabel terpilih saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya sesuai dengan permodelan kesimbangan dimensi ekonomi, sosial, lingkungan dan keamanan yang juga saling mempengaruhi dalam keseimbang kelapa sawit berkelanjutan. Pada skenario optimis ini diasumsikan terjadi peningkatan semua atau 11 variabel kunci kelapa sawit berkelanjutan. Namun pada kenyatannya tidak mungkin semua variabel kunci berada pada kondisi mendukung terjadinya skenario optimis, sehingga skenario optimis sangat sulit untuk diaplikasikan tanpa adanya perlakuan perbaikan dari kondisi yang ada atau kondisi base line. Masuknya dimensi keamanan dalam 11 variabel kunci menjadikan model pengembangan kelapa sawit berkelanjutan di Aceh sebagai daerah bekas konflik lebih ideal, karena atribut keamanan yaitu reintegrasi mantan kombatan memiliki pengaruh yang kuat dalam mempengaruhi keseimbangan keberlanjutan.
Penelitian 7 adalah analisa Hierrarchy Proces (AHP) yang merupakan lanjutan analisa prospektif. Analisa AHP dilakukan untuk mendapatkan urutan prioritas program dan strategi pencapaian program yang harus dilakukan. Hasil analisa AHP menunjukkan bahwa dari 11 variabel program terpilih, peningkatan pendapatan merupakan program dengan bobot paling tinggi. Selanjutnya dari 24 strategi pencapaian program terpilih, strategi pengawasan pembangunan plasma perusahaan sesuai dengan Permentan Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan merupakan strategi program dengan bobot tertinggi. 11 skenario program dan 24 strategi pencapaian program pengembangan kelapa sawit berkelanjutan yang disusun berdasarkan skala prioritas ini dapat diadopsi sebagai program kegiatan pada Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD KSB) Kabupaten Nagan Raya 2019-2024, yang harus dilaksanakan sesuai Inpres No. 6 Tahun 2019.
Kata Kunci : Kelapa sawit berkelanjutan, dimensi keberlanjutan, faktor keamanan, RSPO, ISPO, Aceh
SUMMARY Aswin Nasution. Model of Sustainable Oil Palm Development in Economic, Social, Environmental, and Security Balance in Nagan Raya District under the guidance of Dr. Ir. Fajri, M.Sc. as a Promoter, Prof. Dr. Ir. Abubakar, M.S. as Co-Promoter I, and Dr. Ir. Romano, M.P. as Co-Promoter II. Sustainable development is a concept that has been around for a long time and has never been discussed. This is because it concerns the fulfillment of current human needs without compromising the needs of future generations. In the scientific community, the concept of sustainability has also been written in various scientific articles. In agriculture, the concept of sustainable development can increase the income of farming families, promote rural development, regional economy, food, and energy independence. As an agricultural crop, oil palm is considered capable of guaranteeing vegetable food security, cheap sources of vegetable oil, and renewable energy. Palm oil and its derivative products are also part of an agricultural system that has sustainability criteria such as market orientation, is highly competitive, has real growth, is environmentally friendly, and is integrated with other sectors. However, the development of oil palm plantations is seen as having an impact on the balance of nature so it requires appropriate sustainable management in the balance of sustainable pillars, namely the economic, social, and environmental dimensions. Some researchers develop a more situational dimension of sustainability under the desired sustainability goals. However, the security dimension has not been included, although this dimension cannot be separated from the development process. Including security in the dimension of sustainability is specific to Aceh in light of the long conflict that has occurred. Therefore, the inclusion of the safety variable as a new dimension in the balance of sustainability dimensions will be a novelty in this study. Nagan Raya district is the largest oil palm plantation area in Aceh province. This research on sustainable oil palm development in Nagan Raya Regency which is the center of oil palm production on the west coast of Aceh was carried out with 7 studies to discuss and analyze the condition of existing oil palm, develop scenarios for sustainable oil palm development in program priorities and program achievement strategies based on the order of importance. program. Research 1 explains that Nagan Raya Regency is a very potential area as a producer and area for oil palm development, where the agro-climatic conditions of the soil and climate of the Nagan Raya Distrct are very suitable for oil palm plantations. The area of oil palm plantations is 104,426 hectares consisting of 51,385 hectares of community plantations and 53,041 hectares of company plantations occupying 29.46% of the total area of Nagan Raya Regency. With the support of 11 Palm Oil Mills (PKS) with a total processing capacity of 390 tons of FFB/hour, oil palm plantations contribute 37.25 % to GRDP at constant prices and 42.19 % at current prices and provide 54.51% employment opportunities for residents who work in Nagan Raya Regency. Research 2 which analyzes the influence of economic, social, environmental, and security variables shows that the four variables have a positive influence on sustainable oil palm in Nagan Raya Regency where the environmental variable has the highest coefficient or has the greatest effect. Simultaneously and partially the four variables affect sustainable oil palm with a strong force, where 60.90% of the condition of sustainable oil palm is influenced by these four variables. Research 3 which analyzes the oil palm sustainability model based on 20 indicators of sustainability variables from economic, social, environmental and security variables shows that overall the indicators have a positive influence with moderate to strong strength, indicators are only able to explain 29.30% - 45.20% conditions existing sustainable palm oil. Furthermore, the indicator of concern for plantation companies in fostering planters and communities around the plantation is the strongest in influencing the development of sustainable oil palm. Research 4 which examines the sustainability status shows that multi-dimensionally the condition of oil palm in Nagan Raya Regency is in a moderately sustainable status. In the economic dimension, it is quite sustainable with the strongest lever of income for oil palm growers, in the social dimension it is less sustainable with the strongest lever for community development around plantation companies, in the environmental dimension it is quite sustainable with the strongest lever factor for forest fires, and the security dimension is less sustainable with the strongest lever being the desire of former combatants not to take up arms again. Research 5 which analyzes stakeholder needs for sustainable palm oil shows that in general the main needs of oil palm stakeholders in Nagan Raya Regency are good income, increased income, and conditions that support increased income from oil palm plantations. Good income will affect other needs and good income will be obtained by fulfilling needs other than income. Some of the needs of a stakeholder group are not the needs of other stakeholders. Research 6 which carried out the preparation of scenarios for sustainable oil palm development with prospective analysis showed that the optimistic scenario was the most likely scenario for sustainable oil palm in Nagan Raya Regency. The optimistic scenario consists of 11 selected variable programs and 24 program achievement strategies. In this scenario, the 11 selected variable programs influence each other according to the modeling of the balance of economic, social, environmental, and security dimensions which also influence each other in the balance of sustainable palm oil. In this optimistic scenario, it is assumed that all or 11 key variables of sustainable palm oil will increase. However, in reality, all key variables can't be in a condition that supports the occurrence of an optimistic scenario so an optimistic scenario is very difficult to apply without any corrective treatment of existing conditions or baseline conditions. The inclusion of a security dimension in 11 key variables makes the model of sustainable oil palm development in Aceh as a former conflict area more ideal, because the security attribute, namely the reintegration of former combatants, has a strong influence on the balance of sustainability. Research 7 is a Hierarchy Process (AHP) analysis which is a continuation of a prospective analysis. AHP analysis is carried out to obtain the order of program priorities and program achievement strategies that must be carried out. The results of the AHP analysis show that of the 11 selected program variables, the increase in income is the program with the highest weight. Furthermore, of the 24 selected program achievement strategies, the monitoring strategy for the company's plasma development following the Ministry of Agriculture Number 26 of 2007 concerning Plantation Business Licensing Guidelines is the program strategy with the highest weight. 11 program scenarios and 24 strategies for achieving sustainable palm oil development programs that are prepared based on this priority scale can be adopted as an activity program in the Regional Action Plan for Sustainable Oil Palm (RAD KSB) Nagan Raya Regency 2019-2024, which must be implemented according to Presidential Instruction No. 6 of 2019. Keywords: Sustainable palm oil, dimensions of sustainability, security factor, RSPO, ISPO, Aceh.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA SUB SEKTOR PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI KABUPATEN NAGAN RAYA PROVINSI ACEH (Muji burrahmat, 2018)
ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI KABUPATEN NAGAN RAYA PROVINSI ACEH (T Syarifuddin, 2018)
ANALISIS KELAYAKAN PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT RAKYAT DI KABUPATEN NAGAN RAYA (Widiya Astuti, 2020)
MANAJEMEN RANTAI PASOKAN KOMODITAS KELAPA SAWIT DI PANTAI BARAT ACEH (Nurchalis, 2016)
ANALISIS PERILAKU PENGELOLAAN KEUANGAN PETANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN NAGAN RAYA (Azzahiri Fadlianur, 2024)