Abstrak mutia, rini. 2018. relevansi hukuman adat terhadap menikah satu marga (suku alas) di desa mendabe kabupaten aceh tenggara. skripsi, jurusan pendidikan dan kewarganegaraan, fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas syiah kuala. (1) drs. amirullah, m.si., (2) hasbi ali, s.pd., m.si kata kunci: relevansi hukuman adat, menikah satu marga penelitian ini berjudul relevansi hukuman adat terhadap menikah satu marga (suku alas) di desa mendabe kabupaten aceh tenggara. latar belakang dalam penelitian ini adalah hukuman menikah satu marga pada masyarakat suku alas di desa mendabe kabupaten aceh tenggara. adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana relevansi hukuman adat terhadap menikah satu marga pada pada suku alas di desa mendabe kabupaten aceh tenggara? (2) bagaimana aturan hukuman adat bagi yang menikah satu marga pada suku alas di desa mendabe kabupaten aceh tenggara? tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui bagaimana relevansi hukuman adat terhadap menikah satu marga. (2) untuk mengetahui bagaimana aturan hukuman menikah satu marga. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriftif dan menggunakan metode purpossive sampling. teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara. subjek penelitian ini berjumlah 12 orang yang terdiri dari imam kampung, tokoh agama, ketua bujang (ketua gadis), ketua belegakh (ketua pemuda), sentue (ketua adat), sentengah (wakil adat), sanpun (seketaris adat) ketue bebekhru (ibu juru bicara masalah adat), dan 2 pasang masyarakat yang menikah satu marga. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) relevansi hukuman adat terhadap menikah satu marga pada suku alas adalah masih sangat relevan dan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku karena masyarat alas di desa mendabe masih sangat menjunjung tinggi adat istiadat dan sangat menjaga kelestarian budaya mereka. (2) aturan hukuman adat menikah satu marga pada suku alas adalah dilarangnya menikah satu marga, karena dianggap akan mencoreng nama baik keluarga juga desa yang ditinggali. simpulan dari penelitian ini adalah relevansi hukuman adat menikah satu marga pada suku alas belum mengalami pergeseran dan perubahan, masyarakat desa mendabe masih menentang terjadinya pernikahan satu marga, hal ini dilakukan untuk mempertahankan aturan-aturan adat yang sudah ada sebelumnya. adapun masyarakat yang melanggar aturan menikah satu marga ini akan dikenakan sanksi berupa uang denda ataupun dikucilkan dari lingkungan masyarakat desa dan juga dari keluarga. saran dari penelitian ini adalahdiharapkan kepada seluruh orangtua di desa mendabe khususnya suku alas yang akan menikahkan anaknya utnuk melihat lebih dulu dari segi kekerabatan agar terhindar dari hal-hal yang dapat melanggar adat. kepada para pemuda-pemudi dan masyarakat desa mendabe hendaknya memperkaya ilmu pengetahuan keagamaan, dengan tidak hanya mengkaji isu-isu kontemporer tetapi juga hal-hal yang sudah mentradisi dalam masyarakat. abstract mutia, rini. 2018. the relevance of customary punishment toward the similar marriage marga (clan) of alas tribe in mendabe village of south east aceh region. undergraduate thesis. education and civic department, faculty of teacher training and education, syiah kuala university. (1) drs. amirullah, m. si., (2) hasbil ali, s. pd., m. si this research entitled the relevance of customary punishment toward the similar marriage marga (clan) of alas tribe in mendabe village of south east aceh region. the background of this research is the punishment of marrying the similar marga of alas tribe society in mendabe village of south east region. the background of study in this research are (1) how is the relevance of customary punishment toward similar marga (clan) marriage of alas tribe in mendabe village of south east aceh region? (2) how is the rule of the customary punishment toward similar marriage marga (clan). this research used qualitative research with descriptive qualitative and purpossive sampling method. the technique of data collection used is interview technique. the subjects of this research are 12 imam kampong (village leader), religious figures, ketua bujang/gadis (the leader of bachelor/bachelorette), the chief of youth, the chief of custom, the secretary of custom, the spoke person of custom, and two marriage couples of similar marga (clan). the result of the research showed that (1) the relevance of customary punishment toward the similar marriage marga of alas tribe is still very relevance and appropriate with the common customary of alas society in mendabe village, and they still highly appreciate the tradition and preserve their culture. (2) the rule of similar marriage marga of alas tribe is forbidden. the conclusion of this research is the relevance of customary punishment of similar marga marriage of alas tribe has not shifted and changed, the mendabe village society still against the similar tribe marriage to preserve the previous customary system. while the society who breaks the rule of similar marga marriage will be punished by paying fine or excommunicated from the village society and family. as for suggestions in this research is expected to all parents in the village of mendabe especially alas tribe who will marry his son to see in advance in terms of kinship to avoid things that can violate the custom keywords: customary punishment, similar marriage marga (clan)
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
NULL
RELEVANSI HUKUMAN ADAT TERHADAP MENIKAH SATU MARGA (SUKU ALAS) DI DESA MENDABE KABUPATEN ACEH TENGGARA. Banda Aceh Universitas Syiah Kuala,2018
Baca Juga : LARANGAN PERKAWINAN SEMARGA PADA MASYARAKAT ALAS (SUATU PENELITIAN DI KABUPATEN ACEH TENGGARA) (Kamisah, 2023)
Abstract
Baca Juga : EKSISTENSI ADAT PEMAMANAN SUKU ALAS DI DESA KUMBANG INDAH KABUPATEN ACEH TENGGARA (FEBRY FITRIADI, 2021)