Penggunaan obat psikofarmaka, khususnya antipsikotik atipikal, dalam jangka panjang sering kali dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik, salah satunya adalah perubahan tekanan darah (hipertensi). penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi, pola penggunaan obat, serta menganalisis hubungan penggunaan terapi psikofarmaka terhadap perubahan tekanan darah pada pasien gangguan jiwa di rumah sakit jiwa aceh. penelitian ini menggunakan desain observasional analitik secara prospektif longitudinal selama tiga bulan (pengukuran baseline hingga bulan ke-3). sampel penelitian berjumlah 11 pasien rawat jalan yang ditarik menggunakan teknik total sampling. data dianalisis secara statistik menggunakan uji non-parametrik cochran's q test. hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kejadian hipertensi pada baseline sebesar 18,18%. selama tiga bulan pemantauan, teridentifikasi 9,09% pasien mengalami peningkatan tekanan darah sistolik hingga batas hipertensi tahap 1, sementara 81,82% pasien lainnya stabil pada rentang normal hingga pra-hipertensi. pola kombinasi obat yang paling banyak diresepkan adalah risperidone dan lorazepam (18,18%), serta ditemukan insidensi polifarmasi ekstrem (kombinasi 5 obat) sebesar 9,09%. uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan proporsi status tekanan darah yang bermakna secara signifikan akibat intervensi terapi selama tiga bulan (p-value sistolik = 0,3916; diastolik = 1,000). kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa durasi paparan psikofarmaka selama tiga bulan pertama masih merupakan fase adaptasi metabolik awal dan belum cukup kronis untuk memicu kerusakan vaskular permanen. pemantauan tekanan darah berkala dan pengawasan kepatuhan minum obat oleh keluarga sangat disarankan. kata kunci: psikofarmaka, tekanan darah, hipertensi, gangguan jiwa.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
HUBUNGAN PENGGUNAAN OBAT PSIKOFARMAKA TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN GANGGUAN JIWA DI RUMAH SAKIT JIWA ACEH. Banda Aceh Fakultas mipa,2026
Baca Juga : DETERMINAN KEKAMBUHAN PASIEN DENGAN GANGGUAN JIWA DI RSJ ACEH TAHUN 2023 (Muhibuddin, 2023)
Abstract
Long-term use of psychotropic drugs, particularly atypical antipsychotics, is frequently associated with an increased risk of metabolic syndrome, including blood pressure changes (hypertension). This study aimed to identify the prevalence, drug use patterns, and analyze the relationship between psychotropic therapy and blood pressure changes in mental disorder patients at Aceh Mental Hospital. An observational analytic study with a prospective longitudinal design over three months (baseline to 3rd-month observation) was conducted. The sample consisted of 11 outpatients selected using the total sampling technique. Data were statistically analyzed using the non-parametric Cochran's Q Test. The results showed that the prevalence of hypertension at baseline was 18.18%. During the three-month monitoring, 9.09% of patients experienced an increase in systolic blood pressure to stage 1 hypertension, while 81.82% remained stable in the normal to pre-hypertension range. The most frequently prescribed drug combination was risperidone and lorazepam (18.18%), with an incidence of extreme polypharmacy (5-drug combination) found at 9.09%. Statistical tests indicated no significant difference in the proportion of blood pressure status due to therapeutic intervention over the three months (systolic p-value = 0.3916; diastolic p-value = 1.000). This study concludes that the three-month duration of psychotropic exposure represents an initial metabolic adaptation phase and is not chronic enough to trigger permanent vascular damage. Periodic blood pressure monitoring and caregiver supervision of medication adherence are highly recommended. Keywords: Psychopharmaceuticals, Blood Pressure, Hypertension, Mental Disorders.
Baca Juga : GAMBARAN PENERAPAN PRINSIP TUJUH BENAR PEMBERIAN OBAT OLEH PERAWAT KEPADA PASIEN DI RUMAH SAKIT JIWA ACEH (Cut Firly Putri Uzira, 2023)