<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="101722">
 <titleInfo>
  <title>EFEK KEHADIRAN PEJANTAN TERHADAP TAMPILAN ESTRUS KUDA GAYO BETINA (THE EFFECT OF THE PRESENCE OF THE STALLION ON THE DISPLAY OF ESTRUS OF THE MARE GAYO)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>LUTHFAN ASYIRAQ</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran Hewan</publisher>
   <dateIssued>2022</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Tampilan estrus adalah gejala/perilaku spesifik yang terlihat pada saat periode estrus dari hewan betina. Biasanya deteksi estrus pada kuda dilakukan dengan cara mendekatkan betina ke pejantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek kehadiran pejantan terhadap tampilan estrus kuda gayo. Penelitian ini dilaksanakan di kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.  Penelitian ini menggunakan 6 ekor kuda gayo betina dibagi menjadi 2 kelompok (n=3). K1= kuda gayo betina yang dipelihara dengan kehadiran pejantan disekitarnya, dan K2 kuda gayo betina yang dipelihara tanpa kehadiran pejantan disekitarnya. Semua kuda betina disinkronisasi dahulu menggunakan injeksi ganda PGF2α (7,5 mg secara intramuskular) dengan interval 10 hari. Pengamatan gejala estrus dilakukan 1 hari setelah sinkronisasi sampai gejala estrus berakhir. Penelitian dilakukan secara eksploratif melalui pengamatan secara visual dengan teknik skoring 1-4. Data dianalisis menggunakan t-test. Hasilnya adalah 100% kuda gayo (K1 dan K2) menunjukkan gejala estrus pasca sinkronisasi, walaupun tidak semua kuda berhasil mencapai skor 4 (K1=100% dan K2=0%). Analisis independent sample t-test terhadap frekuensi tampilan estrus menunjukkan perbedaan yang nyata antar kedua kelompok (P</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>101722</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-07-19 10:51:07</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-07-19 14:17:55</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>