Abstrak kota banda aceh dan kabupaten aceh besar merupakan wilayah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap berbagai ancaman bencana, sehingga keberlanjutan usaha menjadi isu penting bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (umkm). salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan ketangguhan usaha adalah business continuity management (bcm). namun, penerapan bcm pada sektor umkm masih relatif terbatas. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi pelaku umkm terhadap bcm, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi tersebut, serta menganalisis kebutuhan dan tantangan dalam adopsi bcm sebagai strategi penguatan ketangguhan usaha di daerah rawan bencana. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap 14 pelaku umkm di kota banda aceh dan kabupaten aceh besar yang mewakili berbagai sektor usaha. data dianalisis menggunakan analisis tematik dengan bantuan software atlas.ti. hasil analisis menghasilkan 28 kode yang dikelompokkan ke dalam 7 tema utama, yaitu persepsi terhadap bcm, faktor internal, faktor eksternal, kebutuhan adopsi bcm, tantangan adopsi bcm, risiko dan dampak bencana, serta praktik kesiapsiagaan usaha. hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku umkm belum mengenal konsep bcm sebelum penelitian dilakukan. namun, setelah memperoleh penjelasan mengenai konsep, tujuan dan manfaat bcm, mayoritas responden menunjukkan persepsi yang positif dan menilai bcm relevan untuk membantu keberlanjutan usaha ketika menghadapi berbagai gangguan maupun bencana. faktor eksternal memiliki pengaruh yang lebih dominan dibandingkan faktor internal dalam membentuk persepsi umkm terhadap adopsi bcm. faktor-faktor tersebut meliputi dukungan pemerintah, akses informasi dan pelatihan, akses pembiayaan, serta jaringan sosial. kebutuhan utama umkm dalam mengadopsi bcm adalah pelatihan, informasi, pendampingan, dan dukungan modal. sementara itu, tantangan utama yang dihadapi adalah belum dikenalnya bcm oleh sebagian besar pelaku umkm, keterbatasan modal, serta keterbatasan sumber daya manusia dan sarana pendukung. penelitian ini menyimpulkan bahwa peluang penerapan bcm pada umkm di kota banda aceh dan kabupaten aceh besar cukup besar. hambatan utama adopsi bcm bukan terletak pada penolakan terhadap konsep bcm, melainkan pada keterbatasan pengetahuan, kapasitas, dan dukungan implementasi. oleh karena itu, penguatan kapasitas melalui pelatihan, penyediaan informasi, pendampingan, dan dukungan dari pemerintah dan stakeholder lainnya menjadi faktor penting dalam mendorong adopsi dan penerapan bcm pada pelaku umkm. kata kunci: business continuity management, umkm, ketangguhan usaha, kesiapsiagaan usaha, pengurangan risiko bencana.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
THESES
PERSEPSI PELAKU UMKM TERHADAP BUSINESS CONTINUITYRNMANAGEMENT (BCM) DALAM MEMBANGUN KETANGGUHAN USAHA RNPADA DAERAH RAWAN BENCANA DI BANDA ACEH DAN ACEH BESAR.. Banda Aceh Fakultas Magister Ilmu Kebencanaan,2026
Baca Juga : PERLINDUNGAN HUKUM USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH DALAM MENGHADAPI PERSAINGAN BEBAS MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (Yusri, 2021)
Abstract
ABSTRACT Banda Aceh City and Aceh Besar District are highly vulnerable to various disaster hazards, making business continuity a critical issue for Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs). One approach that can be employed to enhance business resilience is Business Continuity Management (BCM). However, the adoption of BCM among MSMEs remains relatively limited. This study aims to analyze MSMEs’ perceptions of BCM, identify the factors influencing these perceptions, and examine the needs and challenges associated with BCM adoption as a strategy for building resilience of MSMEs in disaster prone areas. This study employed a qualitative approach using in depth interviews with 14 MSME owners in Banda Aceh City and Aceh Besar District representing various business sectors. The data were analyzed using thematic analysis with the ATLAS.ti software. The analysis generated 28 codes, which were subsequently grouped into seven main themes: perceptions of BCM, internal factors, external factors, BCM adoption needs, BCM adoption challenges, disaster risks and impacts, and business preparedness practices. The findings revealed that most MSME owners were unfamiliar with the concept of BCM prior to the study. However, after receiving an explanation of the concept, objectives, and benefits of BCM, most of respondents expressed positive perceptions and considered BCM relevant for supporting business continuity in the face of various disruptions and disasters. External factors were found to have a more significant influence than internal factors in shaping MSMEs’ perceptions of BCM adoption. These factors included government support, access to information and training, access to financing, and social networks. The primary needs identified for BCM adoption were training, information, mentoring, and financial support. Meanwhile, the main challenges were the lack of awareness of BCM among most MSME owners, limited financial resources, and constraints related to human resources and supporting facilities. This study concludes that there is considerable potential for BCM adoption among MSMEs in Banda Aceh City and Aceh Besar District. The primary barrier to BCM adoption is not resistance to the concept itself, but rather limited knowledge, capacity, and implementation support. Therefore, strengthening MSME capacity through training, information dissemination, mentoring, and support from government and other stakeholders is essential to promote the adoption and implementation of BCM among MSMEs. Keywords: Business Continuity Management, MSMEs, Business Resilience, Business Preparedness, Disaster Risk Reduction.
Baca Juga : STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA UMKM BIDANG FASHION KECAMATAN MUARA BATU KABUPATEN ACEH UTARA (CUT AIDA AMANINA, 2023)