Kawasan pusat kota lama dan masjid raya baiturrahman merupakan kawasan pusaka strategis di kota banda aceh yang menghadapi tekanan urbanisasi dan masih dikelola dengan orientasi fisik dan ekonomi. penelitian ini mengevaluasi kesesuaian pengelolaan kawasan terhadap prinsip historic urban landscape (hul) dan merumuskan strategi pengelolaannya. evaluasi terhadap 17 objek pusaka pada kawasan penelitian dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara dilakukan terhadap 16 informan, menggunakan skoring empat komponen hul yang ditriangulasi. hasil menunjukkan pengelolaan kawasan secara keseluruhan berada pada kategori sesuai dengan skor rata-rata 2,46. regulatory systems memperoleh skor tertinggi 2,81 dengan kategori sesuai, diikuti knowledge and planning tools 2,59 dengan kategori sesuai, financial tools 2,33 dengan kategori cukup sesuai, dan community engagement tools 2,08 dengan kategori cukup sesuai. karakter fisik dan tata ruang historis kawasan relatif terjaga, tetapi partisipasi masyarakat masih bersifat konsultatif dan insidental dan pembiayaan pelestarian masih bergantung penuh pada anggaran pemerintah. berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan 15 strategi pengelolaan yang disusun ke dalam kerangka enam langkah implementasi hul, meliputi penguatan cultural mapping, pembentukan forum multi-stakeholder, percepatan qanun pelestarian, serta pengembangan insentif dan kemitraan publik swasta untuk pembiayaan pelestarian berkelanjutan. kata kunci: analisis evaluatif, banda aceh, historic urban landscape, kawasan pusaka, strategi pengelolaan
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
STRATEGI PENGELOLAAN KAWASAN KOTA PUSAKA BERBASIS HISTORIC URBAN LANDSCAPE (HUL) DI BANDA ACEH (STUDI KASUS: KAWASAN PUSAT KOTA LAMA DAN MASJID RAYA BAITURRAHMAN). Banda Aceh Fakultas Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota,2026
Baca Juga : STRATEGI PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DI KAWASAN MASJID RAYA BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH (Teuku aliyyul murtadha, 2024)
Abstract
The Old City Centre and Masjid Raya Baiturrahman area is a strategic heritage zone in Banda Aceh facing increasing urbanisation pressure, with management still oriented toward physical and economic aspects. This study evaluates the compliance of the area's management with Historic Urban Landscape (HUL) principles and formulates management strategies accordingly. Evaluation of 17 heritage objects in the study area was conducted through field observation, and interviews were conducted with 16 informants, using a triangulated four component HUL scoring instrument. Results show that overall management falls into the compliant category, with an average score of 2.46. Regulatory Systems obtained the highest score of 2.81 in the compliant category, followed by Knowledge and Planning Tools at 2.59 in the compliant category, Financial Tools at 2.33 in the moderately compliant category, and Community Engagement Tools at 2.08 in the moderately compliant category. The area's physical character and historical spatial pattern remain relatively well preserved, but community participation is still consultative and incidental, and conservation funding remains entirely dependent on government budgets. Based on these findings, 15 management strategies were formulated within the six-step HUL implementation framework, including strengthening cultural mapping, establishing a multi-stakeholder forum, accelerating heritage conservation regulations, and developing incentive mechanisms and public-private partnerships for sustainable conservation financing. Keywords: Banda Aceh, Evaluative Analysis, Heritage Area, Historic Urban Landscape, Management Strategy