Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
PUTRI LATIFA, FENOMENA LEMAHNYA LEMBAGA ADAT PADA KASUS PENGGREBEKAN RN(STUDI KASUS : KHALWAT DI GAMPONG LAMPOH KEUDE DAN GAMPONG BAET). Banda Aceh Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik,2026

Abstrak penelitian ini membahas fenomena lemahnya lembaga adat dalam mencegah tindakan main hakim sendiri pada kasus khalwat di gampong baet dan gampong lampoh keude, kabupaten aceh besar. meskipun lembaga adat memiliki kewenangan formal menyelesaikan kasus khalwat berdasarkan uupa, qanun aceh nomor 9 tahun 2008, dan skb pemerintah aceh, kepolisian, majelis adat aceh, masyarakat masih kerap melakukan pemukulan, pengeroyokan, pemerasan dan tindakan mempermalukan pelaku sebelum lembaga adat turun tangan. penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme kekuasaan lembaga adat dalam mencegah tindakan tersebut, menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang dianalisis dengan teori kekuasaan michel foucault dan konsep resam gampong. hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme pencegahan dijalankan melalui lima aspek sosialisasi peran lembaga adat, pemberian kewenangan kontrol sosial lewat konsep pagee gampong, koordinasi lembaga adat dengan masyarakat, kapasitas sdm lembaga adat serta legitimasi sosial lembaga adat yang kelimanya belum berjalan optimal akibat sosialisasi yang belum merata, batas kewenangan yang kabur, koordinasi yang lambat, kapasitas perangkat adat yang terbatas dan rendahnya kepercayaan masyarakat. penelitian ini menyimpulkan bahwa lemahnya lembaga adat mencerminkan pergeseran relasi kekuasaan antara lembaga adat dan masyarakat di tingkat gampong. kata kunci: lembaga adat, main hakim sendiri, khalwat, kekuasaan, resam gampong, pagee gampong



Abstract

ABSTRACT This study examines the weakness of customary institutions (lembaga adat) in preventing vigilante action (eigenrichting) in khalwat cases in Gampong Baet and Gampong Lampoh Keude, Aceh Besar Regency. Although customary institutions hold formal authority to resolve khalwat cases under the Aceh Governance Law, Aceh Qanun Number 9 of 2008, and the Joint Agreement between the Aceh Government, Police and Aceh Customary Council, communities frequently resort to beatings, mob assault, extortion and public humiliation before customary institutions intervene. Using a descriptive qualitative approach through observation, interviews, and documentation, this study analyzes the mechanism of power exercised by customary institutions using Michel Foucault's theory of power and the concept of resam gampong. The findings show that the prevention mechanism operates through four dimensions socialization of the institution's role, the granting of social-control authority via the pagee gampong concept, coordination with the community and social legitimacy all of which remain suboptimal due to uneven socialization, unclear authority boundaries, slow coordination and low community trust. The study concludes that this institutional weakness reflects a shifting power relation between customary institutions and the community at the village level. Keywords: Customary Institution, Vigilantism, Khalwat, Power, Resam Gampong, Pagee Gampong



    SERVICES DESK