Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
M.FAJAR RIYANDA, FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN PETANI KELAPA SAWIT RAKYAT (SMALLHOLDER) TERHADAP GOOD AGRICULTURAL PRACTICE (GAP) DI KABUPATEN NAGAN RAYA. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2026

Kelapa sawit merupakan komoditas strategis yang berkontribusi besar terhadap perekonomian indonesia maupun provinsi aceh. kabupaten nagan raya menjadi daerah dengan luas perkebunan kelapa sawit rakyat terbesar di aceh, namun produktivitasnya masih berada di bawah rata-rata produktivitas provinsi. kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam pengelolaan budidaya kelapa sawit rakyat, meskipun pemerintah telah mendorong penerapan good agricultural practice (gap) sebagai pedoman budidaya yang berkelanjutan. di lapangan, sebagian besar petani belum mengenal gap secara formal dan masih mengandalkan pengalaman serta praktik budidaya turun-temurun, sehingga tingkat pengetahuan petani menjadi faktor penting dalam mendukung adopsi inovasi budidaya yang lebih baik. oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan petani kelapa sawit rakyat terhadap gap serta menganalisis faktor-faktor sosial ekonomi yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan tersebut di kabupaten nagan raya. penelitian dilaksanakan di kabupaten nagan raya pada bulan maret-april 2026 dengan lokasi penelitian di kecamatan darul makmur, tadu raya, dan tripa makmur yang dipilih secara purposive karena merupakan wilayah dengan luas perkebunan kelapa sawit rakyat terbesar. populasi penelitian berjumlah 27.006 petani kelapa sawit rakyat, sedangkan sampel sebanyak 100 responden ditentukan menggunakan rumus slovin dan didistribusikan ke dalam tiga kecamatan melalui pendekatan proportionate stratified random sampling. penelitian menggunakan data primer yang diperoleh melalui kuesioner dan wawancara mendalam serta data sekunder yang berasal dari badan pusat statistik, dinas perkebunan, dan berbagai literatur pendukung. analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif untuk mengukur tingkat pengetahuan petani, sedangkan hubungan antara karakteristik sosial ekonomi dengan tingkat pengetahuan dianalisis menggunakan tabulasi silang (crosstab), uji chi-square, dan cramer's v. hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan petani kelapa sawit rakyat terhadap gap secara keseluruhan berada pada kategori tinggi dengan skor rata-rata 7,05. dari lima indikator yang diukur, indikator pemanenan memperoleh skor tertinggi (7,81), diikuti pengendalian hama dan gulma (7,34), penanaman (7,20), serta pembukaan lahan (6,79) yang seluruhnya berada pada kategori tinggi. sementara itu, indikator pemeliharaan memperoleh skor terendah (6,13) dan masih berada pada kategori sedang, sehingga menjadi aspek yang paling membutuhkan peningkatan pemahaman. hasil analisis hubungan menunjukkan bahwa usia, pengalaman bertani, dan tingkat pendidikan memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat pengetahuan petani terhadap gap dengan kekuatan hubungan sedang, sedangkan luas lahan dan pendapatan rata-rata tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. temuan ini mengindikasikan bahwa karakteristik individu lebih berperan dalam membentuk pengetahuan petani dibandingkan kepemilikan sumber daya ekonomi. berdasarkan temuan tersebut, peningkatan kapasitas petani sebaiknya difokuskan pada aspek pemeliharaan tanaman melalui penyuluhan yang lebih intensif mengenai pemupukan berimbang, pemangkasan pelepah, pengelolaan gulma, sanitasi kebun, dan tata air sesuai prinsip gap. program penyuluhan tidak hanya perlu menekankan penyampaian materi secara teoritis, tetapi juga harus dilengkapi dengan praktik lapangan dan pendampingan berkelanjutan agar pengetahuan petani dapat diterapkan secara nyata dalam kegiatan budidaya. mengingat usia, pengalaman bertani, dan tingkat pendidikan terbukti berhubungan dengan tingkat pengetahuan, strategi pemberdayaan petani juga perlu disesuaikan dengan karakteristik sasaran sehingga proses penyebaran inovasi gap menjadi lebih efektif, mampu meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat, dan mendukung pengelolaan usaha tani yang berkelanjutan.



Abstract

Oil palm is a strategic commodity that contributes significantly to the economies of both Indonesia and Aceh Province. Nagan Raya Regency is the district with the largest smallholder oil palm plantation area in Aceh, yet its productivity remains below the provincial average. This condition indicates a persistent gap in smallholder oil palm cultivation management, despite government efforts to promote Good Agricultural Practice (GAP) as a guideline for sustainable cultivation. In the field, most farmers are not formally familiar with GAP and still rely on experience and traditional cultivation practices passed down through generations, making farmers' level of knowledge an important factor in supporting the adoption of improved cultivation innovations. Therefore, this study aims to identify the level of smallholder oil palm farmers' knowledge of GAP and to analyze the socioeconomic factors associated with that level of knowledge in Nagan Raya Regency. The research was conducted in Nagan Raya Regency in March–April 2026, with research locations in the sub-districts of Darul Makmur, Tadu Raya, and Tripa Makmur, which were purposively selected as the areas with the largest smallholder oil palm plantation area. The study population consisted of 27,006 smallholder oil palm farmers, while a sample of 100 respondents was determined using the Slovin formula and distributed across the three sub-districts using a Proportionate Stratified Random Sampling approach. The study used primary data obtained through questionnaires and in-depth interviews, as well as secondary data from the Central Statistics Agency (BPS), the Plantation Office, and various supporting literature. Data analysis was carried out using descriptive statistics to measure farmers' level of knowledge, while the relationship between socioeconomic characteristics and level of knowledge was analyzed using cross-tabulation (crosstab), the Chi-Square test, and Cramer's V. The results show that smallholder oil palm farmers' overall level of knowledge of GAP falls into the high category, with an average score of 7.05. Of the five indicators measured, the harvesting indicator obtained the highest score (7.81), followed by pest and weed control (7.34), planting (7.20), and land clearing (6.79), all of which fall into the high category. Meanwhile, the maintenance indicator obtained the lowest score (6.13) and remains in the moderate category, making it the aspect most in need of improved understanding. The relationship analysis results show that age, farming experience, and education level have a significant relationship with farmers' level of GAP knowledge, with a moderate strength of association, while land area and average income show no significant relationship. These findings indicate that individual characteristics play a greater role in shaping farmers' knowledge than ownership of economic resources. Based on these findings, farmer capacity-building efforts should focus on the maintenance aspect through more intensive extension programs covering balanced fertilization, frond pruning, weed management, plantation sanitation, and water management in accordance with GAP principles. Extension programs need not only to deliver material theoretically but must also be complemented with field practice and ongoing mentoring so that farmers' knowledge can be genuinely applied in cultivation activities. Given that age, farming experience, and education level have been shown to be related to level of knowledge, farmer empowerment strategies should also be tailored to the characteristics of the target group, so that the dissemination of GAP innovations becomes more effective, is able to increase smallholder oil palm plantation productivity, and supports sustainable farm management.



    SERVICES DESK