Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
DARMAWAN, EKSPLORASI DAN IDENTIFIKASI KEANEKARAGAM HASIL HUTAN BUKAN KAYU (HHBK) DI RNSEKITAR KAWASAN GUNUNG LEUSER GAYO LUES. Banda Aceh Fakultas Pertanian - Kehutanan,2026

Hasil hutan bukan kayu (hhbk) merupakan seluruh hasil hutan hayati selain kayu yang berasal dari kawasan hutan dan memiliki nilai ekologis, sosial, serta ekonomi yang penting bagi kehidupan masyarakat. pemanfaatan hhbk dapat menjadi alternatif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengurangi fungsi utama kawasan hutan sebagai penyangga kehidupan. kawasan gunung leuser di kabupaten gayo lues merupakan salah satu kawasan yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi serta menyimpan berbagai jenis hhbk yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. perbedaan kondisi geografis, terutama ketinggian tempat, diduga memengaruhi keberadaan dan keanekaragaman jenis hhbk yang tumbuh di kawasan tersebut. oleh karena itu, diperlukan penelitian mengenai eksplorasi dan identifikasi keanekaragaman hhbk sebagai dasar dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hutan secara berkelanjutan. penelitian ini dilaksanakan di desa kedah yang berada pada ketinggian ±1.800 mdpl dan desa agusen pada ketinggian ±1.000 mdpl, kabupaten gayo lues. penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik purposive sampling. pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, identifikasi jenis hhbk, wawancara, penyebaran kuesioner, dan studi literatur. responden dalam penelitian ini berjumlah 66 orang yang terdiri atas 43 responden di desa kedah dan 23 responden di desa agusen. data yang dikumpulkan meliputi jenis-jenis hhbk yang ditemukan, bentuk pemanfaatannya oleh masyarakat, serta potensi ekonomi masing-masing jenis hhbk. hasil penelitian menunjukkan bahwa di desa kedah ditemukan sebanyak 25 jenis hhbk, sedangkan di desa agusen ditemukan sebanyak 22 jenis hhbk. jenis-jenis hhbk yang dijumpai antara lain pinus (pinus merkusii), serai wangi (cymbopogon nardus), nilam (pogostemon cablin), aren (arenga pinnata), pinang (areca catechu), kayu manis (cinnamomum burmannii), rotan, kemiri, kakao, madu lebah, serta berbagai jenis buahbuahan hutan. masyarakat memanfaatkan hhbk sebagai bahan pangan, obat tradisional, rempah-rempah, minyak atsiri, bahan baku kerajinan, serta sebagai sumber pendapatan melalui penjualan hasil hutan. desa kedah lebih didominasi oleh jenis-jenis hhbk dataran tinggi, sedangkan desa agusen memiliki keragaman jenis yang lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi dan kegiatan ekonomi masyarakat. peelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan ketinggian tempat berpengaruh terhadap komposisi dan keanekaragaman jenis hhbk yang terdapat di sekitar kawasan gunung leuser. keanekaragaman jenis hhbk yang ditemukan menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki potensi sumber daya yang besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan melalui pengelolaan yang memperhatikan aspek konservasi, ekonomi, dan sosial sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan oleh masyarakat tanpa mengurangi fungsi ekologis kawasan hutan.



Abstract

Non-Timber Forest Products (NTFPs) are biological forest resources other than timber that possess significant ecological, social, and economic values for local communities. The utilization of NTFPs provides an alternative source of livelihood while maintaining the primary ecological functions of forest ecosystems. The Gunung Leuser area in Gayo Lues Regency is recognized as one of Indonesia's most important forest ecosystems, characterized by high biodiversity and abundant NTFP resources. Local communities have long depended on these forest products to meet their daily needs and generate household income. Differences in geographical conditions, particularly elevation, are assumed to influence the diversity and distribution of NTFP species. Therefore, this study was conducted to explore and identify the diversity of NTFPs surrounding the Gunung Leuser area in Gayo Lues Regency and to describe their utilization by local communities. This research was carried out in Kedah Village, located at an elevation of approximately 1,800 meters above sea level, and Agusen Village, located at approximately 1,000 meters above sea level, in Gayo Lues Regency. A descriptive research method with a purposive sampling technique was employed. Primary data were collected through field observations, species identification, interviews, questionnaires, and direct documentation, while secondary data were obtained from relevant institutions and literature related to the study area. The study involved 66 respondents, consisting of 43 respondents from Kedah Village and 23 respondents from Agusen Village. The collected data included the diversity of NTFP species, their utilization by local communities, and the economic potential of each identified species. The results revealed that 25 NTFP species were identified in Kedah Village, whereas 22 species were recorded in Agusen Village. The identified NTFPs included pine (Pinus merkusii), citronella (Cymbopogon nardus), patchouli (Pogostemon cablin), sugar palm (Arenga pinnata), areca nut (Areca catechu), cinnamon (Cinnamomum burmannii), rattan, candlenut, cocoa, honey, and various forest fruit species. These NTFPs are utilized by local communities as food sources, traditional medicines, spices, essential oil raw materials, handicraft materials, and sources of household income through commercial activities. Kedah Village is dominated by highland NTFP species, while Agusen Village exhibits a greater diversity of species that are primarily utilized for both household consumption and economic purposes. The findings indicate that differences in elevation influence the composition and diversity of NTFP species surrounding the Gunung Leuser area. The diversity of NTFPs found in both villages demonstrates the considerable potential of these forest resources to support sustainable community livelihoods. Therefore, appropriate management strategies emphasizing conservation, sustainable utilization, and community participation are essential to ensure that the ecological functions of the forest are maintained while maximizing the economic benefits of NTFPs for local communities.



    SERVICES DESK