Salah satu permasalahan geoteknik yang sering dijumpai pada tambang terbuka adalah floor heave, yaitu kondisi terangkatnya lantai tambang akibat tekanan air pori dari akuifer yang melebihi kemampuan lapisan penahan setelah proses penggalian. kajian potensi floor heave umumnya masih mengandalkan data pengeboran yang berbentuk titik sehingga belum mampu menggambarkan kondisi bawah permukaan secara lateral. penelitian ini bertujuan mengidentifikasi sebaran lapisan penahan dan akuifer, menentukan ketebalan lapisan penahan, serta mengevaluasi potensi floor heave melalui integrasi metode geolistrik 2d dan well logging. penelitian dilakukan menggunakan metode geolistrik resistivitas 2d dengan konfigurasi wenner–schlumberger pada tiga lintasan pengukuran. penampang resistivitas yang diperoleh dikorelasikan dengan data well log untuk meningkatkan keandalan interpretasi litologi bawah permukaan. selanjutnya, hasil interpretasi digunakan untuk menentukan ketebalan lapisan penahan di atas akuifer, sedangkan data muka air tanah dimanfaatkan untuk menghitung pressure head, tekanan air pori, dan faktor keamanan (fk) terhadap potensi floor heave. hasil penelitian menunjukkan bahwa bawah permukaan area penelitian tersusun oleh litologi lempung jenuh air, batu bara muda, lempung/lempung pasiran, dan pasir/batu pasir. lapisan pasir diinterpretasikan sebagai akuifer, sedangkan lapisan di atasnya berfungsi sebagai lapisan penahan dengan ketebalan berkisar antara 18-40 m. berdasarkan hasil perhitungan faktor keamanan, empat area yaitu area a, b, b’ dan c’ memiliki nilai fk < 1,25 sehingga dikategorikan berpotensi mengalami floor heave, sedangkan dua area lainnya berada pada kondisi aman. hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi data geolistrik 2d dan well logging mampu memberikan gambaran kondisi bawah permukaan secara lateral yang lebih komprehensif dibandingkan penggunaan data pengeboran saja, sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam evaluasi potensi floor heave dan perencanaan pengendalian muka air tanah pada tambang terbuka.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
IDENTIFIKASI POTENSI FLOOR HEAVE PADA LANTAI TAMBANG BATU BARA TERBUKA MENGGUNAKAN INTEGRASI GEOLISTRIK 2D DAN WELL LOGGING. Banda Aceh Fakultas Teknik Geofisika,2026
Baca Juga : PENGGUNAAN ABU BATU BARA SEBAGAI FILLER DENGAN MENGGUNAKAN VARIASI 0%, 50%, DAN 100% PADA CAMPURAN ASPAL BETON HRS-WC (YUSUF IRVANDI, 2020)
Abstract
One of the geotechnical problems frequently encountered in open-pit mining is floor heave, which occurs when pore water pressure from an underlying aquifer exceeds the bearing capacity of the overlying confining layer after excavation. Floor heave assessments generally rely on point-based drilling data, which provide limited information on the lateral distribution of subsurface conditions. This study aims to identify the distribution of the confining layer and aquifer, determine the confining layer thickness, and evaluate the potential for floor heave by integrating 2D electrical resistivity and well-log data. The study employed the 2D electrical resistivity method using the Wenner–Schlumberger configuration along three survey lines. The resistivity sections were correlated with well-log data to improve the reliability of lithological interpretation. The interpreted subsurface model was then used to determine the thickness of the confining layer, while groundwater-level data were processed to calculate the pressure head and the factor of safety (FoS) for floor heave evaluation. The results indicate that the subsurface consists of water-saturated clay, young coal, clay/sandy clay, and sand/sandstone. The sand layer is interpreted as an aquifer, whereas the overlying deposits act as a confining layer with thicknesses ranging from 18 to 40 m. Based on the calculated safety factors, Areas A, B, B’, and C’ have FoS values below 1.25, indicating potential floor heave, while Areas A’ and C are classified as stable. The integration of 2D electrical resistivity and well-log data provides a more comprehensive understanding of subsurface conditions than drilling data alone, supporting more reliable floor heave assessment and groundwater management in open-pit mines.