Kawasan geotermal memiliki karakteristik yang berbeda dengan kawasan non-geotermal yang menyebabkan tidak semua tanaman mampu tumbuh dikawasan ini. salah satu tanaman yang terdapat dikawasan geotermal adalah tanaman calotropis gigantea atau tanaman biduri yang lebih dikenal dengan masyarakat aceh dengan sebutan bak rubek. tanaman ini memiliki kandungan senyawa metabolit yang dapat bermanfaat sebagai bahan antibakteri. sejauh ini belum ada penelitian yang menjelaskan daun biduri dari kawasan geotermal ie jue sebagai antibakteri terkhusus pada bakteri porphyromonas gingivalis dan solobacterium moorei sebagai penyebab halitosis. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi senyawa metabolit daun biduri dari kawasan geotermal ie jue sebagai antibakteri terhadap bakteri penyebab halitosis. penelitian ini dilakukan dalam studi in silico dengan menggunakan komputasi bioinformatika dengan doking molekul protein kgp pada bakteri p.gingivalis dan ?-galaktosidase pada s.moorei dengan 5 (lima) senyawa metabolit pada tanaman biduri yaitu lupenyl asetat, ?-amyrin, phytol, ?-amyrenil asetat, dan methyl ester. hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa senyawa memiliki kemampuan perlekatan (binding affinity) yang berbeda-beda pada kedua bakteri dan senyawa ?-amyrin memiliki hasil terbaik dengan nilai nilai binding affinity -9,7 kkal/mol pada protein kgp dan -8,7 kkal/mol pada protein ?-galaktosidase. berdasarkan hasil tersebut dapat simpulkan bahwa daun calotropis gigantea berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri p.gingivalis dan s.moorei sebagai bakteri penyebab halitosis.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
NULL
POTENSI DAUN BIDURI (CALOTROPIS GIGANTEA) KAWASAN GEOTERMAL IE JUE TERHADAP PROTEIN PENYEBAB HALITOSIS BERDASARKAN BIOINFORMATIKA: MOLECULAR DOCKING STUDY. Banda Aceh Universitas Syiah Kuala,2021
Baca Juga : AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 70% DAUN BIDURI (CALOTROPIS GIGANTEA) TERHADAP AGGREGATIBACTER ACTINOMYCETEMCOMITANS ATCC 29523 (MAYA PUTRI SINDA, 2019)