Disleksia merupakan gangguan belajar neurologis yang memengaruhi kemampuan membaca dan menulis, dengan prevalensi diperkirakan mencapai 10–20% pada anak di indonesia. diagnosis konvensional umumnya masih bergantung pada asesmen psikometrik yang bersifat subjektif serta memerlukan waktu yang relatif lama. penelitian ini mengusulkan pendekatan explainable machine learning berbasis algoritma random forest dan metode interpretabilitas shap (shapley additive explanations) untuk menganalisis pola eye-tracking pada anak disleksia dan non disleksia menggunakan dataset etdd70. dataset tersebut memuat data eye-tracking dari 70 anak berusia 9–10 tahun, yang terdiri atas 35 anak disleksia dan 35 anak non disleksia, yang menjalani tiga tugas membaca terkontrol. sebanyak 24 fitur akhir (8 fitur × 3 tugas) diperoleh melalui proses seleksi fitur berjenjang berdasarkan analisis korelasi, pemeriksaan variansi, dan justifikasi ilmiah. model dilatih dan dievaluasi menggunakan skema stratified 5-fold cross-validation pada level subjek untuk mencegah kebocoran data (data leakage). hasil evaluasi menunjukkan performa model yang baik dengan accuracy 0,857, precision 0,906, recall 0,800, f1-score 0,843, dan auc-roc 0,906. analisis shap mengungkapkan bahwa fitur dwell_time_trial pada tugas t1, t4, dan t5 merupakan kontributor utama terhadap prediksi model, dengan t1_dwell_time_trial menempati peringkat tertinggi secara global, diikuti oleh n_fix_trial pada tugas t4. arah kontribusi seluruh fitur konsisten dengan teori kognitif disleksia, di mana anak disleksia menunjukkan durasi membaca, jumlah fiksasi, dan regresi yang lebih tinggi, serta amplitudo sakade yang lebih rendah dibandingkan anak non-disleksia. penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi random forest dan shap mampu menghasilkan model klasifikasi disleksia yang tidak hanya akurat, tetapi juga interpretatif secara ilmiah. kata kunci: disleksia, eye-tracking, random forest, explainable machine learning, shap, etdd70
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PENDEKATAN EXPLAINABLE MACHINE LEARNING UNTUK ANALISIS POLA EYE-TRACKING PADA ANAK DISLEKSIA DAN NON-DISLEKSIA. Banda Aceh Fakultas MIPA (S1),2026
Baca Juga : IMPLEMENTASI DEEP LEARNING UNTUK PREDIKSI AWAL DISGRAFIA DAN DISLEKSIA MELALUI ANALISIS TULISAN TANGAN (Tyara Raynasari, 2025)
Abstract
Dyslexia is a neurological learning disorder that affects reading and writing abilities, with an estimated prevalence of 10–20% among children in Indonesia. Conventional diagnosis generally still relies on psychometric assessments that are subjective and require a relatively long time. This study proposes an Explainable Machine Learning approach based on the Random Forest algorithm and the SHAP (SHapley Additive exPlanations) interpretability method to analyze eye-tracking patterns in dyslexic and non-dyslexic children using the ETDD70 dataset. The dataset contains eye tracking data from 70 children aged 9–10 years, consisting of 35 dyslexic children and 35 non-dyslexic children, who underwent three controlled reading tasks. A total of 24 final features (8 features × 3 tasks) were obtained through a tiered feature selection process based on correlation analysis, variance inspection, and scientific justification. The model was trained and evaluated using a subject-level Stratified 5 Fold Cross-Validation scheme to prevent data leakage. The evaluation results show good model performance, with an average accuracy of 0.857, precision of 0.906, recall of 0.800, F1-score of 0.843, and AUC-ROC of 0.906. SHAP analysis reveals that the dwell_time_trial feature in tasks T1, T4, and T5 is the main contributor to the model's predictions, with T1_dwell_time_trial ranking highest globally, followed by n_fix_trial in task T4. The direction of contribution of all features is consistent with cognitive theories of dyslexia, in which dyslexic children show longer reading duration, higher fixation counts, and more regressions, as well as lower saccade amplitude compared to non-dyslexic children. This study demonstrates that the integration of Random Forest and SHAP can produce a dyslexia classification model that is not only accurate but also scientifically interpretable. Keywords: dyslexia, eye-tracking, Random Forest, Explainable Machine Learning, SHAP, ETDD70
Baca Juga : KLASIFIKASI DATA SAMPAH ORGANIK DAN ANORGANIK MENGGUNAKAN TEACHABLE MACHINE DAN TENSORFLOW (Syalsa Selvira Aulia, 2023)