Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    DISSERTATION
Elhusna, KAJIAN PENGGUNAAN LIMBAH PADAT INDUSTRI DAN HASIL PERTANIAN UNTUK PERBAIKAN KARAKTERISTIK BATA MERAH (CLAY BRICK). Banda Aceh Fakultas Pasca Sarjana,2026

Pembakaran bata dengan bahan baku utama tanah liat merupakan salah satu tahapan produksi yang menentukan tingkat kematangannya dan selanjutnya menentukan karakteristik yang meliputi sifat fisis, dan sifat mekanis bata tersebut. posisi bata dalam dapur pembakaran menjadikan tidak semuanya mendapatkan panas atau terkena api secara sempurna selama proses pembakaran. laporan ini menyajikan hasil penelitian terhadap sifat fisis dan mekanis bata pada penelitian 1 terhadap perbedaan pengaruh penambahan fly ash dan campuran fly ash dan abu sekam padi terhadap karakteristik bata merah. penelitian 2 terhadap perbedaan posisi bata selama proses pembakaran. bata tanah liat sebagaimana produksi pabrik dan penelitian ketiga terhadap bata komposit dengan serasah casuarina equisetifolia l (cemara). bata dengan proporsi bahan dan pembuatan mengikuti proses produksi bata dilakukan di pabrik yang berlokasi di desa kajhu, kecamatan baitussalam, kabupaten aceh besar, provinsi aceh. bahan pembentuk bata pada penelitian 2 berupa tanah liat dan pasir dicampur dengan air hingga plastis dan dapat dibentuk. bata disusun ke dalam dapur pembakaran saat cukup keras dan kering setelah tahapan penganginan. penyusunan bata sampel dilakukan pada lapisan ke 6, 12, 18, dan 22. bata amatan pada lapisan ke 6 letakkan pada posisi yang bersisian langsung dengan api (l6-1) dan terlindungi dari api (l6-2). selanjutnya penelitian ketiga adalah bata dari tanah liat, pasir sungai, abu bata merah dan fly ash divariasikan dengan serat serasah cemara hingga 2% dengan peningkatan 0,5% untuk setiap variasi. bata tersebut dibakar dalam dapur pembakaran pada lapis ke 18 dan 22. sifat mekanis bata berupa kuat tekan dan absorpsi diuji dan data dianalisa. hasil pengujian menunjukkan bahwa posisi bata saat pembakaran mempengaruhi kuat tekan, absorpsi, dimensi, dan volume bata. posisi pembakaran tidak mempengaruhi berat unit bata dan berat jenis semunya. penelitian pertama memperlihatkan kuat tekan terbaik dimiliki oleh bata yang bersentuhan langsung dengan api (l6-1) diikuti oleh bata lapis 18 (l18). seluruh posisi pembakaran menghasilkan bata dengan kuat tekan memenuhi kelas 50 sni 15-2904-2000 tentang bata yang berlaku di indonesia. hasil dari bata komposit dengan variasi serasah cemara dipengaruhi oleh posisi pembakaran. kuat tekan bata komposit dengan serat cemara pada lapisan 22 lebih baik dibanding bata pada lapis 18. ini kebalikan dari penelitian pertama dimana kuat tekan bata lapis 18 lebih baik dari pada bata lapis 22. kuat tekan bata dengan serasah pada lapisan 22 meningkat hingga 66,2% pada bata dengan kandungan serasah 1% lalu menurun pada kandungan serasah yang lebih besar, walaupun tetap lebih besar dari kuat tekan bata tanpa serasah.



Abstract

Burnt clay bricks is one of the production stages which establishes the brick's maturity level and, in turn, their mechanical and physical qualities. The position of the bricks in the kiln means that not all of them receive heat or are exposed to the fire completely during the firing process. This report presents the results of research on the physical and mechanical properties of bricks in research 1 on the differences in the effect of adding fly ash and a mixture of fly ash and rice husk ash on the characteristics of red bricks. The second study was conducted on the differences in brick position during the firing process. Clay bricks as factory production and the third study on composite bricks with Casuarina equisetifolia L (Cemara) litter. The bricks, with the proportions of materials and manufacturing processes following the brick production process carried out at the factory located in Kajhu Village, Baitussalam District, Aceh Besar Regency, Aceh Province. The brick-forming materials in study 1 consisted of clay and sand mixed with water until plastic and moldable. The bricks were arranged into the kiln when they were sufficiently hard and dry after the airing stage. The sample bricks were arranged in layers 6, 12, 18, and 22. Layer 6's observed bricks were positioned next to the fire (L6-1) and shielded from it (L6-2). In the second research study, Casuarina litter fiber up to 2%, increasing by 0.5% for each variant, was mixed in to clay, river sand, fly ash, and clay brick ash. In a kiln, the bricks on layers 18 and 22 were burned. The bricks' mechanical qualities, such as their compressive strength and absorption, were evaluated, and the results were examined. The test results demonstrate that the brick's size, volume, absorption, and compressive strength are all impacted by its firing location. The brick's apparent density and unit weight are unaffected by the firing position. According to the first investigation, the brick that came into the direct contact with the fire (L6-1) had the highest compressive strength, followed by the 18-layer brick (L18). Bricks with compressive strengths that satisfy class 50 of SNI 15-2904-2000 about bricks applicable in Indonesia were manufactured from all firing sites. The results of composite bricks with variations in Casuarina litter are influenced by the firing position. The compressive strength of composite bricks with Casuarina fiber in layer 22 is better than bricks in layer 18. This is the opposite of the first study where the compressive strength of bricks in layer 18 is better than bricks in layer 22. The compressive strength of bricks with litter in layer 22 increases to 66.2% in bricks with 1% litter content and then decreases at a greater litter content, although it remains greater than the compressive strength of bricks without litter.



    SERVICES DESK