penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya proses pengeringan dalam menghasilkan simplisia jahe yang stabil, bermutu, dan memenuhi standar kualitas sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri fitofarmaka, pangan, dan obat tradisional. jahe segar memiliki kadar air yang tinggi sehingga rentan mengalami kerusakan, pertumbuhan mikroorganisme, serta penurunan kandungan senyawa bioaktif selama penyimpanan. oleh karena itu, proses pengeringan diperlukan untuk menurunkan kadar air hingga mencapai batas yang dipersyaratkan, memperpanjang masa simpan, serta mempertahankan karakteristik fisikokimia simplisia. penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik fisikokimia simplisia jahe yang dihasilkan melalui proses pengeringan menggunakan alat pengering kabinet pada suhu tetap 50°c dengan variasi ketebalan irisan 5 mm dan 7 mm. penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimen dengan dua perlakuan ketebalan irisan, yaitu 5 mm dan 7 mm. parameter yang diamati meliputi rendemen, kadar air, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, serta karakteristik warna (l*, a*, b*, dan Δe). seluruh parameter dianalisis secara deskriptif untuk membandingkan mutu simplisia jahe yang dihasilkan pada masing-masing perlakuan ketebalan irisan. hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengeringan menggunakan pengering kabinet pada suhu 50°c mampu menghasilkan simplisia jahe dengan karakteristik fisikokimia yang memenuhi persyaratan mutu. rendemen simplisia mengalami penurunan sebagai akibat berkurangnya kandungan air selama proses pengeringan. kadar air simplisia berkisar antara 10–14%, sedangkan kadar abu total berada pada kisaran 5–7%. kadar abu tidak larut asam, kadar sari larut air, dan kadar sari larut etanol juga memenuhi persyaratan farmakope herbal indonesia. pengamatan terhadap karakteristik warna menunjukkan adanya penurunan nilai kecerahan (l*), peningkatan nilai kemerahan (a*), serta perubahan nilai kekuningan (b*) yang ditunjukkan oleh peningkatan nilai Δe. perubahan tersebut mengindikasikan terjadinya pencoklatan dan degradasi pigmen selama proses pengeringan. secara keseluruhan, pengeringan kabinet pada suhu 50°c dengan variasi ketebalan irisan 5 mm dan 7 mm mampu menghasilkan simplisia jahe dengan mutu fisikokimia yang baik serta memenuhi persyaratan farmakope herbal indonesia. ketebalan irisan memengaruhi karakteristik simplisia yang dihasilkan, sehingga pengendalian ukuran irisan dan proses pengeringan menjadi faktor penting dalam memperoleh simplisia jahe yang berkualitas. hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam penerapan proses pengeringan simplisia jahe pada skala laboratorium maupun industri.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA SIMPLISIA JAHE (ZINGIBER OFFICINALE) DENGAN METODE PENGERINGAN KABINET. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2026
Baca Juga : POTENSI ANTIBAKTERI EKSTRAK JAHE (ZINGIBER OFFICINALE ROSCOE) TERHADAP PORPHYROMONAS GINGIVALIS SECARA IN VITRO (Ana Farhana, 2015)
Abstract
This research is motivated by the importance of the drying process in producing stable, high-quality ginger *simplisia* (dried raw material) that meets quality standards, enabling its use as a raw material in the phytopharmaceutical, food, and traditional medicine industries. Fresh ginger has a high moisture content, making it susceptible to spoilage, microbial growth, and a reduction in bioactive compound content during storage. Therefore, drying is necessary to reduce moisture content to required levels, extend shelf life, and preserve the physicochemical characteristics of the *simplisia*. This study aims to evaluate the physicochemical characteristics of ginger *simplisia* produced using a cabinet dryer at a constant temperature of 50°C, with slice thicknesses of 5 mm and 7 mm. An experimental method was employed, comparing these two slice thickness treatments. Observed parameters included yield, moisture content, total ash content, acid-insoluble ash content, water-soluble extract content, ethanol-soluble extract content, and color characteristics (L*, a*, b*, and ΔE). All parameters were analyzed descriptively to compare the quality of the ginger *simplisia* resulting from each slice thickness treatment. The results indicate that drying in a cabinet dryer at 50°C successfully produced ginger *simplisia* with physicochemical characteristics that meet quality requirements. The *simplisia* yield decreased due to moisture loss during the drying process. Moisture content ranged from 10% to 14%, while total ash content ranged from 5% to 7%. Acid-insoluble ash, water-soluble extract, and ethanol-soluble extract contents also met the requirements of the Indonesian Herbal Pharmacopoeia. Color analysis revealed a decrease in lightness (L*), an increase in redness (a*), and changes in yellowness (b*), as reflected by an increase in the ΔE value. These changes indicate the occurrence of browning and pigment degradation during the drying process. Overall, cabinet drying at 50°C using slice thicknesses of 5 mm and 7 mm yielded ginger *simplisia* (dried raw material) with good physicochemical quality that met the requirements of the Indonesian Herbal Pharmacopoeia. Slice thickness influenced the characteristics of the resulting *simplisia*; therefore, controlling slice size and the drying process is crucial for obtaining high-quality ginger *simplisia*. These findings are expected to serve as a reference for implementing ginger *simplisia* drying processes at both laboratory and industrial scales.
Baca Juga : MANFAAT ZINGIBERACEAE SEBAGAI TANAMAN OBAT DI KECAMATAN DARUL KAMAL, KABUPATEN ACEH BESAR (Devi Handayani, 2014)