Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES
Zahara A`Lia, AN ANALYSIS OF NON-STANDARD AFFIXATION FORMS IN INDONESIAN-ENGLISH CODE-MIXING USED BY GENERATION Z IN INDONESIA: A QUALITATIVE STUDY OF YOUTUBE PODCASTS. Banda Aceh Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris,2026

Zahara a’lia. (2026). analisis bentuk afiksasi nonstandar dalam campur kode bahasa indonesia–bahasa inggris yang digunakan oleh generasi z di indonesia: sebuah studi kualitatif pada podcast youtube [tesis magister universitas syiah kuala]. di bawah bimbingan prof. dr. yunisrina qismullah yusuf, s.pd., m.ling. dan dr. dohra fitrisia, s.pd., m.ed. penelitian ini mengkaji bentuk afiksasi nonstandar dan campur kode bahasa indonesia–bahasa inggris yang digunakan oleh generasi z di indonesia. penelitian ini secara khusus berfokus pada bentuk afiksasi nonstandar pada prefiks dan sufiks serta campur kode yang muncul dalam interaksi lisan informal. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan data yang dikumpulkan dari sepuluh video podcast youtube yang menampilkan penutur generasi z (gen z). data diperoleh melalui teknik menyimak, observasi, dan pencatatan, kemudian dianalisis menggunakan analisis isi kualitatif. hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama, yaitu bentuk afiksasi nonstandar bahasa indonesia, campur kode intra-kalimat (intra-sentential code-mixing), dan campur kode intra-leksikal (intra-lexical code-mixing). sebanyak 290 data berhasil diidentifikasi, yang terdiri atas 44 bentuk afiksasi nonstandar bahasa indonesia, 190 kasus campur kode intra-kalimat, dan 56 kasus campur kode intra-leksikal. bentuk afiksasi nonstandar bahasa indonesia selanjutnya dikategorikan menjadi bentuk prefiks nonstandar, bentuk sufiks nonstandar, serta bentuk gabungan prefiks–sufiks nonstandar. bentuk-bentuk afiksasi nonstandar tersebut umumnya melibatkan penggantian prefiks baku bahasa indonesia men- dan ter- dengan bentuk informal seperti nge-, ng-, ke-, ne-, dan ny-, serta penyederhanaan sufiks -kan dan -i menjadi -in. selain itu, campur kode intra-kalimat terjadi ketika kata, frasa, atau kalimat berbahasa inggris disisipkan ke dalam kalimat berbahasa indonesia. sementara itu, campur kode intra-leksikal terjadi ketika afiks bahasa indonesia dilekatkan pada kata dasar bahasa inggris sehingga menghasilkan bentuk hibrida, seperti di-rescue, nge-freeze, se-detail, nge-filter, di-chat, marketing-nya, grade-nya, culture-nya, connect-in, dan make up-in. temuan penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena bentuk afiksasi nonstandar dan campur kode merupakan pola kebahasaan yang sistematis serta dipengaruhi oleh penggunaan bahasa informal, bilingualisme, dan kebiasaan berkomunikasi di era digital. penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman mengenai bagaimana generasi z memodifikasi pola bahasa dalam konteks bilingual serta menegaskan sifat penggunaan bahasa lisan modern yang terus berkembang dan fleksibel. kata kunci: bentuk afiksasi nonstandar, prefiks dan sufiks, campur kode, generasi z.



Abstract

ABSTRACT Zahara A’lia. (2026). “An Analysis of Non-Standard Affixation Forms in Indonesian-English Code-Mixing Used by Generation Z in Indonesia: A Qualitative Study of YouTube Podcasts” [Graduate thesis Universitas Syiah Kuala]. Under the supervision of Prof. Dr. Yunisrina Qismullah Yusuf, S.Pd., M.Ling., and Dr. Dohra Fitrisia, S.Pd., M.Ed. This study investigates non-standard affixation forms and code-mixing within Indonesian–English spoken among Generation Z in Indonesia. The study focuses specifically on non-standard affixation forms in prefixes and suffixes and code-mixing that occur in informal spoken interactions. A qualitative approach was employed in this study, using data collected from ten YouTube podcast videos featuring Generation Z (Gen Z) speakers. The data were gathered through listening, observation, and note-taking techniques, and analyzed using qualitative content analysis. The findings show three themes namely non-standard Indonesian affixation forms, intra-sentential code-mixing, and intra-lexical code-mixing. A total of 290 instances were identified, consisting of 44 non-standard Indonesian affixation forms, 190 intra-sentential code-mixing and 56 intra-lexical code-mixing cases. The Indonesian non-standard affixation forms are further categorized into non-standard prefix forms, non-standard suffix forms, and combined non-standard prefix–suffix forms. These non-standard affixation forms commonly involve the substitution of the standard Indonesian prefix meN- and ter- with informal forms such as nge-, ng-, ke-, ne-, and ny- as well as the reduction of suffixes -kan and -i into -in. Additionally, intra-sentential code-mixing occurs when English word, phrase, and sentence inserts into Indonesian sentence. Furthermore, intra-lexical code-mixing occurs when Indonesian affixes are attached to English base words, producing hybrid forms such as di-rescue, nge-freeze, se-detail, nge-filter, di-chat, marketing-nya, grade-nya, culture-nya, connect-in, and make up-in. The findings suggest that the phenomena of non-standard affixations form and code-mixing are structured and shaped by informal language usage, bilingualism, and digital communication habits. This study adds to the understanding of how Generation Z modifies language patterns within bilingual settings and emphasizes the evolving and flexible nature of language use in modern spoken discourse. Keywords: Non-standard affixation form, prefix and suffix, code-mixing, Generation Z.



    SERVICES DESK