Kegiatan pertambangan merupakan salah satu faktor penyebab deformasi tanah yang dapat mengganggu stabilitas lereng dan keselamatan kerja, sehingga diperlukan pemantauan berkelanjutan. pemanfaatan drone untuk pemantauan dengan metode fotogrametri banyak digunakan karena mampu menghasilkan data spasial yang detail, namun masih memiliki keterbatasan seperti ketergantungan pada kondisi cuaca dan pengukuran lapangan. sebagai alternatif, metode berbasis radar seperti interferometric synthetic aperture radar (insar) dapat digunakan untuk pemantauan deformasi tanah dengan cakupan luas, efisiensi biaya dan waktu, serta kemampuan akuisisi data pada kondisi cuaca apapun. penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis perbedaan nilai deformasi dengan menggunakan metode fotogrametri dan metode interferometric synthetic aperture radar (insar) dalam mendeteksi perubahan tanah di area tambang. penelitian dilakukan terhadap 200 titik sampel yang ditempatkan di area tambang pt semen padang. data yang diperoleh diolah menggunakan software quantum gis dan sentinel application platform (snap). citra hasil pengolahan dengan menggunakan kedua metode sangat berbeda secara visual. metode insar mampu memberikan gambaran perubahan tanah di area tambang, namun masih terbatas pada nilai yang homogen dan kurang sesuai dengan keadaan di lapangan. berdasarkan data hasil pengolahan, rata-rata deformasi yang terjadi adalah sebesar -0,246 m dan rata-rata kecepatan deformasi yang terjadi adalah -0,0013 m/hari menggunakan metode fotogrametri. sedangkan dengan metode insar, rata-rata deformasi yang terjadi adalah -0,052 m dan rata-rata kecepatan deformasinya adalah -0,00031 m/hari. rmse yang diperoleh dari hasil pengolahan data adalah sebesar 1,714 m. berdasarkan hasil yang diperoleh, metode fotogrametri masih lebih unggul dibanding insar karena memiliki akurasi data perubahan tanah yang lebih akurat.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS PERBANDINGAN DEFORMASI TANAH PADA TAMBANG BATU GAMPING MENGGUNAKAN METODE FOTOGRAMETRI DAN INTERFEROMETRIC SYNTHETIC APERTURE RADAR (INSAR) DI PT SEMEN PADANG. Banda Aceh Fakultas Teknik,2026
Baca Juga : ANALISIS MODEL MAGMATIK LETUSAN GUNUNG MARAPI, SUMATERA BARAT TAHUN 2023 BERDASARKAN METODE DIFFERENTIAL INTERFEROMETRIC SYNTHETIC APERTURE RADAR (D-INSAR) (Syabrina Meizal Putri, 2024)
Abstract
Mining activities are one of the factors causing land deformation that can disrupt slope stability and work safety, so continuous monitoring is necessary. The use of drones for monitoring with photogrammetry methods is widely used because it can produce detailed spatial data, but still has limitations such as dependence on weather conditions and field measurements. As an alternative, radar-based methods such as Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) can be used to monitor land deformation with wide coverage, cost and time efficiency, and the ability to acquire data in any weather conditions. This study aims to analyze the differences in deformation values using the Photogrammetry method and the Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) method in detecting land changes in the mining area. The study was conducted on 200 sample points placed in the PT Semen Padang mining area. The data obtained were processed using Quantum GIS software and the Sentinel Application Platform (SNAP). The processed images using the two methods are very different visually. The InSAR method is able to provide an overview of land changes in the mining area, but is still limited to homogeneous values and does not match the conditions in the field. Based on the processed data, the average deformation that occurred was -0.246 m and the average deformation speed that occurred was -0.0013 m/day using the Photogrammetry method. Meanwhile, with the InSAR method, the average deformation that occurred was -0.052 m and the average deformation speed was -0.00031 m/day. The RMSE obtained from the data processing results was 1.714 m. Based on the results obtained, the photogrammetry method is still superior to InSAR because it has more accurate land change data accuracy.
Baca Juga : ANALISA PENGELOLAAN USAHA PENAMBANGAN BATUAN DI KECAMATAN PEUKAN BADA, KABUPATEN ACEH BESAR (Delangga Benimi Liardo, 2019)