Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
AUVAR INFAQA, EVALUASI PRODUKSI VFA DAN NH₃ PADA UJI KECERNAAN IN VITRO SILASE RUMPUT GAJAH (PENNISETUM PURPUREUM) DENGAN PEMBERIAN AKSELERATOR YANG BERBEDA. Banda Aceh Fakultas Pertanian Peternakan (S1),2026

Rumput gajah (pennisetum purpureum) merupakan hijauan pakan yang memiliki produktivitas biomassa tinggi, namun kualitasnya mudah menurun selama penyimpanan. pengolahan menjadi silase dengan penambahan akselerator fermentasi merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kualitas pakan, yang keberhasilannya dapat dievaluasi melalui kualitas fermentabilitasnya. penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh akselerator fermentasi yang berbeda, yaitu em4, belimbing wuluh, dan tepung sagu, terhadap produksi volatile fatty acids (vfa) dan amonia (nh₃) pada uji kecernaan in vitro silase rumput gajah, sekaligus menentukan akselerator yang paling optimal. penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (ral) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, yaitu p0 (kontrol, molases 3%), p1 (em4 3%), p2 (belimbing wuluh 3%), dan p3 (tepung sagu 10%); silase difermentasi selama 28 hari, kemudian dianalisis secara in vitro untuk mengukur vfa total dengan metode distilasi uap dan nh₃ dengan teknik mikrodifusi conway, dan data dianalisis menggunakan anova yang dilanjutkan dengan uji duncan (dmrt) apabila terdapat perbedaan nyata. hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian akselerator tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap produksi vfa maupun nh₃, meskipun kedua parameter cenderung meningkat pada perlakuan dengan penambahan akselerator, dengan nilai tertinggi pada p3 (vfa 129,369 mm; nh₃ 11,840 mm), diikuti p2, p1, dan p0, sementara seluruh nilai vfa (118,21–129,37 mm) dan nh₃ (11,03–11,84 mm) berada pada kisaran normal yang mendukung pertumbuhan mikroba rumen. hasil ini mengindikasikan bahwa ketiga akselerator aman digunakan sebagai aditif silase rumput gajah tanpa mengganggu keseimbangan fermentasi rumen, sehingga dapat menjadi alternatif praktis bagi peternak dalam meningkatkan kualitas silase sebagai pakan ruminansia.



Abstract

Elephant grass (Pennisetum purpureum) is a forage crop with high biomass productivity, but its quality deteriorates easily during storage. Ensiling with a fermentation accelerator is one way to preserve feed quality, and its success can be assessed by the resulting fermentation quality. This study aimed to evaluate the effects of different fermentation accelerators, namely EM4, bilimbi (Averrhoa bilimbi), and sago flour, on volatile fatty acid (VFA) and ammonia (NH₃) production during in vitro digestibility testing of elephant grass silage, and to compare their effects against a molasses-based control. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and four replications: P0 (control, 3% molasses), P1 (3% EM4), P2 (3% bilimbi), and P3 (10% sago flour). Silage was fermented for 28 days and then analyzed in vitro to measure total VFA using the steam distillation method and NH₃ using the Conway microdiffusion technique; data were analyzed using ANOVA, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) where significant differences were found. Results showed that accelerator treatment had no significant effect (P>0.05) on either VFA or NH₃ production, although both parameters tended to increase with accelerator addition, with the highest values recorded in P3 (VFA 129.369 mM; NH₃ 11.840 mM), followed by P2, P1, and P0; all VFA (118.21–129.37 mM) and NH₃ (11.03–11.84 mM) values fell within the normal range supporting rumen microbial growth. These findings indicate that all three accelerators are safe for use as additives in elephant grass silage without disrupting rumen fermentation balance, offering farmers a practical alternative for improving silage quality as ruminant feed.



    SERVICES DESK