<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="104706">
 <titleInfo>
  <title>IMPLIKASI HUKUM PENYIMPANAN BENDA SITAAN DAN BARANG RAMPASAN NEGARA PADA RUPBASAN KLAS I BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Mirza Suheri</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>FakultasHukum</publisher>
   <dateIssued>2022</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Keberadaan Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (RUPBASAN) sebagai tempat penyimpanan barang bukti yang terkait dengan tindak pidana dalam proses peradilan pidana (criminal justice process) memiliki kedudukan sangat penting dalam sistem peradilan pidana sebagaimana yang telah di atur dalam Pasal 44 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), yang menyatakan bahwa benda sitaan disimpan dalam RUPBASAN. Namun pada kenyataannya, tidak semua kabupaten/kota di Indonesia memiliki RUPBASAN,  sehingga menimbulkan pengaruh bagi proses penegakan hukum. Masalah fundamental RUPBASAN yang paling kuat adalah ego sektoral aparat penegak hukum yang tidak serius menanggapi aturan terkait penyimpanan dan pengelolaan benda sitaan (basan) dan barang rampasan (baran).&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal yang mendasari aparat penegak hukum tidak menyimpan basan baran di RUPBASAN Klas I Banda Aceh. Serta, untuk mengetahui implikasi hukum yang timbul jika basan baran tidak disimpan di RUPBSAN Klas I Banda Aceh. &#13;
Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris. Sumber data diperoleh dari hasil wawancara dengan informan penelitian yang meliputi Aparatur RUPBASAN, Polisi, serta Jaksa.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa dasar aparat penegak hukum tidak menyimpan basan baran di RUPBASAN Klas I Banda Aceh yaitu: Polresta/Polres dan Kejari sudah memiliki gudang/ruang penyimpanan barang bukti sendiri, agar memudahkan aparat penegak hukum dalam pemeriksaan tersangka maupun saksi-saksi nantinya, letak RUPBASAN Klas I Banda Aceh yang jauh dari wilayah hukum, serta terbatasnya anggaran. Sedangkan RUPBASAN Klas I Banda Aceh mengungkapkan, ketidakseriusan aparat penegak hukum terhadap aturan yang ada serta paham ego sektoral menjadi dasar lembaga penegak hukum tidak menyimpan basan baran di RUPBASAN Klas I Banda Aceh. &#13;
Saran yang dapat diberikan bagi lembaga penegak hukum agar dapat berkoordinasi dengan RUPBASAN terkait penyimpanan basan baran. Disisi lain perlu peningkatan kualitas dan kuantitas aparatur serta sarana dan prasarana RUPBASAN itu sendiri.&#13;
Kata Kunci: Benda Sitaan, Barang Rampasan, RUPBASAN.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>104706</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-09-18 01:08:16</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-09-19 07:36:10</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>