Perencanaan pembangunan plta tampur dilakukan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik aceh pada tahun 2016.rencana pembangunan tersebut disetujui oleh gubernur aceh dengan diberikannya izin pinjam kawasan hutan (ippkh).kemudian adanya perencanaan pembangunan tersebut mengancam keberlangsungan hidup gajah, karena bendungan berlokasi di korikor gajah terkahir yaitu sepanjang sungai aceh tamiang.pemberian izin terhadap perencanaan pembangunan tersebut menggambarkan kesejahteraan manusia lebih penting dari pada keberlangsungan hidup gajah.penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sikap antroposentrisme pemerintah aceh dalam pembangunan plta tampur terhadap keberlangsungan hidup gajah.adapun pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.teknik pengumpulan data primer melalui wawancara langsung dengan informan, sedangkan data sekunder melalui dokumentasi/kepustakaan.hasil penelitian ini menunjukan bahwa perencanaan pembangunan plta tampur bukan lagi didasari oleh kebutuhan energi listrik aceh.karena pada tahun 2017 aceh sudah bisa memenuhi kebutuhan energi listriknya sendiri. tetapi perencanaan tersebut tetap dilakukan dengan mengubah tujuan pembangunan plta tersebut, yaitu untuk memenuhi kesejateraan masyarakat aceh dengan membuka lapangan pekerjaan dan menjual energi listrik ke luar aceh.dari hasil temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa pemerintah aceh memiliki sikap antroposentrisme dengan memberikan izin terhadap pembangunan plta tampur, yang artinya pemerintah aceh lebih mengutamakan kepentingan ekonomi dibandingkan kepentingan lingkungan.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
NULL
ANTROPOSENTRISME PEMERINTAH ACEH TERHADAP SATWA LIAR (STUDI KASUS PEMBANGUNAN PLTA TAMPUR TERHADAP KEBERLANGSUNGAN HIDUP GAJAH). Banda Aceh Universitas Syiah Kuala,2021
Baca Juga : POLA PENGASUHAN GAJAH SUMATERA (ELEPHAS MAXIMUS SUMATRANUS) DI PUSAT LATIHAN SATWA KHUSUS (PLSK) TANGKAHAN, KABUPATEN LANGKAT, SUMATERA UTARA (CINDY VINI LARISKA, 2024)