Tanaman bawang merah (allium cepa l.) merupakan tanaman hortikultura terpenting di indonesia dan dibudidayakan secara luas. keberadaan serangga hama pada tanaman bawang merah menjadi salah satu penyebab penurunan hasil panen bawang merah dan peningkatan penggunaan pestisida kimia. salah satu usaha pengendalian hama dengan penerapan pengendalian hama terpadu (pht) yaitu dengan sistem budidaya tumpangsari, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui keanekaragaman serangga hama pada pada tanaman bawang merah yang ditumpangsarikan dengan tanaman tomat dan membandingkannya dengan tanaman bawang merah yang tidak ditumpangsarikan dengan tanaman tomat. penelitian ini dilaksanakan di dua lahan yang terletak di desa paloh batee kecamatan muara dua kota lhokseumawe. lahan pertama merupakan lahan tanaman bawang merah yang ditumpangsarikan dengan tanaman tomat, sementara lahan kedua merupakan lahan tanaman bawang merah (monokultur) dan identifikasi serangga hama dilakukan di laboratorium ilmu hama tumbuhan fakultas pertanian universitas syiah kuala. metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan perangkap pitfall trap, yellow trap, light trap, hand collecting, dan sweeping net. pengamatan dilakukan dua kali, yaitu pada 20 hst dan 50 hst. peubah yang diamati yaitu komposisi morfospesies berdasarkan ordo serangga hama, kelimpahan serangga hama, indeks keanekaragaman, indeks kemerataan, indeks similaritas, dan data dianalisis menggunakan uji-t. hasil penelitian menunjukkan bahwa pada lahan tumpangsari ditemukan 3 ordo dan 8 morfospesies serangga hama dengan total 237 individu diikuti dengan 5 morfospesies musuh alami, sedangkan pada lahan non-tumpangsari ditemukan 3 ordo dan 4 morfospesies dengan total 121 individu diikuti dengan 2 morfospesies musuh alami. spesies yang memiliki jumlah individu tertinggi pada lahan non-tumpangsari yaitu spodoptera exigua, sedangkan pada lahan tumpangsari yaitu bactrocera sp 1. hasil uji-t menunjukkan bahwa sistem tumpangsari berbeda nyata terhadap keanekaragaman serangga hama tetapi berbeda tidak nyata terhadap kelimpahan dan kemerataan serangga hama. nilai indeks similaritas tergolong tinggi karena terdapat 4 morfospesies yang sama pada kedua lahan, sehingga komunitas serangga hama pada lahan tumpangsari dan non-tumpangsari memiliki tingkat kemiripan yang tinggi. dapat disimpulkan bahwa sistem tumpangsari bawang merah dengan tomat berpengaruh terhadap keanekaragaman serangga hama dibandingkan sistem bawang merah monokultur dan diikuti dengan kehadiran musuh alami dengan jumlah spesies lebih banyak pada sistem tumpangsari bawang merah dengan tomat dibandingkan sistem bawang merah monokultur. namun, sistem tumpangsari belum berpengaruh terhadap kelimpahan dan kemerataan. nilai indeks similaritas yang tergolong tinggi menunjukkan bahwa komunitas serangga hama pada kedua sistem budidaya masih memiliki tingkat kemiripan yang tinggi. penelitian ini dapat dilanjutkan dengan mengkaji hubungan antara keberadaan serangga hama dengan musuh alami, sehingga efektivitas sistem tumpangsari sebagai salah satu komponen pengendalian hama terpadu dapat dievaluasi secara lebih menyeluruh. hasil tersebut dapat dipertimbangkan dan diterapkan bagi praktisi khususnya petani dan penyuluh pertanian.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KEANEKARAGAMAN SERANGGA HAMA PADA TANAMAN BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA L.) YANG DITUMPANGSARIKAN DAN TANPA DITUMPANGSARIKAN DENGAN TANAMAN TOMAT (SOLANUM LYCOPERSICUM L.). Banda Aceh Fakultas Pertanian Proteksi Tanaman,2026
Baca Juga : PERBANDINGAN DAYA HAMBAT PERASAN UMBI LAPIS BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM) DENGAN BAWANG BOMBAY (ALLIUM CEPA) TERHADAP PERTUMBUHAN CANDIDA ALBICANS SECARA IN VITRO (Putri Hastina, 2022)
Abstract
Shallots (Allium cepa L.) are the most important horticultural crop in Indonesia and are widely cultivated. The presence of insect pests on shallots is one of the causes of decreased yields and increased use of chemical pesticides. One pest control effort is the implementation of integrated pest management (IPM), namely through an intercropping system. Therefore, this study aims to study and determine the diversity of insect pests in shallots intercropped with tomatoes and compare them with shallots not intercropped with tomatoes. This research was conducted in two fields located in Paloh Batee Village, Muara Dua District, Lhokseumawe City. The first field was a shallot field intercropped with tomatoes, while the second field was a shallot field (monoculture). Insect pest identification was conducted at the Plant Pest Science Laboratory, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University. The method used was descriptive quantitative, using pitfall traps, yellow traps, light traps, hand collection, and sweeping nets. Observations were conducted twice: at 20 and 50 days after planting. The observed variables were morphospecies composition based on insect pest orders, insect pest abundance, diversity index, evenness index, and similarity index, and data were analyzed using a t-test. The results showed that in the intercropped area, 3 orders and 8 morphospecies of insect pests were found, totaling 237 individuals, accompanied by 5 morphospecies of natural enemies. Meanwhile, in the non-intercropped area, 3 orders and 4 morphospecies were found, totaling 121 individuals, accompanied by 2 morphospecies of natural enemies. The species with the highest number of individuals in the non-intercropped area was Spodoptera exigua, while in the intercropped area, it was Bactrocera sp. 1. The t-test results showed that the intercropping system significantly affected insect pest diversity but not significantly affected insect pest abundance and evenness. The similarity index value was high because there were four identical morphospecies in both areas, indicating a high level of similarity between the insect pest communities in the intercropped and non-intercropped areas. It can be concluded that the shallot-tomato intercropping system has an effect on the diversity of insect pests compared to the shallot monoculture system and is followed by the presence of natural enemies with a greater number of species in the shallot-tomato intercropping system compared to the shallot monoculture system. However, the intercropping system has not yet affected the abundance and evenness. The relatively high similarity index value indicates that the insect pest communities in both cultivation systems still have a high level of similarity. This research can be continued by examining the relationship between the presence of insect pests and natural enemies, so that the effectiveness of the intercropping system as a component of integrated pest management can be evaluated more comprehensively. These results can be considered and applied by practitioners, especially farmers and agricultural extension workers.