Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES
Nur Zarifah Binti Zailani, PERCEPTIONS OF SMALLHOLDER FARMERS ON AGROECOLOGY IN CLIMATE-INDUCED DISASTER-PRONE AREAS IN KELANTAN, MALAYSIA. Banda Aceh Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan,2026

Proyeksi kenaikan suhu sebesar 1,1–1,5°c pada tahun 2050 diperkirakan akan memperparah risiko terkait iklim terhadap sistem pangan malaysia, khususnya bagi petani kecil di wilayah yang rawan bencana. meskipun agroekologi dipromosikan sebagai jalan menuju ketangguhan, keberlanjutan, dan ketahanan pangan, masih sedikit perhatian yang diberikan pada bagaimana petani di wilayah rentan memandang relevansi dan kelayakan penerapannya. studi ini mengkaji persepsi petani kecil di beberapa distrik terpilih di kelantan mengenai bahaya terkait iklim dan agroekologi, hambatan yang memengaruhi keterbukaan mereka terhadap praktik agroekologi, serta peran dukungan kelembagaan dalam transisi di masa depan. penelitian ini menggunakan desain metode campuran paralel konvergen. data kuantitatif dikumpulkan dari 384 petani, sedangkan data kualitatif diperoleh dari 23 petani melalui wawancara kelompok, serta dari empat petugas pertanian dan dua perwakilan lsm. data survei dianalisis secara deskriptif dan menggunakan regresi berganda, sementara data kualitatif dianalisis secara tematis dan diintegrasikan dengan temuan kuantitatif. secara umum, petani memiliki persepsi positif terhadap agroekologi, terutama terkait aspek ketangguhan, efisiensi penggunaan sumber daya, dan keadilan sosial. persepsi risiko iklim merupakan prediktor terkuat bagi persepsi terhadap agroekologi (β = 0,481; p < 0,001), diikuti oleh paparan informasi agroekologi dan dukungan kelembagaan. namun, persepsi positif tidak serta-merta berujung pada penerapan praktik tersebut karena petani masih memiliki kekhawatiran mengenai hasil panen, biaya, tenaga kerja, waktu tunggu hasil, ketidakpastian iklim, serta ketergantungan pada input eksternal dan subsidi. studi ini menyimpulkan bahwa transisi menuju agroekologi harus dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kondisi lokal, dan didukung oleh kelembagaan. mengintegrasikan pengetahuan lingkungan lokal dengan informasi iklim formal, memperkuat eksperimen berbasis komunitas, melaksanakan proyek percontohan sistem padi-bebek dan agroforestri yang sesuai dengan lokasi, serta menciptakan insentif pasar yang terverifikasi dapat meningkatkan kapasitas adaptasi dan ketangguhan iklim petani kecil. kata kunci: perubahan iklim; ketahanan pangan; agroekologi; persepsi; wilayah rawan bencana



Abstract

Projected warming of 1.1–1.5°C by 2050 is expected to intensify climate-related risks to Malaysia’s food systems, particularly for smallholder farmers in disaster-prone areas. Although agroecology is promoted as a pathway to resilience, sustainability, and food security, limited attention has been given to how farmers in vulnerable settings perceive its relevance and feasibility. This study examined how smallholder farmers in selected districts of Kelantan perceive climate-related hazards and agroecology, the barriers shaping their openness to agroecological practices, and the role of institutional support in future transition. A convergent parallel mixed-methods design was used. Quantitative data were collected from 384 farmers, while qualitative data were obtained from 23 farmers through group interviews, four agricultural officers, and two NGO representatives. Survey data were analyzed descriptively and through multiple regression, while qualitative data were thematically analyzed and integrated with the quantitative findings. Farmers generally held positive perceptions of agroecology, especially regarding resilience, resource-use efficiency, and social equity. Perceived climate risk was the strongest predictor of agroecology perception (β = .481, p < .001), followed by exposure to agroecological information and institutional support. However, positive perceptions did not automatically translate into practice because farmers remained concerned about yield, cost, labor, delayed results, climate uncertainty, and dependence on external inputs and subsidies. The study concludes that agroecological transition should be gradual, locally adapted, and institutionally supported. Integrating local environmental knowledge with formal climate information, strengthening community-based experimentation, piloting rice–duck and site-appropriate agroforestry systems, and creating verified market incentives may enhance smallholder adaptive capacity and climate resilience. Keywords: climate change; food security; agroecology; perception; disaster-prone areas



    SERVICES DESK