Latar belakang: bencana dan konflik bersenjata menghadirkan tantangan besar bagi sistem kesehatan, yang sering kali memerlukan keterlibatan relawan mahasiswa kedokteran. meskipun keterlibatan mereka memberikan dukungan kemanusiaan dan peluang pembelajaran, hal ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan, batasan etik, dan dampak psikologis. tujuan: artikel ini mengeksplorasi pengalaman seorang mahasiswa kedokteran relawan di gaza selama konflik 2023–2025, dengan menyoroti manfaat, tantangan, dan implikasinya bagi pendidikan kedokteran. presentasi kasus: ahmed aburokbah, seorang mahasiswa kedokteran tahun ketiga, menjadi relawan di rumah sakit indonesia di gaza utara setelah studinya terhenti akibat perang. tanggung jawabnya mencakup pelayanan gawat darurat, bantuan ortopedi, penjadwalan operasi, penerjemahan, dan tindak lanjut pascaoperasi. salah satu kasus penting yang ditanganinya adalah trauma. melalui pengalaman ini, ia memperoleh keterampilan klinis dan penguatan pribadi yang signifikan. namun, dia juga dihadapkan dengan dilema etik dan tekanan psikologis. kesimpulan: pengalaman ahmed menggambarkan dua sisi relawan medis di zona konflik yakni meningkatkan kompetensi klinis, membangun ketangguhan, dan memperkuat identitas profesional, tetapi juga menimbulkan risiko emosional, etis, dan hukum yang substansial. pelatihan sebelum penugasan menjadi relawan, dukungan psikologis yang terstruktur, dan penentuan tugas/peran yang jelas sangat penting untuk memaksimalkan manfaat sekaligus meminimalkan risiko. kata kunci: bencana, etik, kompetensi, konflik, perang, resiliensi.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PENGALAMAN MAHASISWA KEDOKTERAN MENJADI SUKARELAWAN DI GAZA, PALESTINA. Banda Aceh Fakultas Kedokteran,2026
Baca Juga : TINGKAT KEPUASAN MAHASISWA TERHADAP SARANA, PRASARANA, DAN PELAYANAN AKADEMIK (STUDI PADA MAHASISWA PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SYIAH KUALA) (RIYADH REZA IRVANDI, 2023)
Abstract
Background: Disasters and armed conflicts pose significant challenges to healthcare systems, frequently requiring the involvement of medical student volunteers. While their involvement offers humanitarian support and learning opportunities, it also raises questions regarding preparedness, ethical boundaries, and psychological impact. Aim: This paper explores the experiences of a medical student volunteer in Gaza during the 2023–2025 conflict, highlighting the benefits, challenges, and implications for medical education. Case Presentation: Ahmed Aburokba, a third-year medical student, volunteered at the Indonesian Hospital in Northern Gaza after his studies were disrupted by the ongoing war. His responsibilities spanned emergency care, orthopedic assistance, surgical scheduling, translation, and post-operative follow-up. Notably, he managed trauma cases requiring multidisciplinary coordination and witnessed significant clinical and personal growth. His role, however, exposed him to ethical dilemmas and psychological stress. Conclusion: Ahmed’s experience illustrates the dual-edged nature of medical volunteering in conflict zones: it accelerates clinical competence, fosters resilience, and strengthens professional identity, but also exposes students to substantial emotional, ethical, and legal risks. Structured pre-deployment training, psychological support, and clear role definitions are essential to maximize benefits while minimizing harm. Keywords: competence, conflict, disaster, ethics, resilience, war.
Baca Juga : PENGETAHUAN DAN SIKAP MAHASISWA KEPANITERAAN KLINIK SENIOR FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA TENTANG DOKTER LAYANAN PRIMER (MUTHIA RANA ZAHRA, 2017)