Sapi aceh merupakan salah satu plasma nutfah ternak lokal indonesia yang memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan tropis dan berperan penting dalam pelestarian sumber daya genetik ternak. upaya peningkatan mutu genetik sapi aceh dapat dilakukan melalui program pemuliaan yang terarah, salah satunya dengan seleksi induk berdasarkan kemampuan produksinya. most probable producing ability (mppa) merupakan parameter yang dapat digunakan untuk menduga kemampuan produksi seekor induk berdasarkan catatan performa sebelumnya. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi bobot lahir pedet sapi aceh pada dua paritas, menghitung nilai ripitabilitas bobot lahir, menentukan nilai mppa masing-masing induk, serta mengidentifikasi induk yang memiliki kemampuan produksi terbaik berdasarkan nilai mppa. penelitian dilaksanakan di bptu-hpt indrapuri, kabupaten aceh besar, menggunakan data sekunder dari 39 ekor induk sapi aceh yang memiliki catatan bobot lahir pedet pada paritas pertama dan kedua. data dianalisis secara deskriptif untuk memperoleh nilai rata-rata dan simpangan baku. uji normalitas dilakukan menggunakan shapiro-wilk, sedangkan uji t digunakan untuk membandingkan bobot lahir berdasarkan jenis kelamin pedet. hubungan antara paritas dan bobot lahir dianalisis menggunakan korelasi pearson. selanjutnya dilakukan perhitungan nilai ripitabilitas dan mppa sebagai dasar seleksi induk. hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot lahir pedet pada paritas pertama sebesar 17,33 kg dan pada paritas kedua sebesar 16,08 kg. hasil uji t menunjukkan bahwa bobot lahir pedet jantan dan betina tidak berbeda nyata (p>0,05), sedangkan analisis korelasi pearson menunjukkan bahwa hubungan antara paritas dan bobot lahir juga tidak signifikan (p>0,05). nilai ripitabilitas bobot lahir yang diperoleh sebesar 0,330 dan termasuk kategori sedang, yang menunjukkan bahwa bobot lahir memiliki tingkat konsistensi yang cukup baik antarparitas. hasil perhitungan mppa menunjukkan adanya variasi kemampuan produksi antarinduk sapi aceh. nilai mppa tertinggi diperoleh induk nomor 1779 sebesar 19,59 kg, sedangkan nilai terendah diperoleh induk nomor 1741 sebesar 15,50 kg. berdasarkan distribusi nilai mppa, sebanyak 12 induk (30,77%) termasuk kategori tinggi, 14 induk (35,90%) kategori sedang, dan 13 induk (33,33%) kategori rendah. variasi nilai mppa menunjukkan adanya perbedaan kemampuan produksi antarinduk, sehingga mppa dapat digunakan sebagai dasar seleksi indukan unggul. penerapan seleksi berdasarkan mppa diharapkan mampu mendukung peningkatan mutu genetik dan keberhasilan program pembibitan sapi aceh di bptu-hpt indrapuri.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
EVALUASI MOST PROBABLE PRODUCING ABILITY (MPPA) BOBOT LAHIR SAPI ACEH PADA DUA PARITAS DI BPTU-HPT INDRAPURI SEBAGAI DASAR SELEKSI INDUKAN UNGGUL. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2026
Baca Juga : PERBANDINGAN LUAS RONGGA PELVIS SAPI ACEH INDUKAN DAN SAPI BALI INDUKAN DI ACEH BESAR (Dara Aftika Nasution, 2017)
Abstract
The Aceh cattle breed represents a valuable local Indonesian livestock genetic resource, characterized by strong adaptability to tropical environments and a significant role in the conservation of livestock genetic diversity. Efforts to enhance the genetic quality of Aceh cattle can be pursued through targeted breeding programs, such as selecting dams based on their production capabilities. Most Probable Producing Ability (MPPA) is a parameter used to estimate a dam's production potential based on past performance records. This study aimed to examine variations in Aceh cattle calf birth weights across two parities, calculate birth weight repeatability, determine the MPPA for each dam, and identify the dams with the best production potential based on MPPA values. The research was conducted at BPTU-HPT Indrapuri, Aceh Besar Regency, utilizing secondary data from 39 Aceh cattle dams with recorded calf birth weights for both the first and second parities. Data were analyzed descriptively to determine mean values and standard deviations. Normality was assessed using the Shapiro-Wilk test, while a t-test was employed to compare birth weights based on calf sex. The relationship between parity and birth weight was analyzed using Pearson correlation. Subsequently, repeatability and MPPA values were calculated to serve as a basis for dam selection. The results indicated that the average calf birth weight was 17.33 kg for the first parity and 16.08 kg for the second parity. The t-test revealed no significant difference in birth weight between male and female calves (P>0.05), and Pearson correlation analysis showed no significant relationship between parity and birth weight (P>0.05). The calculated repeatability value for birth weight was 0.330, falling into the moderate category, which indicates a reasonably good level of consistency in birth weight across parities. MPPA calculations demonstrated variations in production potential among the Aceh cattle dams. The highest MPPA value was recorded for dam number 1779 at 19.59 kg, while the lowest was recorded for dam number 1741 at 15.50 kg. Based on the distribution of MPPA values, 12 dams (30.77%) fell into the high category, 14 dams (35.90%) into the medium category, and 13 dams (33.33%) into the low category. The variation in MPPA values indicates differences in production capability among the dams; thus, MPPA can serve as a basis for selecting superior breeding stock. Implementing selection based on MPPA is expected to support genetic quality improvement and the success of the Aceh cattle breeding program at BPTU-HPT Indrapuri.