Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    NULL
Diana Erlita, HUBUNGAN KADAR FERITIN SERUM, SERUM IRON DAN TOTAL IRON BINDING CAPACITY DENGAN KEJADIAN RESTLESS LEGS SYNDROME PADA PENDERITA PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS. Banda Aceh Universitas Syiah Kuala,2016

Abstrak hubungan kadar feritin serum, serum iron dan total iron binding capacity dengan kejadian restless legs syndrome pada penderita penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis latar belakang restless legs syndrome (rls) adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan dorongasn tak tertahankan untuk menggerakkan kaki terutama saat istirahat. gejala memburuk di malam hari dan meningkatkan aktivitas seperti berjalan. penyakit ginjal kronik (pgk) merupakan kerusakan ginjal yang mengakibatkan hilangnya fungsi ginjal. telah lama diketahui bahwa anemia defisiensi besi terkait dalam beberapa cara untuk terjadinya restless legs syndrome. rls lebih sering terjadi pada individu dengan gagal ginjal kronik baik sebelum maupun sesudah dialisis. penelitiuan ini bertujuan untuk mengetahui kadar feritin serum, si dan tibc penderita pgk non diabetik dengan kejadian rls. metode penelitian deskriptif bersifat observasional analitik dengan waktu pengukuran potong lintang pada 50 orang subjek penelitian yang dipilih secara quota sampling pada periode januari sampai maret 2016 di ruang hemodialisa rumah sakit umum daerah dr.zainoel abidin banda aceh. parameter yang diperiksa adalah anamnesis, pemeriksaan kadar ferritin serum, serum iron dan total iron binding capacity. hasil penelitian dianalisa menggunakan uji t tidak berpasangan dan uji mann whitney. hasil subjek penelitian berjumlah 50 orang terbagi 2 kelompok rls (-) dan rls (+) berdasarkan kriteria restless legs syndrom yaitu 19 orang rls (+) dan 31 orang rls (-). perbedaan rerata feritin yang bermakna antara kelompok pasien gagal ginjal kronik yang mengalami rls dan tidak mengalami rls (288,2 ± 303,6 vs 1025,3 ± 706,7 ; p 0,000 ), serum iron (42,4 ± 18,8 vs 73,5 ± 44,0 ; p 0,002), dan tibc ( 262,5 ± 43,3 vs 219,5 ± 34,7 ; p 0,000 ) dianalisa menggunakan uji t tidak berpasangan dan mann-whitney. kesimpulan terdapat perbedaan kadar ferritin serum, serum iron dan tibc dengan kejadian restless legs syndrome, semakin rendah kadar ferritin serum dan serum besi semakin tinggi kejadian rls. kata kunci : kadar ferritin serum, serum iron, tibc, rls, pgk



Abstract



    SERVICES DESK