Dua dekade setelah bencana tsunami aceh 2004, dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental penyintas masih terlihat, terutama terkait kerugian materil maupun non-materil. anak-anak yang mengalami peristiwa traumatis pada masa perkembangan merupakan kelompok rentan dengan risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan mental hingga dewasa. penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi kesehatan mental pada anak-anak penyintas tsunami aceh. metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif, melibatkan 147 sampel yang dipilih melalui purposive sampling. instrumen penelitian yang digunakan adalah mental health inventory versi 18 (mhi-18), dengan analisis data menggunakan uji chi-square. hasil penelitian menunjukkan bahwa 66 sampel (59,46%) berada pada kategori kesehatan mental rendah, dengan tekanan psikologis tinggi dan kesejahteraan psikologis rendah. analisis lebih lanjut tidak menemukan hubungan signifikan antara kesehatan mental dan faktor sosiodemografis seperti jenis kelamin, status pernikahan, jumlah pemasukan, maupun status penyintas. temuan ini mengindikasikan bahwa pemulihan kesehatan mental pascabencana merupakan proses yang kompleks dan berjangka panjang, dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar variabel sosiodemografis yang diteliti.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
DUA DEKADE PASCABENCANA: PREVALENSI KESEHATAN MENTAL DEWASA MUDA YANG MENGALAMI TSUNAMI ACEH 2004 PADA MASA ANAK-ANAK. Banda Aceh Fakultas Kedokteran,2026
Baca Juga : PERANAN RELIGIUSITAS SEBAGAI VARIABEL MODERATOR DALAM HUBUNGAN PEMAAFAN DENGAN KESEHATAN MENTAL PADA PENYINTAS BENCANA TSUNAMI 2004 DI ACEH (Priya Exsa, 2025)
Abstract
Two decades after the 2004 Aceh tsunami, long-term impacts on survivors’ mental health remain evident, particularly in relation to material and non-material losses. Children exposed to traumatic events during developmental stages are recognized as a vulnerable group with an elevated risk of experiencing mental health problems in adulthood. This study aimed to examine the prevalence of mental health conditions among child survivors of the Aceh tsunami. A quantitative descriptive design was employed, involving 147 samples selected through purposive sampling. The Mental Health Inventory version 18 (MHI-18) was used as the research instrument, and data were analyzed using chi-square tests. Findings revealed that 66 samples (59.46%) were categorized as having low mental health, characterized by high psychological distress and low psychological well-being. Further analysis did not identify significant associations between mental health status and sociodemographic factors such as gender, marital status, income level, or survivor status. These results indicate that post-disaster mental health recovery is a complex and prolonged process, influenced by factors beyond the sociodemographic variables examined in this study.
Baca Juga : GAMBARAN PERAN KELUARGA DENGEN ANAK RETARDASI MENTAL DI SDLB NEGERI LABUI BANDA ACEH TAHUN 2011 (Elisa Noviyanda, 2024)