Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
SRI RAHMA FARDHILLAH, PENERAPAN KONSEP METAFORA PADA VISUALISASI TARI RAPAI GELENG MENJADI MOTIF KHAS ACEH BARAT DAYA. Banda Aceh Fakultas KIP,2026

Tari rapai geleng merupakan warisan budaya tak benda yang lahir di kecamatan manggeng, aceh barat daya, memadukan seni musik rapai debus dan dalail khairat dengan harmonisasi gerakan ritmis yang sarat makna filosofis. seiring perkembangan globalisasi, generasi muda aceh barat daya mengalami penurunan pemahaman terhadap asal-usul tarian ini sebagai identitas budaya daerah. penelitian ini bertujuan mengeksplorasi penerapan konsep metafora visual dalam mentransformasikan visualisasi tari rapai geleng menjadi motif tekstil khas aceh barat daya sebagai upaya inovatif pelestarian warisan budaya. penelitian menggunakan metode eksperimen terapan dengan pendekatan kualitatif, melibatkan tahapan dokumentasi visual, pembuatan sketsa, stilisasi, dan pengaplikasian warna simbolis. pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan eksperimen terapan. subjek penelitian berjumlah 4 orang, terdiri dari majelis adat aceh, dosen konsentrasi tata busana pkk fkip usk, serta duta wisata aceh barat daya tahun 2024 dan 2025. analisis data dilaksanakan secara deskriptif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep metafora berhasil mentransformasikan gerakan tari temporal menjadi motif visual tetap dengan mempertahankan esensi filosofis melalui penerjemahan atribut fisik, struktural, dan emosional. sembilan penari yang memegang alat musik rapai pada gerakan melingkar motif rapai geleng melambangkan sembilan kecamatan di kabupaten aceh barat daya, mencerminkan kesatuan dan keharmonisan wilayah dalam ikatan budaya yang kuat. penelitian menghasilkan dua variasi motif rapai geleng yang diintegrasikan dengan motif padi sigupai dan rumpun biluluk, menciptakan narasi visual komprehensif tentang identitas budaya aceh barat daya. penerapan motif pada produk fesyen dilakukan menggunakan teknik digital printing dengan kain busway dan satin bridal, menghasilkan produk yang memenuhi standar estetika dan fungsionalitas. informan memberikan respons positif terhadap aspek pelestarian budaya, kualitas desain, serta potensi pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata daerah. penelitian membuktikan bahwa transformasi seni pertunjukan ke dalam media visual dapat dilakukan tanpa kehilangan makna filosofis, menyediakan kerangka analitis bagi desainer dalam menciptakan motif tekstil berbasis warisan budaya, berkontribusi pada pengembangan identitas visual daerah dan pertumbuhan industri kreatif berbasis budaya lokal di aceh barat daya, sekaligus berfungsi sebagai media edukasi efektif untuk memperkenalkan kembali warisan budaya tari rapai geleng kepada generasi muda melalui produk fesyen yang relevan dan diminati. kata kunci: konsep metafora visual, tari rapai geleng, motif khas aceh barat daya



Abstract

Rapai Geleng dance constitutes an intangible cultural heritage originating from Manggeng District, Aceh Barat Daya, amalgamating the musical art of Rapai Debus and Dalail Khairat with rhythmic movements imbued with philosophical significance. Concurrent with globalization, younger generations in Aceh Barat Daya experience declining comprehension regarding this dance as regional cultural identity. This research explores visual metaphor application in transforming Rapai Geleng dance visualization into distinctive textile motifs of Aceh Barat Daya as an innovative cultural heritage preservation endeavor. The research employs applied experimental methods with qualitative approaches, encompassing visual documentation, sketching, stylization, and symbolic color application. Data collection was conducted through observation, in-depth interviews, documentation, and applied experiments. Research subjects numbered four individuals: the Aceh Customary Council, a fashion design lecturer from Family Welfare Education Department, Faculty of Teacher Training and Education, Syiah Kuala University, and Aceh Barat Daya Tourism Ambassadors for 2024 and 2025. Data analysis was executed descriptively through data reduction, presentation, and conclusion drawing. Findings demonstrate that metaphor concepts successfully transformed temporal dance movements into permanent visual motifs while maintaining philosophical essence through physical, structural, and emotional attribute translation. Nine dancers holding Rapai musical instruments in the circular movement of the Rapai Geleng motif symbolize nine districts in Aceh Barat Daya Regency, reflecting regional unity and harmony within strong cultural bonds. The research produced two Rapai Geleng motif variations integrated with Padi Sigupai and Rumpun Biluluk motifs, creating comprehensive visual narratives concerning Aceh Barat Daya cultural identity. Motif application on fashion products utilized digital printing techniques with busway and satin bridal fabrics, yielding products fulfilling aesthetic and functionality standards. Informants provided positive responses regarding cultural preservation aspects, design quality, and potential for creative economy and regional tourism development. The research substantiates that performing arts transformation into visual media can be accomplished without philosophical meaning loss, providing analytical frameworks for designers in creating cultural heritage-based textile motifs, contributing to regional visual identity development and culture-based creative industry growth in Aceh Barat Daya, while functioning as an effective educational medium to reintroduce Rapai Geleng dance cultural heritage to younger generations through relevant and appealing fashion products. Keywords: Visual metaphor concept, Rapai Geleng dance, Distinctive Motif of Aceh Barat Daya



    SERVICES DESK