Beton mutu ultra tinggi merupakan jenis beton yang memiliki kuat tekan lebih dari 90 mpa dan banyak digunakan pada struktur yang memerlukan kekuatan serta durabilitas tinggi. pada umumnya beton mengalami kerusakan seperti keretakan. kuat tarik belah adalah salah satu parameter penting yang digunakan untuk mengevaluasi kemampuan beton dalam menahan tegangan tarik. self healing concrete merupakan solusi inovatif mengatasi kerusakan struktural pada permukaan beton menggunakan bakteri ureolitik. bakteri ureolitik dapat menghasilkan kalsit dan diharapkan dapat menutupi keretakan yang terjadi pada beton. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi bakteri staphylococcus sp. sebagai media self-healing concrete terhadap kuat tarik belah beton mutu ultra tinggi. self healing concrete dengan metode enkapsulasi bakteri menggunakan tanah diatomae dengan kadar 0%, 0,5%, 0,6%, dan 0,7% dari berat semen serta nilai faktor air semen 0,19. benda uji yang digunakan berbentuk silinder berukuran 150 mm x 300 mm, 12 benda uji dengan campuran enkapsulasi bakteri staphylococcus sp., dan 4 benda uji tanpa campuran bakteri. perawatan dilakukan 24 jam setelah pengecoran beton dengan dilakukan perendaman benda uji selama 28 hari. pemberian retak awal dilakukan dengan pemberian kuat tekan maksimal 70% dari benda uji kontrol ultimit pada umur beton 7 hari. pengujian yang dilakukan adalah kuat tarik belah pada beton umur 35 hari pasca pemberian retak di umur 7 hari. hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tarik belah ultimit rata-rata beton pada variasi bakteri 0,0%; 0,5%; 0,6%; dan 0,7% adalah 6,64 mpa; 5,27 mpa; 6,15 mpa dan 4,35 mpa. beton dengan penambahan enkapsulasi bakteri staphylococcus sp. dengan persentase perbaikan retak mencapai 93,19% variasi 0,6%
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KONTRIBUSI BAKTERI STAPHYLOCOCCUS SP. SEBAGAI SELF-HEALING AGENT TERHADAP KUAT TARIK BELAH BETON MUTU ULTRA TINGGI. Banda Aceh Fakultas Teknik,2026
Baca Juga : PENINGKATAN KUAT TARIK BELAH BETON MUTU TINGGI MELALUI OPTIMALISASI BAKTERI DALAM SELF-HEALING CONCRETE (Andi Alepu, 2024)
Abstract
Ultra-high-performance concrete is a type of concrete with a compressive strength exceeding 90 MPa and is widely utilized in structures requiring high strength and durability. Generally, concrete experiences damage such as cracking. Splitting tensile strength is one of the critical parameters used to evaluate the concrete's ability to withstand tensile stress. Self-healing concrete offers an innovative solution to address structural damage on concrete surfaces using ureolytic bacteria. Ureolytic bacteria can produce calcite and are expected to seal the cracks that occur in concrete. This study aims to determine the contribution of *Staphylococcus* sp. bacteria as a self-healing concrete medium to the splitting tensile strength of ultra-high-performance concrete. The self-healing concrete was developed using the bacterial encapsulation method with diatomaceous earth at concentrations of 0%, 0.5%, 0.6%, and 0.7% of the cement weight, with a water-cement ratio of 0.19. The specimens used were cylindrical, measuring 150 mm x 300 mm, consisting of 15 specimens with the Staphylococcus sp. bacterial encapsulation mixture and 5 specimens without the bacterial mixture. Curing was conducted 24 hours after concrete casting by immersing the specimens for 28 days. Initial cracking was induced by applying a maximum compressive strength of 70% of the design strength at a concrete age of 7 days. The test performed was the splitting tensile strength test at a concrete age of 28 days. The results showed that the average ultimate splitting tensile strength of the concrete at bacterial variations of 0.0%, 0.5%, 0.6%, and 0.7% were 6.64 MPa, 5.27 MPa, 6.15 MPa, and 4.35 MPa, respectively. Concrete with the addition of Staphylococcus sp. bacterial encapsulation achieved a crack repair percentage of up to 93.19% at 0,6% variation.
Baca Juga : PENGGUNAAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS DALAM SELF HEALING CONCRETE TERHADAP KUAT TEKAN BETON MUTU ULTRA TINGGI (DINA PUTROE PHOEN, 2025)