<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="101064">
 <titleInfo>
  <title>KEMAMPUAN PENALARAN SPASIAL SISWA MELALUI PEMBERIAN SCAFFOLDING</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Finiel Manik</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas KIP</publisher>
   <dateIssued>2022</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penalaran spasial masih belum mendapat perhatian yang cukup dari kebanyakan guru dalam pelaksanaan pembelajaran matematika di sekolah. Hal ini disebabkan karena pembelajaran di sekolah hanya terfokus pada kurikulum yang sudah ditetapkan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan kemampuan penalaran spasial siswa melalui scaffolding. Kemampuan penalaran spasial diukur setelah diberikan scaffolding menggunakan indikator penalaran spasial yaitu rotasi mental, visual spasial, dan orientasi spasial.  Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mixed method dengan menggunakan desain sequence explanatory. Penelitian ini melibatkan lima siswa sekolah menengah pertama yang berdomisili di daerah Lampriet, Banda Aceh. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes kemampuan penalaran spasial dan lembar panduan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebahagian besar siswa memenuhi indikator penalaran spasial melalui pemberian scaffolding. Sebahagian besar siswa yaitu 4 dari 5 siswa memenuhi indikator rotasi mental. Hal ini terlihat dari kemampuan keempat siswa tersebut dalam menjawab kedua soal dengan benar. Sedangkan satu siswa lainnya hanya mampu menjawab benar satu dari dua soal rotasi mental. Pada indikator visual spasial, 2 dari 5 siswa mampu menjawab dua soal indikator visual spasial dengan benar. Ketiga siswa lainnya hanya mampu menjawab satu dari dua soal indikator visual spasial dengan benar. Selanjutnya, untuk kemampuan spasial indikator orientasi spasial 4 dari 5 siswa mampu menjawab benar kedua soal orientasi spasial. Sedangkan siswa lainnya hanya mampu menjawab satu dari dua soal indikator orientasi spasial yang diberikan. Implikasi dari penelitian ini yaitu guru perlu memberikan scaffolding  secara konsisten kepada siswa untuk melatih kemampuan penalaran spasial yang dimiliki oleh siswa.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>101064</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-06-22 12:20:45</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-06-22 15:02:58</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>