<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="102923">
 <titleInfo>
  <title>EFEKTIVITAS DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) UNTUK MENURUNKAN LEVEL ENDOMETRITIS DAN TOTALRN KOLONI BAKTERI PADA SAPI ACEH (THE EFFECTIVENESS OF MORINGA LEAF (MORINGA OLEIFERA) TO REDUCE ENDOMETRIS AND LEVELS TOTAL COLONY OF BACTERIA IN ACEH COW)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>RANIA EVITA AGUSTINE</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran Hewan</publisher>
   <dateIssued>2022</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Tanaman kelor merupakan tanaman berumur panjang (tanaman menahun) yang dapat tumbuh di dataran rendah dan dataran tinggi pada ketinggian ± 1000 di atas permukaan laut. Daun kelor mengandung beberapa bahan aktif yakni senyawa antibakteri, anti-oksidan seperti saponin, triterpen, tanin yang berkhasiat untuk mengobati beberapa penyakit. Penelitian ini bertujuan menurunkan level endometritis dan total koloni bakteri pada sapi aceh melalui pemberian ekstrak daun kelor. Dalam penelitian ini digunakan tiga ekor sapi aceh betina berusia 3-5 tahun dengan bobot badan 150-250 kg yang didiagnosis mengalami endometritis melalui uji White Side Test (WST). Semua sapi betina disinkronisasi menggunakan hormon prostaglandin yang diinjeksi secara intramuskulus dengan dosis 25 µg dengan metode gabungan yakni metode penyuntikan tunggal dan penyuntikan ganda. Deteksi berahi dilakukan pada pagi (08.00 WIB) dan sore (16.00 WIB) selama 30 menit.  Koleksi mukus serviks dilakukan 8-12 jam setelah awal berahi. Pemberian ekstrak daun kelor sebanyak 20 ml dengan konsentrasi 40% dilakukan setiap 24 jam selama 7 hari berturut-turut dengan menggunakan gun IB yang dimasukkan ke dalam uterus. Uji WST dan penghitungan total koloni bakteri dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji T berpasangan. Rata-rata skor WST dan total koloni bakteri (± SE) sebelum vs sesudah perlakuan masing-masing adalah 1,0±0,0 vs 0,33±0,33 dan 0,37±0,27 dan 0,17±0,12 (P&gt;0,05). Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa ekstrak daun kelor dengan konsentrasi 40% cendrung menurunkan level endometritis dan total koloni bakteri pada sapi aceh.&#13;
&#13;
Kata kunci: ekstrak daun kelor, koloni bakteri, prostaglandin, sapi aceh</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>102923</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-08-25 10:05:04</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-08-25 15:24:29</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>