Xi abstrak pemerintah kota banda aceh pada periode 2017–2022 tercatat meninggalkan utang pemerintah. berdasarkan hasil audit bpk ri perwakilan aceh tahun 2021, pemerintah kota banda aceh masih menyisakan utang sebesar rp23 miliar dari total rp158 miliar. kondisi ini menjadi sorotan publik dan menimbulkan berbagai pertanyaan. adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah membahas perihal apa saja faktor penyebab terjadinya peningalan utang serta bagaining politik yang terjadi antara eksekutif-legislatif-pihak ketiga yang mempengaruhi terjadinya peninggalan utang tersebut. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab terjadinya peninggalan utang pada pemerintah kota banda aceh selama periode 2017–2022 serta mengidentifikasi bagaimana proses bargaining politik yang berlaku antara eksekutif-legislatif-pihak ketiga. adapun teori yang digunakan pada penelitian adalah teori kepemimpinan dan teori bargaining politik. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui studi wawancara dan dokumentasi. hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama peninggalan utang meliputi penyusunan anggaran pendapatan belanja daerah (apbk) yang tidak realistis, penurunan pendapatan asli daerah (pad) akibat pandemi covid-19, kebijakan recofusing anggaran dari pemerintah pusat, perencanaan anggaran yang kurang akurat, keterlambatan pencairan dana, serta kendala administrasi. bargaining politik yang terjadi antara antara eksekutiflegislatif-pihak ketiga (rekanan) terbukti mempengaruhi kebijakan atas penyebab peninggalan utang, di mana eksekutif berupaya mengejar pembangunan melalui strateginya dengan membuat perencaan anggaran yang tinggi dan tidak realistis demi mengejar citra pembangunan (spoils) sekalipun pemerintah tahu bahwa pendapatan daerah tidak mampu mengimabangi rencana belanja yang tinggi tersebut. imbasnya, pihak rekanan mulai mengalami krisi kepercayaan untuk menjalankan proyek apabila tidak diiringi dengan rencana pembayaran yang final (tidak dalam bentuk utang). kata kunci: utang pemerintah kota, tata kelola anggaran, bargaining politik
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS PENYEBAB TERJADINYA PENINGGALAN UTANG DI PEMERINTAH KOTA BANDA ACEH PADA PERIODE TAHUN 2017-2022. Banda Aceh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala,2026
Baca Juga : PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP PELAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH (STUDI PADA MAHASISWA JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SYIAH KUALA) (m. chalis, 2016)
Abstract
ABSTRACT The Banda Aceh City Government recorded outstanding governmental debt during the 2017–2022 period. According to the audit results by the Audit Board of the Republic of Indonesia (BPK RI) Aceh Representative in 2021, the Banda Aceh City Government still had an outstanding debt of Rp23 billion out of a total of Rp158 billion. This condition has garnered public attention and raised various questions. The research problem of this study focuses on identifying the factors causing the debt accumulation and analyzing the political bargaining that occurred among the executive, legislative bodies, and third parties, which contributed to this outcome. This research aims to analyze the causes of the outstanding debt in the Banda Aceh City Government during the 2017–2022 period and to identify the process of political bargaining taking place among the executive, legislative bodies, and third parties. The theoretical frameworks applied in this research are the Leadership Theory and the Political Bargaining Theory. This study utilizes a descriptive qualitative approach, collecting data through interviews and documentation studies. The findings indicate that the main causes of the outstanding debt include the unrealistic formulation of the Regional Revenue and Expenditure Budget (APBK), a decrease in Local Revenue (/PAD) due to the COVID-19 pandemic, the central government's budget refocusing policy, inaccurate budget planning, delayed fund disbursement, and administrative constraints. The political bargaining among the executive, legislative, and third parties (contractors) was proven to influence the policy leading to the debt accumulation. Specifically, the executive pursued development targets by employing a high and unrealistic budget plan (a strategy to achieve the spoils/public image of development) despite knowing that regional revenues could not match the high expenditure plan. Consequently, contractors began to experience a crisis of confidence in undertaking projects unless accompanied by a final payment plan (not in the form of debt). Keywords: Local Government Debt, Budget Governance, Political Bargaining
Baca Juga : PENGARUH JUMLAH PDRB DAN TINGKAT KEMISKINAN TERHADAP APBK KOTA BANDA ACEH (Muhammad Alkindi, 2018)