Perancangan pasar seni di banda aceh ini berangkat dari kebutuhan akan wadah arsitektural yang mampu mengakomodasi kegiatan seni, budaya, dan ekonomi kreatif secara terpadu. banda aceh sebagai kota yang kaya akan tradisi senimulai dari tari, kriya, hingga kuliner khas belum memiliki pusat kegiatan seni yang terorganisir dan representatif. akibatnya, potensi ekonomi kreatif dan pariwisata budaya yang besar belum dimanfaatkan secara optimal. melalui proyek ini, dirancang sebuah kawasan pasar seni yang berfungsi sebagai ruang pamer, pertunjukan, workshop, edukasi, dan perdagangan produk seni lokal dalam satu lingkungan yang saling terintegrasi. pendekatan perancangan menggunakan tema arsitektur berbasis budaya (cultural based architecture), yaitu pendekatan yang menekankan integrasi nilai-nilai lokal aceh dengan kebutuhan ruang modern. tapak perancangan berada di kawasan pesisir ulee lheue, jl. sultan iskandar muda, dengan luas ±15.000 m² yang memiliki potensi strategis karena dekat dengan jalur wisata utama dan pusat kota. proses perancangan dilakukan melalui analisis kontekstual yang mencakup aspek tapak, pengguna, kegiatan, kebutuhan ruang, serta studi preseden dari pasar seni di asia tenggara seperti the red house (taipei), central market (kuala lumpur), dan pasar seni sukawati (bali). hasil analisis tersebut menghasilkan rancangan dengan organisasi ruang yang membagi zona utama menjadi area seni dan budaya, zona komersial modern, area edukasi dan workshop, food court, serta plaza publik sebagai ruang interaksi terbuka. bentuk massa bangunan terinspirasi dari dinamika seni aceh sebagai simbol identitas aceh. rancangan ini diharapkan mampu mewujudkan pasar seni yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat ekonomi kreatif, tetapi juga sebagai wadah pelestarian budaya dan pembelajaran publik. kata kunci: pasar seni, banda aceh, arsitektur berbasis budaya, ekonomi kreatif.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PERANCANGAN PASAR SENI DI BANDA ACEH. Banda Aceh Fakultas Teknik,2026
Baca Juga : PUSAT SENI RUPA DI BANDA ACEH TEMA : ARSITEKTUR EKSPRESIONIS (Risa Aryani, 2024)
Abstract
The design of the Art Market in Banda Aceh is driven by the need for an architectural facility capable of accommodating artistic, cultural, and creative economic activities within an integrated environment. As a city with a rich artistic heritage including traditional dance, handicrafts, and local culinary traditions Banda Aceh currently lacks a well-organized and representative center for arts and cultural activities. Consequently, the city's significant potential in the creative economy and cultural tourism has not been fully utilized. This project proposes an Art Market that serves as a comprehensive venue for exhibitions, performances, workshops, educational activities, and the trade of local artistic products within a unified spatial framework. The design adopts a Cultural-Based Architecture approach, emphasizing the integration of Acehnese cultural values with contemporary spatial and functional requirements. The proposed site is located in the coastal area of Ulee Lheue, along Sultan Iskandar Muda Street, covering approximately 15,000 m². The site offers strategic advantages due to its proximity to the city's primary tourism corridor and urban center. The design process is based on a contextual analysis encompassing site conditions, user characteristics, activity patterns, spatial requirements, and precedent studies of prominent art markets in Southeast Asia, including The Red House (Taipei), Central Market (Kuala Lumpur), and Sukawati Art Market (Bali). The findings of these analyses inform a spatial organization that consists of cultural and art zones, modern commercial areas, educational and workshop facilities, a food court, and a public plaza that functions as an open space for social interaction. The building massing is inspired by the dynamic character of Acehnese art, representing the cultural identity of Aceh through contemporary architectural expression. This design is expected to establish an Art Market that functions not only as a center for the creative economy but also as a platform for cultural preservation, public education, and community engagement. Keywords: Art Market, Banda Aceh, Cultural-Based Architecture, Creative Economy.
Baca Juga : PERANCANGAN GALERI SENI RUPA KONTEMPORER DI BANDA ACEH (Nurul Raudhatul Nafis, 2025)