Sistem pemeliharaan pedet wagyu secara intensif di pt. austasia stockfeed unit pembibitan dan penggemukan sapi – jabung lampung timur abstrak pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui sistem pemeliharaan pedet wagyu secara intensif di pt. austasia stockfeed.sapi wagyu merupakan sapi asli jepang yangmemiliki kualitas daging terbaik di dunia. pemeliharaan pedet wagyusecara intensif(kandang hutch) yaitu sapi dikandangkan dan seluruh kebutuhannyadisediakan. pedet yang dipelihara di kandang hutch merupakan pedet yang bermasalah seperti ambing induk kecil, puting induk besar, panjang ataupun pendek, induk stres, induk tidak respon, induk sakit, induk mati, pedet cacat, pedet kembar, pedet kecil, pedet menyusui satu puting, pedet sakit dan lahir diluar kandang kelahiran. pemeliharaan dilakukan mulai dari pedet berumur 1 hari sampai pedet berumur 60 hari. pedet yang baru lahir dibawa ke kandang hutch lalu diberikan susu kolostrum buatan, vitamin, vaksin dan pencelupan iodin pada tali pusat dan dilanjutkan dengan pemberian milk replaceryang diberikan mulai dari pedetberumur 2 hari hingga pedet berumur 60 hari dan pada umur 14 hari pedet diberikan pakan konsentrat berupa pelet, setiap hari di kandang hutch dilakukan sanitasi dan biosekuriti kandang hingga pengontrolan dan pengobatan penyakit. setelah pedet berumur 60 hari maka pada umur 61 hari pemeliharaan pedet dilakukan oleh bagian weanerdan dilakukan pemasangan ear tag,rfid, kastrasi, pemberian obat cacing dan pemberian vaksin. kata kunci: wagyu, pedet, pemeliharaan, kandang hutch
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
NULL
SISTEM PEMELIHARAAN PEDET WAGYU SECARA INTENSIF DI PT. AUSTASIA STOCKFEED UNIT PEMBIBITAN DAN PENGGEMUKAN SAPI JABUNG LAMPUNG TIMUR. Banda Aceh Universitas Syiah Kuala,2018
Baca Juga : POLA PEMELIHARAAN WEANER WAGYU DARI WEANING SAMPAI MENJADI BAKALAN DI PT. AUSTASIA STOCKFEED LAMPUNG (IHSAN, 2018)
Abstract
Baca Juga : KEADAAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PENGGEMUKAN SAPI DI KECAMATAN SUKAMAKMUR KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2000-2015 (Husnul Humairah, 2016)