Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
Delva Rahmah Safitri, PEMBENTUKAN MAKNA KHITANAN PEREMPUAN SEBAGAI TANDA KEISLAMAN DI KECAMATAN LABUHANHAJI KABUPATEN ACEH SELATAN. Banda Aceh Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik,2026

Khitan perempuan sampai dengan saat ini masih dipraktikkan oleh masyarakat di kecamatan labuhanhaji, kabupaten aceh selatan dan dimaknai sebagai tanda keislaman seorang perempuan. makna tersebut tidak lahir dengan sendirinya, melainkan dibentuk oleh masyarakat melalui proses sosial yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi sehingga khitanan perempuan terus dipertahankan dalam kehidupan bermasyarakat. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembentukan makna khitanan sebagai tanda keislaman di kecamatan labuhanhaji, kabupaten aceh selatan. penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. analisis temuan penelitian diinterpretasikan menggunakan teori konstruksi sosial peter l berger dan thomas luckman melalui tiga tahapan yaitu eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. hasil penelitian menunjukkan bahwa makna khitan perempuan sebagai tanda keislaman merupakan hasil konstruksi sosial yang dibentuk melalui proses pewarisan nilai keagamaan dalam keluarga, pendidikan agama, dan lingkungan sosial. keluarga berperan sebagai agen sosialisasi pertama yang mengenalkan praktik khitan perempuan, sedangkan tokoh agama dan lingkungan sosial memperkuat keyakinan bahwa khitan merupakan bagian dari ajaran islam. melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi, khitan perempuan dimaknai sebagai identitas keislaman perempuan, sehingga praktik tersebut terus diwariskan dan dipertahankan sebagai sesuatu yang wajar dan perlu dilakukan oleh masyarakat. kata kunci: praktik khitanan perempuan, tanda keislaman, konstruksi sosial, fenomenologi, aceh selatan



Abstract

Female circumcision continues to be practiced by the community in Labuhanhaji District, South Aceh Regency, where it is interpreted as a sign of a woman's Islamic identity. This meaning did not emerge in isolation; rather, it was shaped by the community through a social process passed down across generations, ensuring the practice's persistence in social life. This study aims to understand the process by which the meaning of circumcision as a sign of Islamic identity was constructed in Labuhanhaji District, South Aceh Regency. The study employs a qualitative method with a phenomenological approach. Informants were selected using purposive sampling, and data were gathered through interviews, observation, and documentation. The findings were analyzed using Peter L. Berger and Thomas Luckmann’s social construction theory, specifically the three stages of externalization, objectivation, and internalization. The results indicate that the meaning of female circumcision as a sign of Islamic identity is a social construct formed through the transmission of religious values within the family, religious education, and the social environment. The family serves as the primary agent of socialization, introducing the practice, while religious figures and the social environment reinforce the belief that circumcision is part of Islamic teachings. Through the processes of externalization, objectivation, and internalization, female circumcision has come to signify a woman's Islamic identity, leading to the practice being continuously passed down and upheld as something natural and correct. Keywords: Female Circumcision Practice, Sign of Islamic Identity, Social Construction, Phenomenology, South Aceh



    SERVICES DESK