Kopi arabika merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi sumber pendapatan utama masyarakat di kabupaten aceh tengah. sebagian besar petani kopi di kecamatan ketol mengelola lahan dalam kawasan hutan kemasyarakatan (hkm) dengan menerapkan sistem agroforestri. meskipun memiliki potensi yang besar, petani masih menghadapi berbagai kendala dalam pemasaran, seperti keterbatasan akses informasi harga, lokasi kebun yang jauh dari pusat pemasaran. kondisi tersebut menyebabkan terbentuknya beberapa saluran pemasaran yang diduga memiliki tingkat efisiensi yang berbeda. penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur saluran pemasaran kopi agroforestri petani hkm di kecamatan ketol, kabupaten aceh tengah, serta menganalisis tingkat efisiensi pada setiap saluran pemasaran. penelitian dilaksanakan pada januari–maret 2026 di desa bah, desa bintang pepara, dan desa kekuyang, kecamatan ketol, kabupaten aceh tengah. penentuan lokasi dilakukan secara purposive karena ketiga desa merupakan kawasan hutan kemasyarakatan. responden penelitian terdiri atas 80 petani yang dipilih menggunakan metode random sampling, sedangkan responden lembaga pemasaran ditentukan dengan metode snowball sampling. analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengidentifikasi saluran pemasaran, sedangkan efisiensi pemasaran dianalisis menggunakan margin pemasaran, farmer’s share, dan efisiensi pemasaran menurut soekartawi. hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua saluran pemasaran kopi agroforestri di kecamatan ketol, yaitu saluran i: petani–pedagang desa–pedagang besar–konsumen dan saluran ii: petani–pedagang besar–konsumen. saluran i merupakan saluran yang paling banyak digunakan petani karena keterbatasan akses transportasi, jauhnya lokasi kebun, dan terbatasnya informasi pasar. hasil analisis menunjukkan bahwa kedua saluran pemasaran tergolong efisien dengan nilai efisiensi pemasaran masing-masing sebesar 21,6% pada saluran i dan 20,7% pada saluran ii, yang berada di bawah kriteria efisiensi menurut soekartawi (
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
EFISIENSI SALURAN PEMASARAN KOPI AGROFORESTRI PETANI HUTAN KEMASYARAKATAN DI KECAMATAN KETOL KABUPATEN ACEH TENGAH. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2026
Baca Juga : STRUKTUR DAN KOMPOSISI JENIS AGROFORESTRI KOPI ARABIKA DI RNPERHUTANAN SOSIAL DESA KEKUYANG KECAMATAN KETOL KABUPATEN RNACEH TENGAH (Septhia Ananda Maizhar, 2025)
Abstract
Arabica coffee is a key plantation commodity with high economic value and serves as a primary source of income for the community in Central Aceh Regency. Most coffee farmers in Ketol District cultivate land within Community Forest (HKm) areas using agroforestry systems. Despite this significant potential, farmers still face various marketing challenges, such as limited access to price information and the remote location of their farms relative to marketing centers. These conditions have led to the emergence of several marketing channels, which are presumed to have varying levels of efficiency. This study aims to identify the marketing channel structures for agroforestry coffee produced by HKm farmers in Ketol District, Central Aceh Regency, and to analyze the efficiency level of each channel. The research was conducted from January to March 2026 in Bah, Bintang Pepara, and Kekuyang villages, Ketol District, Central Aceh Regency. The study sites were selected purposively because all three villages are designated Community Forest areas. The farmer respondents consisted of 80 individuals selected via random sampling, while marketing institution respondents were identified using snowball sampling. Descriptive analysis was employed to identify the marketing channels, whereas marketing efficiency was analyzed using marketing margins, the Farmer’s Share, and Soekartawi’s marketing efficiency formula. The results indicate the existence of two marketing channels for agroforestry coffee in Ketol District: Channel I (Farmer–Village Trader–Wholesaler–Consumer) and Channel II (Farmer–Wholesaler–Consumer). Channel I is the most frequently used by farmers due to limited transportation access, the remote location of farms, and restricted market information. The analysis results indicate that both marketing channels are efficient, with marketing efficiency values of 21.6% for Channel I and 20.7% for Channel II—both falling below the efficiency threshold defined by Soekartawi (
Baca Juga : ANALISIS EFESIENSI SALURAN PEMASARAN TOMAT DI KECAMATAN BUKIT KABUPATEN BENER MERIAH (Muhammad Haris Rizky, 2025)