Latar belakang: osteosarkoma merupakan tumor tulang ganas primer yang paling umum pada anak-anak dan remaja. doksorubisin merupakan agen kemoterapi standar, namun penggunaannya dibatasi oleh efek samping seperti kardiotoksisitas dan resistensi obat. salinomycin, suatu agen antikoksidial, baru-baru ini menunjukkan efek antikanker yang menjanjikan, terutama terhadap sel induk kanker (cscs), yang berperan dalam resistensi kemoterapi dan kekambuhan. penelitian ini bertujuan untuk membandingkan sensitivitas dan efek sitotoksik salinomycin dan doxorubicin pada sel osteosarkoma manusia u2os secara in vitro. metode: penelitian laboratorium eksperimental ini menggunakan rancangan kelompok kontrol posttest-only. sel u2os dikultur dan dibagi menjadi empat kelompok: kelompok kontrol (tanpa perlakuan), kelompok yang diberi perlakuan doxorubicin (0,1 \mu\text{m}), dan dua kelompok yang diberi perlakuan salinomycin (0,005 \mu\text{m} dan 0,0125 \mu\text{m}). sitotoksisitas dan konsentrasi penghambatan setengah maksimal (ic50) ditentukan menggunakan uji mtt. viabilitas sel dinilai menggunakan hemocytometer. data dianalisis menggunakan uji anova satu arah dan uji post hoc lsd. hasil: uji mtt menunjukkan nilai ic50 untuk salinomycin dan doxorubicin masing-masing sebesar 0,0125 \mu\text{m} (inhibisi 42,53%) dan 0,1 \mu\text{m} (inhibisi 38,34%). analisis hemocytometer menunjukkan penurunan viabilitas sel yang signifikan pada semua kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol (p < 0,001). kelompok salinomycin 0,005 \mu\text{m} menunjukkan viabilitas sel terendah (2,1 \pm 0,35 \times 10^4 sel), yang secara signifikan lebih rendah daripada kelompok doxorubicin (11 \pm 1,5 \times 10^4 sel) dan kelompok salinomycin 0,0125 \mu\text{m} (9,5 \pm 1,0 \times 10^4 sel). kesimpulan: salinomycin menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap sel osteosarkoma u2os secara in vitro dibandingkan dengan doxorubicin. temuan ini menunjukkan bahwa salinomycin, terutama pada dosis yang lebih rendah (0,005 \mu\text{m}), merupakan agen yang poten dan layak untuk diteliti lebih lanjut sebagai pilihan terapi potensial untuk osteosarkoma, mungkin dalam terapi kombinasi untuk mengatasi resistensi terhadap doxorubicin. kata kunci: osteosarkoma, salinomycin, doksorubisin, sitotoksisitas, sel u2os
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
THESES
PERBANDINGAN SENSITIVITAS SALINOMYCIN DAN DOXORUBICIN PADA KULTUR SEL OSTEOSARKOMA (U2OS) SECARA IN VITRO. Banda Aceh PPDS Ortopedi dan Traumatologi,2026
Baca Juga : INDUKSI TUNAS GAHARU (AQUILARIA SP.) DENGAN BAP SECARA IN VITRO (Dewiyana, 2024)
Abstract
Background: Osteosarcoma is the most common primary malignant bone tumor in children and adolescents. Doxorubicin is a standard chemotherapeutic agent but is limited by side effects like cardiotoxicity and drug resistance. Salinomycin, an anti-coccidial agent, has recently shown promising anti-cancer effects, particularly against cancer stem cells (CSCs), which are implicated in chemotherapy resistance and recurrence. This study aimed to compare the sensitivity and cytotoxic effects of salinomycin and doxorubicin on human osteosarcoma U2OS cells in vitro. Methods: This experimental laboratory study used a posttest-only control group design. U2OS cells were cultured and divided into four groups: a control group (no treatment), a group treated with doxorubicin (0.1 µM), and two groups treated with salinomycin (0.005 µM and 0.0125 µM). Cytotoxicity and the half-maximal inhibitory concentration (IC50) were determined using the MTT assay. Cell viability was assessed using a hemocytometer. Data were analyzed using One-Way ANOVA and Post Hoc LSD tests. Results: The MTT assay showed the IC50 values for salinomycin and doxorubicin were 0.0125 µM (42.53% inhibition) and 0.1 µM (38.34% inhibition), respectively. Hemocytometer analysis revealed a significant decrease in cell viability in all treatment groups compared to the control (p
Baca Juga : UJI SENSITIVITAS MADU HUTAN (POLIFLORA) ACEH RNTERHADAP DAYA HAMBAT STAPHYLOCOCCUS AUREUS RNSECARA IN VITRO (FADHMI, 2015)