Ikan tongkol merupakan komoditas pangan dengan kandungan air tinggi yang sangat rentan terhadap kerusakan mikrobiologis, sehingga memerlukan penanganan pascapanen yang tepat melalui metode pengeringan. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja mesin pengering bertingkat dengan kapasitas total 14 rak menggunakan tiga variasi jenis bahan bakar, yaitu gas lpg, arang kayu, dan batok kelapa. metode pengujian dilakukan selama 9 jam dengan interval waktu pengambilan data setiap 1,5 jam pada massa awal sampel ikan sebesar 1500 gram. pengamatan perubahan massa dan kadar air difokuskan pada rak 3, rak 7, dan rak 12 sebagai representasi distribusi posisi di dalam ruang kabinet pengering. pengaturan temperatur proses diterapkan secara bertahap menurun, di mana temperatur awal dikondisikan pada 80°c, kemudian diturunkan menjadi 70°c pada jam ke-1,5, dan selanjutnya diturunkan kembali menjadi 60°c pada jam ke-3 yang dipertahankan konstan hingga proses pengeringan selesai untuk mencegah terjadinya fenomena pengerasan permukaan luar ikan. hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bahan bakar berpengaruh signifikan terhadap penurunan kadar air ikan. setelah pengujian selama 9 jam, capaian kadar air akhir sampel menggunakan gas lpg berkisar antara 32–34%, batok kelapa sebesar 35–39%, dan arang kayu sebesar 39–42%. berdasarkan kemampuan menghantarkan panas dan kestabilan suhu yang dihasilkan di seluruh rak, dapat disimpulkan bahwa gas lpg merupakan bahan bakar yang paling efektif dan optimal untuk diaplikasikan pada sistem pengering bertingkat ini. kata kunci: pengeringan ikan, temperatur, kadar air, bahan bakar.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS KINERJA MESIN PENGERING IKAN BERTINGKAT DENGAN ENERGI BAHAN BAKAR BERVARIASI. Banda Aceh Fakultas Teknik Mesin,2026
Baca Juga : TEKNIK PENGERINGAN IKAN KAYU (KEUMAMAH) DENGAN MENGGUNAKAN VARIASI BAHAN BAKAR SEBAGAI ENERGI PANAS (Rizayani, 2024)
Abstract
Skipjack tuna is a food commodity with high moisture content that is highly susceptible to microbiological spoilage, making proper post-harvest handling through drying essential. This study aimed to analyze the performance of a multi-tier drying machine with a total capacity of 14 trays using three different types of fuel: LPG gas, wood charcoal, and coconut shell charcoal. The drying experiment was conducted for 9 hours, with data collected at 1.5-hour intervals using fish samples with an initial mass of 1,500 g. Changes in sample mass and moisture content were monitored on trays 3, 7, and 12, representing the lower, middle, and upper positions within the drying chamber. The drying temperature was gradually reduced throughout the process: initially maintained at 80°C, lowered to 70°C after 1.5 hours, and further reduced to 60°C after 3 hours, where it was kept constant until the end of the drying process to prevent surface hardening of the fish. The results showed that the type of fuel had a significant effect on the reduction of fish moisture content. After 9 hours of drying, the final moisture content ranged from 32–34% for LPG gas, 35–39% for coconut shell charcoal, and 39–42% for wood charcoal. Based on heat transfer performance and temperature stability across all trays, LPG gas was found to be the most effective and optimal fuel for application in this multi-tier drying system. Keywords: fish drying, temperature, moisture content, fuel type.
Baca Juga : KAJI EKSPERIMENTAL PENGARUH CAMPURAN BIODIESEL DARI BIJI BINTARO (CERBERA ODOLLAM GAERTN) TERHADAP KINERJA MESIN DIESEL (AULIA RIZKI, 2017)