Penelitian ini bertujuan mengetahui keakuratan kit progesteron air susu dan darah yang digunakan sebagai alat diagnosis kebuntingan dini pada kambing peranakan ettawa (pe). penelitian ini menggunakan 5 ekor kambing betina pe dalam masa laktasi. semua kambing betina pada penelitian ini mendapatkan perlakuan sinkronisasi berahi dengan prostaglandin f2 alfa (pgf2?). sebanyak 4 ekor kambing yang menunjukkan berahi dikawinkan secara alami, sedangkan 1 ekor lainnya yang juga menunjukkan gejala berahi tidak dikawinkan. penetapan hari ke-0 pada penelitian ini adalah ketika hewan betina berada pada puncak estrus (tidak menolak ketika dinaiki). diagnosis kebuntingan dini menggunakan kit progesteron air susu dan darah dilakukan pada 18-22 hari pascakawin atau 18-22 hari pascaestrus untuk kambing betina yang tidak dikawinkan. akurasi diagnosis kebuntingan dengan kit progesteron air susu dan darah dikonfirmasi dengan pemeriksaan menggunakan ultrasonografi (usg) pada hari ke-35 pascakawin dan pascaestrus. hasil pemeriksaan kit progesteron dengan sampel air susu memperlihatkan hasil negatif selama 5 hari pemeriksaan untuk semua kambing percobaan, sedangkan pemeriksaan kit progesteron menggunakan sampel darah memperlihatkan hasil positif selama 5 hari pemeriksaan untuk 4 ekor kambing percobaan. ketika dikonfirmasi menggunakan usg pada hari ke-35 kebuntingan, menunjukkan 1 ekor kambing betina pe didiagnosis tidak bunting dan 4 ekor didiagnosis bunting. dapat disimpulkan bahwa kit progesteron dengan menggunakan sampel darah pada kambing betina pe memiliki tingkat akurasi sebesar 100%, sedangkan kit progesteron dengan menggunakan sampel air susu kambing betina pe memiliki akurasi yang rendah yakni 20%.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
NULL
AKURASI TES KIT PROGESTERON UNTUK DIAGNOSIS KEBUNTINGAN DINI PADA KAMBING PERANAKAN ETTAWA (CAPRA HIRCUS). Banda Aceh Universitas Syiah Kuala,2016
Baca Juga : DIAGNOSIS KEBUNTINGAN DINI PADA KAMBING PERANAKAN ETAWAH (CAPRA HIRCUS) DENGAN MENGGUNAKAN HARNESS DAN CRAYON (Tomi Prabudi, 2017)