Komunitas petani garam di gampong lam ujong, kecamatan baitussalam, kabupaten aceh besar merupakan salah satu kelompok masyarakat pesisir yang masih mempertahankan usaha garam tradisional sebagai sumber mata pencaharian utama. distribusi jaringan tataniaga semakin berbeda-beda, walaupun distribusi pola jaringan tataniaga berbeda-beda tetapi mampu mempertahankan eksistensi mereka. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola jaringan sosial terbentuk dalam komunitas petani garam. penelitian ini menggunakan teori jaringan sosial mark granovetter yang menekankan empat prinsip utama, yaitu norma dan kepadatan jaringan, ikatan kuat dan ikatan lemah, peran lubang struktural (structural holes), serta keterlekatan tindakan ekonomi dan non- ekonomi. metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap petani garam, toke, pedagang perantara (muge), pedagang besar, dan pedagang eceran yang terlibat dalam jaringan distribusi garam di gampong lam ujong. hasil penelitian menunjukkan bahwa norma dan kepadatan jaringan yang terbentuk kuat dalam komunitas petani garam. norma rasa saling percaya dan hubungan langganan yang sudah terjalin lama yang menjadi dasar utama dalam memepertahankan jaringan distribusi garam. selain itu, adanya ikatan kuat yang terbentuk karena adanya hubungan keluarga, adanya kedekatan emosional dan hubungan yang sudah berlangsung lama, sedangkan ikatan lemah terbentuk dalam hubungan transaksi ekonomi yang bisa memperluas jaringan pasar dari orang yang baru dikenal. peran lubang struktural, yaitu para pedagang perantara maupun eceran bisa langsung membeli garam kepada petani melalui ajakan teman-teman yang memperkenalkan petani langsung. ketertambatan tindakan ekonomi dan non-ekonomi, para pelaku jaringan sosial mereka tidak hanya berhubungan karena keperluan ekonomi distribusi garam saja tetapi mereka juga ada hubungan non-ekonomi yaitu hubungan sudah seperti saudara karena sudah lama dalam transaksi jual beli garam. bagi pemerintah dapat memberi dukungan melalui pelatihan, serta memperluas akses pemasaran bagi petani garam. selain itu, pemerintah perlu mendorong terbentuknya kerja sama atau kelembagaan petani agar jaringan sosial dan kesejahteraan petani di gampong lam ujong semakin kuat dan berkelanjutan. kata kunci: jaringan sosial, petani garam, distribusi garam, granovetter.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
JARINGAN SOSIAL KOMUNITAS PETANI GARAM DI GAMPONG LAM UJONG KECAMATAN BAITUSSALAM ACEH BESAR. Banda Aceh Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik,2026
Baca Juga : RESILIENSI KOMUNITAS PETANI GARAM DALAM MENGHADAPI VARIABILITAS IKLIM (STUDI KASUS DI GAMPONG ARA KECAMATAN KEMBANG TANJONG KABUPATEN PIDIE)DALAM MENGHADAPI VARIABILITAS IKLIM (STUDI KASUS DI GAMPONG ARA KECAMATAN KEMBANG TANJONG KABUPATEN PIDIE) (SOFIA TUNNIDA, 2025)
Abstract
The salt farmer community in Gampong Lam Ujong, Baitussalam District, Aceh Besar Regency, is a coastal community group that maintains traditional salt production as its primary livelihood. Despite variations in their trade network patterns, they have successfully sustained their operations. This study aims to understand how social network patterns are formed within this salt farmer community. It employs Mark Granovetter’s social network theory, emphasizing four key principles: network norms and density, strong and weak ties, the role of structural holes, and the embeddedness of economic and non-economic actions. A qualitative method with a descriptive approach was used. Data were gathered through observation, in-depth interviews, and documentation involving salt farmers, middlemen (toke), intermediaries (muge), wholesalers, and retailers within the salt distribution network in Gampong Lam Ujong. The results indicate that strong norms and high network density characterize the community. Norms of mutual trust and long-standing relationships serve as the foundation for maintaining the salt distribution network. Furthermore, strong ties are formed through family connections, emotional closeness, and enduring relationships, while weak ties arise from economic transactions that expand market reach to new acquaintances. Regarding structural holes, intermediaries and retailers can purchase salt directly from farmers through introductions made by friends. Concerning the embeddedness of economic and non-economic actions, network participants interact not only for the economic purpose of salt distribution but also through non-economic bonds treating one another like family due to their long history of trade. The government can provide support through training and by expanding market access for salt farmers. Additionally, the government should encourage the formation of farmer cooperatives or institutional structures to strengthen and ensure the sustainability of social networks and farmer welfare in Gampong Lam Ujong. Keywords: Social network, salt farmers, salt distribution, Granovetter.