Pertanian perkotaan atau urban farming merupakan salah satu alternatif pemanfaatan ruang terbatas di wilayah perkotaan untuk mendukung ketahanan pangan, peningkatan ekonomi masyarakat, dan perbaikan kualitas lingkungan. kota banda aceh sebagai pusat perkotaan di provinsi aceh mengalami peningkatan jumlah penduduk, sehingga kebutuhan terhadap pangan dan pemanfaatan ruang kota secara produktif semakin penting. namun, kegiatan urban farming di kota banda aceh masih didominasi oleh skala rumah tangga dan usaha perorangan, sehingga keberlanjutannya perlu dikaji secara lebih komprehensif. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan urban farming di kota banda aceh serta mengidentifikasi atribut-atribut sensitif yang memengaruhi keberlanjutan pada dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi, dan kelembagaan. penelitian dilakukan di kota banda aceh dengan jumlah responden sebanyak 30 pelaku urban farming yang ditentukan menggunakan metode sensus. data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder, yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, serta studi literatur. metode analisis yang digunakan adalah pendekatan rap- urfarm dengan teknik multidimensional scaling (mds), dilengkapi dengan leverage analysis untuk menentukan atribut pengungkit dan monte carlo analysis untuk menguji kestabilan hasil analisis. hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan urban farming di kota banda aceh secara multidimensi berada pada kategori tidak berkelanjutan dengan nilai indeks sebesar 24,93%. secara parsial, dimensi ekologi memperoleh indeks 48,18% dan dimensi ekonomi 36,24%, sehingga keduanya termasuk kategori kurang berkelanjutan. sementara itu, dimensi sosial memperoleh indeks 24,15%, dimensi teknologi 21,33%, dan dimensi kelembagaan 0,24%, sehingga ketiganya termasuk kategori tidak berkelanjutan. atribut sensitif yang memengaruhi keberlanjutan meliputi keragaman jenis tanaman, pengelolaan limbah non-organik, sumber modal, subsidi pemerintah, pemasaran produk, pelatihan, kreativitas, teknologi pengairan, ketersediaan teknologi budidaya, struktur organisasi, koordinasi antar lembaga, dan ketersediaan lembaga pendanaan. oleh karena itu, peningkatan keberlanjutan urban farming di kota banda aceh perlu diprioritaskan pada penguatan kelembagaan, peningkatan penerapan teknologi, perluasan pelatihan, serta dukungan modal dan pendanaan.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS KEBERLANJUTAN PERTANIAN PERKOTAAN (URBAN FARMING) DI KOTA BANDA ACEH. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2026
Baca Juga : TINGKAT KOMPETENSI DAN MOTIVASI PETANI URBAN FARMING DI KOTA BANDA ACEH (Cut Wilda Marjani, 2024)
Abstract
Urban farming serves as an alternative for utilizing limited space in urban areas to support food security, boost the local economy, and improve environmental quality. As the urban center of Aceh Province, Banda Aceh City has experienced population growth, making the need for food and the productive use of urban space increasingly important. However, urban farming activities in Banda Aceh are still dominated by household scales and individual enterprises, requiring a more comprehensive assessment of their sustainability. This study aims to analyze the sustainability status of urban farming in Banda Aceh City and identify sensitive attributes that influence sustainability across the ecological, economic, social, technological, and institutional dimensions. The research was conducted in Banda Aceh City with a sample of 30 urban farming practitioners determined using a census method. The data consisted of primary and secondary data, collected through observation, interviews, documentation, and literature studies. The analytical method used was the Rap-UrFarm approach with Multidimensional Scaling (MDS) techniques, supplemented by leverage analysis to determine key leverage attributes and Monte Carlo analysis to test the stability of the analysis results. The results showed that the multidimensional sustainability status of urban farming in Banda Aceh City falls into the unsustainable category, with an index value of 24.93%. Partially, the ecological dimension achieved an index of 48.18% and the economic dimension 36.24%, placing both in the less sustainable category. Meanwhile, the social dimension obtained an index of 24.15%, the technological dimension 21.33%, and the institutional dimension 0.24%, categorizing all three as unsustainable. Sensitive attributes affecting sustainability include crop species diversity, inorganic waste management, sources of capital, government subsidies, product marketing, training, creativity, irrigation technology, availability of cultivation technology, organizational structure, inter-institutional coordination, and the availability of funding institutions. Therefore, enhancing the sustainability of urban farming in Banda Aceh City should prioritize institutional strengthening, increased technology adoption, expanded training, as well as capital and funding support.
Baca Juga : MANFAAT RUANG TERBUKA HIJAU BAGI MASYARAKAT PERKOTAAN DITINJAU DARI ASPEK SOSIAL DAN EKONOMI DI KOTA BANDA ACEH (Yusmawar, 2016)